Inspirasi Tanpa Batas

Bersikap Terbuka Pintu Menuju Kebahagiaan | Takwa Part-6

0 17

BERSIKAP Terbuka. Ciri kemukminan lain adalah karakternya yang terbuka dan membuka diri atas setiap ucapan, perbuatan dan berbagai tindakan yang dilakukannya. Ia tidak tertutup dan tidak menutup diri akan segenap kebenaran yang mungkin datang terlambat dan datang bukan berasal dari diri nya sendiri. Ia membuka pintu hatinya akan kemungkinan kebenaran yang datang dari pihak lain. Ia rela melakukan evaluasi dan bahkan meta evaluasi terhadap apa yang dianggapnya selama ini benar.

Ciri manusia mukmin yang terbuka ini, akan menjadi pembeda yang paling nyata. Antara orang yang dinyatakan mukmin dengan masyarakat yang selalu rejektif (kafir) akan suatu kebenaran. Hal ini setidaknya dapat dibaca dari firman Allah Swt dalam al Qur’an, yang mampu saya fahami, yakni surat al Baqarah [2]: 6. Arti bebasnya adalah: “Sesungguhnya orang kafir itu adalah mereka yang memiliki karakter tertutup, sehingga diberi tahu atau tidak diberi tahu, mereka akan tetap tidak beriman akan suatu kebenaran”.

Kata Mukmin dan Kafir itu Netral

Dengan nalar tadi, maka, kemukminan dan kekafiran sesungguhnya memiliki posisi yang netral. Kata mukmin sangat mungkin dimiliki mereka yang mengikuti agama Adam sampai dengan agama nabi terakhir, yakni Nabi Muhammad. Namun demikian, dalam perpektif lain, kata kafir juga sama. Ia sangat mungkin berlaku untuk mereka yang mengikuti agama Nabi Muhammad, Isa, Yahya dan seterusnya. Sampai kepada pengikut agama Nabiyullah pertama yakni Adam.

Dengan kata lain, siapapun di antara umat manusia yang selalu memiliki kelenturan, ketegasan yang lemah lembut, argumentatif karena idenya siap didiskusikan, terbuka dalam menerima gagasan dan ide pihak lain, lepas dia mengikuti agama Musa, Isa atau Muhammad, tetap harus dipandang sama sebagai seorang mukmin.

Namun, jika di antara kita, jauh dari karakter yang seperti itu, maka, agama apapun yang dia anut, ia tidak mungkin dapat disebut sebagai mukmin. Karena ia tidak disebut mukmin, maka, gelarnya adalah ia pasti seorang yang kafir. Jenis manusia seperti inilah yang akan selalu berjarak bukan saja dengan Tuhannya, tetapi, akan berjarak dengan sesama manusia lain. Karena itu, kemukminan, seharusnya akan menjadi tipikal manusia hari ini dan manusia masa depan. ** (Prof. Cecep Sumarna)

Komentar
Memuat...