Inspirasi Tanpa Batas

Bertemu Adam Saat Mabit di Muzdalifah| Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 21

37 71

Konten Sponsor

Bertemu Adam saat Mabit di Muzdalifah. Mabit secara Bahasa berarti bermalam. Pelaksanaan mabit ini, dilangsungkan pada malam tanggal 09 Dzul Hijjah. Tempatnya di Mudzdalifah. Kata ini menjadi demikian masyhur di kalangan masyarakat Muslim, karena istilah dimaksud, masuk dalam rangkaian ibadah haji. Mabit haji berarti bermalam di Mina.

Shofi dengan tubuh yang sangat lemah, bergumam kepada anaknya. Wahai anakku, meski mabit tidak termasuk ke dalam rukun haji, tetapi, kita harus ikut melaksanakannya. Selain karena tentu kita menjadi penasaran, tetapi, juga karena rasulullah memberi contoh atasnya. Ini masuk ke dalam wajib haji. Kalau kamu meninggalkannya, berarti kia harus membayar dzam. Landasannya adalah sebuah hadits yang teksnya sebagai berikut:

“Hadits Rasulullah shalallahu alaihi wassalam melalui periwayatan Abu Dawud bersabda: “Siapa yang ikut shalat bersama kami seperti ini, lalu wukuf bersama kami hingga berangkat, dan dia telah wukuf sebelum itu di Arafah malam dan siangnya, maka hajinya telah sah dan telah dibersihkan dari kotoran (tahallul).”. Dalam konteks ini, Rasulul Muhammad tidak menyebutkan mabit di Mina pada malam sembilan. Ini menunjukkan bahwa perkara tersebut bukan rukun haji.”

Crhonos dan bapaknya, Shofi bersama seluruh jama’ah, tepat pada pukul 18.00 dengan sangat bergegas meninggalkan Arofah. Mereka segera melakukan perjalanan menuju Muzdalifah untuk melakukan mabit.

Shofi meminta kepada Crhonos untuk menjama’ shalat maghrib. Karena menurutnya, hal dimaksud dapat disebut dengan sunnah. Coba kamu baca hadits dalam periwayatan abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ad-Daruquthni. Mereka semua meriwayatkan suatu uangkapan akan fi’li rasul dalam kalimat berikut ini: Apabila Rasul Muhammad hendak berangkat sebelum Maghrib, maka ia mengakhirkan Maghrib sehingga mengerjakan bersama Isya’. Namun apabila dia berangkat setelah Maghrib, maka ia menyegerakan Isya’ dan melakukan shalat Isya’ bersama Maghrib”.

Meski jarak antara Arofah dan Muzdalifah itu dekat, namun perjalanan menuju tempat dimaksud bukan hal mudah. Ini mungkin menjadi perjalanan yang benar-benar melelahkan. Lelah bukan karena jauh. Tetapi lebih karena macet. Saat inilah jutaan manusia menuju Muzdalifah untuk mabit berjalan dan bergerak bersama. Saat perjalanan ini pula, jama’ah dianjurkan mengambil kerikil untuk bekal melontar jumrah.

Keluasan dalam Segenap Keterbatasan

Crhonos begitu bersemangat menjalani semua prosesi ini. Waktu benar-benar dihabiskan untuk mengukur pelaksanaan hajinya. Ia takut dan khawatir ada kewajiban apalagi rukun haji yang tidak dia tunaikan. Atau gugur karena sesuatu hal, sehingga membatalkan pelaksanaan haji yang dia lakukan di tahun itu.

Crhonos selalu menggandeng Shofi. Sementara Vetra, terus menerus menggandeng Siti. Keduanya tidak boleh terpisahkan. Jutaan manusia berada di tempat yang sama. Gemuruh talbiyah yang memang disunnahkan untuk dikeraskan, dibaca seluruh jama’ah sedunia yang hadir pada waktu itu.

Bulu kuduk spiritual pastilah akan terjadi pada semua manusia. Beriringan dengan waktu yang terus bergulir, perjalanan di malam hari itu begitu terasa menusuk tulang-tulang manusia. Hanya dimensi ruhiyah manusia yang masih menganggap bahwa perjalanan semacam ini, mampu ditunaikan. Shofi kembali mengeluarkan suatu maklumat yang kadang membuat Crhonos bingung. Maklumatnya itu terlihat dalam bentuk kalimat berikut ini:

“Ya Allah aku percaya … aku mampu menjalani ini. Ditinjau dari nalar fisik, jangankan aku, mereka yang masih sangat muda dan kekar sekalipun, pastilah akan sulit memahami bagaimana fisik mereka jika tidak didorong oleh motif spiritual. Motif ini telah memblok seluruh aktivitas biologi kemanusiaan aku sebagai manusia. Sehingga tidak ada kekuatan kecuali menyatunya diri-Mu ke dalam ruhku. Berilah kami kekuatan. Terimalah ibadah kami ini. Semoga Kau berkenan menjadikannya sebagai bentuk rasa syukur kami kepada-Mu.

Saat Shofi menengadahkan tangan seperti itu, Crhonos begitu asyiknya memungut satu persatu batu kerikil yang terdapat di sekitar Muzsalifah. Angin bukan hanya sekedar berdesir, tetapi meronta demikian keras. Ia menyapu seluruh pasir yang terdapat di bukit di mana jama’ah tinggal. Sehingga sering kali, terhisap hidung dan kadang masuk ke rongga mata. Ia terus menerus memasukkan batu ke dalam kantong kecil, terbuat dari kain berwarna putih.

Sampailah akhirnya jama’ah haji ke sebuah Tenda besar yang sangat berdebu. Beralaskan tembikar yang juga sangat berdebu. Crhonos sebenarnya mengkhawatirkan Bapaknya-Shofi, yang terus semakin hari bahkan perubahan menit semakin melemah. Ia membopongnya masuk ke dalam tenda itu, lalu membiarkannya tinggal di dalam bersama dengan Siti. Sementara itu, ia bersama istrinya Vetra, tetap melengkapi seluruh kebutuhan batu kerikil yang akan dibawanya ke Mina besok pagi.

Mengapa Bernama Muzdalifah

Tidak ada satupun jama’ah yang mampu tidur. Termasuk tentu saja Crhonos dan keluarga Shofi.  Jama’ah kebanyakan hanya berselonjoran di tenda. Banyak jama’ah haji laki-laki yang sudah tua, kadang pakaian ihramnya sudah tidak lagi teratur. Sehingga terbuka kemungkinan untuk dilihat oleh siapapun.

Di tenda yang dihuni jama’ah, bukan hanya sekedar berdesak-desakan, tetapi, juga kadang bertemu dengan pegawai-pegawai pemerintah Arab Saudi yang kurang sopan menurut ukuran kesopanan masyarakat Indonesia. Negara dalam hal ini petugas haji yang dikirim untuk membimbing ibadah haji, tidak hadir. Malah yang banyak membantu jama’ah secara umum adalah petugas dari KBIH masing-masing.

Di Muzdalifah, Crhonos kembali betafakur. Ia mencari esensi pelaksanaan ibdah haji. Ia mendekati Shofi dan bertanya tentang Muzdalifah. Dengan suara yang sangat pelan, dan kadang terpotong-potong, Shofi berkata:

Muzdalifah adalah bentuk jamak dari kata izdilaf. Artinya adalah perkumpulan [jamaah semua berkumpul] atau mendekat [bermakna manusia mendekati Tuhannya]. Muzdalifah karena itu, sering disebut sebagai tempat singgah. Jama’ah haji diwajibkan bermalam, setelah bertolak dari Arafah pada malam hari.

Meski aku tidak melihat secara langsung di lapangan, karena keterbatasanku, tetapi menurut berbagai bacaan yang saya fahami, Muzdalifah letaknya berada di antara Ma’zamain (dipisah dua gunung yang saling berhadapan). Gunung itu Arafah dan lembah Muhassir. Ia berbentuk jalan sempit. Coba kamu baca pikiran Imam Syafi’i [al-Umm] yang menyebut Muzdalifah sebagai Ma’zamain Arafah hingga perbatasan Muahassir. Kamu disunnahkan berjalan cepat di Muhassir. Ini adalah suatu tempat di mana Syeitan diyakini berlindung didalamnya. Di tempat ini, jama’ah di anjurkan untuk bergegas meninggalkannya atau berjalan cepat.

Crhonos yang sudah menempuh pendidikan S3, kadang bingung. Ia sebenarnya ingin mempertanyakan bagaimana Shofi memahami secara detil berbagai peristiwa haji. Terlebih tentu, bagaimana ia dapat memahami berbagai titik dalam perjalanan haji. Tetapi itu Shofi. Ia akhirnya menjadi pembimbing utama dan nara sumber penting dalam pelaksanaan ibdah haji bagi dirinya.

Imaginasi Spiritual Adam

Selesai sedikit berkomunikasi dengan Shofi, dan mencatat seluruh pernyataannya, Crhonos beranjak ke luar tenda. Ia membiarkan Shofi diselimut dengan pakaian ihram di dalam tenda. Ia keluar dan menyaksikan bagaiamana hakikat yang sesungguhnya dari pelaksanaan haji. Di tempat inilah, Crhonos melakukan imaginasi sosial atas pelaksanaan ibadah haji.

“Ya Allah … aku mencari-Mu yang sebenar-benarnya Allah. Kadang aku takut, Allah yang kusembah, bukan Allah yang sesungguhnya. Aku takut ya Allah, Allah yang kusembah adalah Allah buatanku. Aku ingin menjumpai Allah yang telah menciptaku dan seluruh jagad raya yang tak berhingga menurutku. Sampai di Muzdalifah ini, kadang aku memang bertemu dengan gambaranMu dalam skema kemanusiaanku. Aku sadar. Aku terbatas. Tak mungkin menjangkau-Mu dalam ruang keterbatasanku. Mengapa? Karena memang aku sangat terbatas.

Ya Allah … di Muzdalifah ini, kembali Kau pertemukan aku dengan makhluk yang Kau sayangi, Adam. Aku merasa bahwa dirinya kubayangkan bertubuh besar dan sangat tinggi. Terbayang bagaimana dirinya kesulitan mencari-Mu. Padahal ketika dia bertemu dengan Dzat-Mu, ia hanya ingin mengatakan: Wahai Dzat Yang Maha Pencipta, maafkanlah aku.

Ya Allah … aku sadar menjadi Adam-pun aku tak bisa. Karena itu, dengarlah wahai Dzat yang benar-benar menjadi Tuhanku. Detik ini, aku ingin kembali mempertalikan diriku dengan-Mu, bahwa aku mengakui tidak ilah kecuali Allah. Aku ridla dan pasrah atas seluruh titah-Mu kepadaku”

Dengan linangan air mata, ia mengusap mukanya. Ia masuk kembali ke dalam tenda, karena jama’ah sudah mempersiapkan diri untuk melaksanakan shubuh berjama’ah. Ia segera mendekati Shofi dan memintanya bangun, lalu menyuruhnya untuk melakukan tayamum saja. By. Charly Siera –bersambung

  1. Rif'atul Ula berkata

    Perjalanan selama bermalam di Mina merupakan momn tepat dalam berhaji. Dimana Kita dapat mengetahui tempatcyang menyaksikan kesungguhan Nabi Adam dalam meminta ampunan kepada Allah SWT ditempat yang gersang dan penuh dengan debu dan pasir.

  2. fajar maulana berkata

    Begitu semangatnya dan mungkin sebagian besar jama’ah haji merasakan lelah dan terganggu dengan hembusan angin yang begitu kerasnya sampai bisa menyapu bersih pasir yanh ada di daerah muzdalifah. Tetapi para jama’ah begitu sabarnya untuk bermalam (mabit), tetapi chronos beda dari yang lain begitu asyiknya mencari kerikil untuk persiapan lempar jumrah.
    Di muzdalifah chronos sempat mencurahkan isi hatinya lagi bahwa “Allah itu yang mana, saya khawatir Allah yang saya sembah itu bukan Allah yang menciptakantakan aku dan seluruh alam semesta ini”.

  3. dezidni tazqiah MPI 3 berkata

    Pada novel part 21 ini menerangkan bahwa crhonos dan keluarganya melanjutkan perjalanan ke muzdalifah untuk melakukan mabit dengan penuh semangat. Di samping itu meskipun dengan kondisi fisik shofi yang lemah tetap menjalankan setiap rangkaian kegiatan haji dengan semangat dengan dibantu oleh anaknya Crhonos. Pada novel part 21 ini bsa kita ambil hikmahnya yaitu semagat dalam menjalankan segala sesuatu itu sangatlah berarti, bukan hanya semagat saja yang sangat berarti, melainkan juga dengan keikhlasan hati kita untuk menunaikan ibadah haji.

  4. Hasanatun Nadia berkata

    Bismillah..
    Sepertinya Pada bagian ini mengisyaratkan kita bahwa memang hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui sejarah atau informasi mengenai letak yang berhubungan dengan prosesi haji. Seperti hal nya pada cerita diatas. Seorang chronos yang telah mengenyam pendidikan sampai S3 namun ilmu tentang sejarah mengenai haji ternyata belum memahami، justru yg lebih memahami adalah bapak nya yg pendidikan nya jauh dari anaknya, chronos.

  5. Siti Hamidah Tadris IPS A / 1 berkata

    Assalamu’alaikum,,
    Dalam novel part 21 ini yang berjudul “Bertemu Adam Saat Mabit di Muzdalifah”. Bahwa muzdalifah berarti kumpulan (perkumpulan semua jamaah) atau bisa juga diartikan mendekat (manusia mendekati Tuhannya). Dalam part ini Chronos selalu mencari apa itu esensi dari ibadah haji itu sendiri. Juga selalu membayangkan bagaimana Nabi Adam ketika di muzdlifah dengan mencari Tuhannya untuk memohon maaf atas segala kesalahan yang diperbuatnya.

  6. Elok Firdausiana berkata

    Semangat yang luar biasa yang ada pada diri Shofi untuk melanjutkan perjalanan ibadah haji walaupun semakin hari keadaan fisiknya semakin lemah, ini dapat menjadi pelajaran untuk kita semua. Bahwasannya untuk melakukan ibadah kepada Allah kita tidak boleh mengenal kata lelah, karena beribadah kepada Allah merupakan suatu kewajiban untuk kita semua

  7. Aida Nur Aisyah berkata

    Assalamu’alaikum wr.wb
    Bismillahirahmanirahim
    Dalam part 21 ini, Shofi dan Chronos berada di Muzdalifah. Shofi memohon kepada Allah agar ia diberi kekuatan untuk melaksanakan ibadah haji. Sementara Chronos membayangkan sosok Nabi Adam saat ia mencari Allah untuk meminta ampuanan dari-Nya. Chronos juga memohon perlindungan agar ia tidak tersesat dalam mengimani Allah SWT.
    Sekian
    Terima kasih
    Wassalamu’alaikum wr.wb

  8. Fariz maulana ibrahim tadris ips a/1 berkata

    Assalamualaikum wr.wb
    Part 21
    Crhonos meninggalkan padang arafah dan melanjutkan perjalanan ke muzdalifah untuk melakukan mabit,dengan jiwa yang semangat dan tulus di sisi lain crhonos mengkhawatirkan Shofi yang keadaannya semakin melemah,subhanallah ibadah haji yang sangat di uji,tapi hebatnya crhonos tetap semangat dan berserah diri terhadap Allah SWT.
    Wassalamualaikum wr.wb

  9. M. DIDI WAHYUDI berkata

    Chronus dan Shofi melaksanakan mabit, Mabit secara Bahasa berarti bermalam untuk tempatnya di Mudzdalifah. Merupakan istilah dalam rangkaian ibadah haji. Mabit haji berarti bermalam di Mina. Shofy saat itu pula keadaannya lagi sakit

  10. Isah Siti Khodijah berkata

    Bismilahirahmanirahim
    Asalamualaikum wr wb
    Pada part ini, para jamaah akan melakukan mabit muzdalifah yang artinya bermalam di muzdalifah. Shofi yang keadaan nya semakin parah selalu bersemangat menjalankan ibadah. Itu sangat menjadi inspirasi bagi kita semua, beliau yang sudah tua dan sakit parah selalu bersemangat. Dan juga Shofi merupakan seorang ayah dan guru bagi kita semua itu terbukti dia selalu mengetahui tentang segala hal yang berkaitan dengan apapun, beliau seorang guru yang layak di gugu dan di tiru oleh kita semua. Dan Chronos juga sangat bersemangat dan tidak mau kalah dengan semangat Ayahnya. Sungguh keluarga yabg sangat luar biasa.
    Terimakasih
    Wasalamualaikum wr wb

  11. Farrin nurul aina berkata

    Orang yang melaksanakan haji pasti akan merasakan pengalaman spiritul,. Tak peduli betapa capeknya badan dalam menjalankan semua kegiatan haji. Contoh nya shofi walaupun badannya mulai lemah dia tidak mau meninggalkan satu pun ibadah haji. Dalam berhaji juga perasaan akan rindu dengan Allah semakin besar rasa ingin bertemu Allah juga tidaj bisa dipungkiri akan ada.

  12. Silmy Awwalunnis
    Silmy Awwalunnis berkata

    kedaan shofi yang semakin memburuk memaksanya untuk tidk banyak berbuat apa apa. chronos semakin kebingungan, bukan saja karena keadaan shofi namu lebih ke bagaimana shofi dapat mengetahui pelaksanaan ibadah haji secara lebih rinci. hingga akhirnya shofi sadar ia berada di waktu subuh yang istimewa di Muzdalifah
    Muzdalifah adalah bentuk jamak dari kata izdilaf. Artinya adalah perkumpulan [jamaah semua berkumpul] atau mendekat [bermakna manusia mendekati Tuhannya]. Muzdalifah karena itu, sering disebut sebagai tempat singgah. Jama’ah haji diwajibkan bermalam, setelah bertolak dari Arafah pada malam hari. yaitu hari ini.

  13. Fifit Fitri Nur'aeni/Ips/1B berkata

    Assalamualaikum
    Crhonos begitu bersemangat menjalani semua prosesi ini . Chornos begitu sangat menghawatirkan kondisi papahnya yang semakin hari semakin melemah. Tetapi sosok sofi tersebut tetap menjalaninya dengan keinginan yang tinggi . Chornos pun selalu menjaga papahnya dan keluarganya dalam keadaan apapun. Dan mereka telah tiba di Muzdalifah untuk melaksanakan zumroh.

  14. Muhamad Udin berkata

    Bismillahirrohmanirrohim
    pada part ini semua jamaah untuk melaksanakan mabit atau bermalam di musdalifah.
    pelajaran yang kita dapat ambil yaitu bahwa kita harus tetap semangat melakukan ibadah walupun keadaan kita lagi lemah atau sakit, contohnya shofi walupun dia sudah sangat lemah fisik nya tapi dia tetap semangat melakukan kegiatan ibadah haji.

  15. Siti Sutihatin MPI/4 berkata

    Setelah dari Arafah, jamaah haji bergerak menuji Muzdalifah untuk melakukan mabit. Meskipun dengan kondisi fisik yang lemah, Shofi tetap menjalankan setiap rangkaian kegiatan haji dengan semangat dan tentu dengan dibantu oleh anaknya, Crhonos.

  16. Rahmat Maulana (MPI-4) berkata

    Shopi dan crhonos sangat bersemangat sekali dalam melaksanakan ibadah haji dan menyelesaikannya, karena banyaknya perjuangan yang telah mereka lewati. berbagai macam ujian dan cobaan yang menimpa mereka, serta pemanfaatan waktu dan kehati-hatian mereka dalam beribadah mengakibatkan bertambahnya energi semangat jiwa untuk melaksanakan mabit.
    Semoga kita semua termasuk orang-orang yang beruntung.

  17. MAFTUHAH MPI/4 (1415109011) berkata

    setelah dari arafah, kemudian rombongan haji menuju ke musdzalifah, perjalanan menuju ke musdzalifah begitu melelahkan, apalagi untuk shofi, ia semakin lemah, namun ia tidak patah semangat untuk menjalankan ibadahnya.

  18. siti halimah MPI/4 berkata

    Part 21
    Bismillahirrahmanirrahim, ,
    Meskipun mabit ini bukan termasuk rukun, tapi chronos begitu semangat menjalani semua prosesi ini, karena beliau takut dan khawatir ada rukun haji yang belum terlaksana. Di Muzdalifah chornos kembali bertafakur dia menanyakan apa sebenarnya arti muzdalifah ini, muzdalifah adalah tempat berkumpul.

  19. Sri Rahayu MPI/4 (1415109025) berkata

    Bismillah……
    Pada part 21 ini adalah tentang semangat dan niat yang tulus yang terdapat pada diri Shofi dan Chronos untuk menjalankan ibadah haji dan menyelesaikannya dengan baik dan benar hingga rukun, wajib dan sunnah haji dapat terlaksanakan semua.

  20. Fera Agustina/MPI/4 berkata

    Yallah sungguh hebatnya shofi ayah dari chronos tak henti-hentinya ia berusaha walaupun dengan keadaan yang sangat tidak memungkinkan namun semangatnya yang membara yang patut untuk kita semua untuk di jadikan sebuah pelajaran, bahwaasanya kita sebagai manusia jangan patah semangat karena kita masih punya Allah. dan dimana ketika dijalan hendak melakukan mabit,chronos tetap menggendong ayahnya shofi bukti kecintaannya kepada ayah nya.

  21. Winda Dwi Nurrachmawati (1415109032) MPI-4 berkata

    Dalam part 21 ini, Chronus dan Shofi melaksanakan mabit, Mabit secara Bahasa berarti bermalam untuk tempatnya di Mudzdalifah. Merupakan istilah dalam rangkaian ibadah haji. Mabit haji berarti bermalam di Mina. Dalam part ini menceritakan bagaimana semangat shofi dalam menjalankan rangkaian ibadah haji yang memang harus dilaksanakan walaupun dengan kondisi keadaan yang lemah shofi dibantu oleh anaknya chronus melaksanakan mabit dan wukuf. Menjaga shofi sudah kewajiban dari chronus sebagai anak.

  22. Firman Maulana mpi smt 4 berkata

    Part 21
    Di part 21 ini, seperti halnya dengan chronos anak dari shofi dan siti. Chronos sendiri bingung sendiri terhadap shofi, bagaimana oa dapat memahami, mempelajari, dan mengingatnya ( pengetahuan agamanya ) dengan baik meski keadaan nya semakin hari semakin memburuk. Dan disitulah kekaguman chronos terhadap ayahnya begitupun saya juga sangat kagum terhadap shofi.

  23. Ega Sugandi (1415109003) MPI/4 berkata

    Mereka bergegas menuju arafa Crhonos begitu bersemangat menjalani semua prosesi ini. Waktu benar-benar dihabiskan untuk mengukur pelaksanaan hajinya. Ia takut dan khawatir ada kewajiban apalagi rukun haji yang tidak dia tunaikan. Atau gugur karena sesuatu hal, sehingga membatalkan pelaksanaan haji yang dia lakukan di tahun itu.
    Crhonos selalu menggandeng Shofi. Sementara Vetra, terus menerus menggandeng Siti. Keduanya tidak boleh terpisahkan. Jutaan manusia berada di tempat yang sama. Gemuruh talbiyah yang memang disunnahkan untuk dikeraskan, dibaca seluruh jama’ah sedunia yang hadir pada waktu itu.

  24. Asiro MPI/4 (1415109002) berkata

    Bismillahirrahmaanirrahiim…
    Dalam novel part 21 ini yang berjudul “Bertemu Adam Saat Mabit di Muzdalifah”. Dengan pengetahuannya yang luas, Sofi selalu dan selalu memberikan pengertian kepada anaknya, Chronos. Bahwa muzdalifah berarti kumpulan (perkumpulan semua jamaah) atau bisa juga diartikan mendekat (manusia mendekati Tuhannya). Dalam part ini Chronos selalu mencari apa itu esensi dari ibadah haji itu sendiri. Juga selalu membayangkan bagaimana Nabi Adam ketika di muzdlifah dengan mencari Tuhannya untuk memohon maaf atas segala kesalahan yang diperbuatnya.

  25. Nur Aliffah MpI/4 berkata

    dalam part ini kita dapat mengambil satu pelajaran yang sangat bermanfaat bagi diri kita. Bahwasannya semagat dalam menjalankan segala sesuatu itu sangatlah berarti, bukan hanya semagat saja yang sangat berarti, melainkan juga dengan keikhlasan hati kita untuk melakukan apa yang sedang kita lakukan akan membangkitkan semagat diri kita, dan dorongan dari orang-orang terdekat pun sangat berpengaruh dalam melaksanakan sesuatu. Begitupun apa yang dilakukan oleh chronos terhadap ayahnya, walaupun ayah yang sedang tidak sehat fisiknya chronos selalu memberikan semagat terhadap ayahnya, supaya shofi selalu semagat melaksanakan berbagai kegiatan ibadah haji

  26. dinny alfiana. s MPI4 berkata

    dalam part 21 ini, sosok Shofi menggambarkan manusia yang sangat bersemangat dalam beribadah, terbukti dengan kondisinya yang lemah, ia mampu mengalahkan rasa sakitnya demi melangsungkan mabit, meskipun mabit tidklah termasuk kedalam rukun haji. subhanallah.

  27. Muhammad Yasir Arafah MPI/4 (1415109012) berkata

    Bismillahirrahmanirrahim, dalam part ini menceritakan bagaimana halangan atau kondisi yang cukup mempersulit jamaah haji untuk melaksanakan ibadahnya. Chronos yang sangat beruntung bisa bertemu, dan dasar yang cukup jelas untuk dijadikan rujukan.

  28. Sri Hardianti-MPI/4-1415109024 berkata

    bismillah..
    okehh dalam part dua puluh satu ini yang bertema thowaf ifadah, chronos selalu menunjukkan bahwa dia adalah anaj yang berbakti kepada orangtuanya, shofi yang sakit sakitan dan kondisinya masih lemah tidak mau menyerah untuk mengikuti semua ritual ibadah haji, semangattt

  29. Siti Nurbaeti (1415109022)-MPI/4 berkata

    SubhanAllah semangat yang dimiliki oleh Shofi ini patut di acungi jempol (y), dia (Shofi) masih sanggup untuk menunaikan ibadah mabitnya di mudzalifah. Kekompakan yang dimiliki oleh keluarga Chronos patut ditiru meskipun hanya terdiri dari 3 personil yang sehat saja. Teruntuk Shofi semoga Allah snantiasa memberikan kekuatan untuk menyelesaikan ibadah hajimu, amin

  30. umar faruq mpi 4 berkata

    semangat yang tiada hentinya yang dlakuan oleh chronos dimana pada masa haji semua orang merasakan kebahagiaan namun chronos tetap dalam ketakutan.
    mantap jiwa.

  31. Yunita Nur RahmawatiMPI/4 (1415109034) berkata

    Part 21 ini bahwa Crhonos begitu bersemangat menjalani semua prosesi haji ini. Waktu benar-benar dihabiskan untuk mengukur pelaksanaan hajinya. Karena ia merasa khawatir ada kewajiban apalagi yang rukun haji tidak dia tunaikan. Atau gugur karena sesuatu hal, sehingga membatalkan pelaksanaan haji yang dia lakukan di tahun itu. Sedangkan kondisi shofi walaupun melemah namun ia juga tak kalah semangat untuk terus menunaikan ibadah haji karena ia selalu yakin bahwa allah akan selalu memberikan kekuatan untuk setiap umatnya dalam melaksanakan ibadahnya kalaupun ia sedang sakit

  32. Wiwin Darwini MPI/4 berkata

    Dalam part ini saya melihat kecintaannya seorang anak kepada orang tua nya, dimana ketika berjalan saat melakukan mabit, Chronos tetap mengendong Shofi ayahnya, walaupun saat mengambil kerikil kecil hidung dan mata Chronos kemasukan debu, ia tetap dengan pendirianya di awal untuk selalu menjaga Shofi dimana pun. Semoga dengan membaca novel ini saya sendiri dapat mencontoh prilaku Chronos terhadap Shofi ayah nya.

  33. pujiati MPI/4 berkata

    semangat yang luar biasa dari chronos karena selain shofi yang begitu antuasi melaksanakan rangkaian ibadah haji ini pun, chronos begitu semangat, chronos benar-benar menghabiskan waktu untuk mengukur ibadah hajinya dia begutu takut dan khawatir ada salh satu rukun hajinya yang tidak terpenuhi, sehingga nantinya akan menggugurkan ibadah hajinya tahun ini, dia benar-benar menikmati ibadah haji ini dengan khusu’.

  34. Asyifa Nuraeni Kartika Ali/MPI/4 berkata

    Bismillahirrahmanirrahim
    Dalam part 21 yang berjudul Bertemu Adam saat Mabit di Muzdalifah, menceritakan Crhonos dan bapaknya Shofi bersama seluruh jama’ah bergegas meninggalkan Arofah. Mereka segera melakukan perjalanan menuju Muzdalifah untuk melakukan mabit. Crhonos merasa bahwa dirinya membayangkan bagaimana Adam bertubuh besar dan sangat tinggi kesulitan mencari Tuhan. Tepatnya di Mudzdalifah Crhonos melakukan imaginasi sosial atas pelaksanaan ibadah haji. MasyaAllah~

  35. Lu'lu Atul alawiyah (1415109010) MPI/4 berkata

    Bismillahirrohmanirrohim…
    Alhamdulillah keluarga chronos pun akhirnya bisa melakukah rangkaian ibadah haji dengan penuh keikhlasan hatinya dan penuh dgn ketakwaan kepada Allah. tetapi dalam hal ini Shofi benar-benar merasa lelah, namun keyakinan yang dimilikinya yaitu kekuatan dalam diri supaya bisa menyempunakan rangkaian ibadah haji dan pada akhirnya ia pun mampu menjalaninya. Mabit di Muzdalifah dilakukan pada malam 10 Dzulhijjah selepas wukuf di Arafah.
    berdasarkan keterangan hadis Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) riwayat Jabir, sebagai berikut, “…Rasulullah mendatangi Muzdalifah, lalu shalat Maghrib dan Isya dengan adzan sekali dan dua kali iqomat, dan tidak shalat (sunat) di antara keduanya. Kemudian berbaring (tidur) sampai terbit fajar: Lalu shalat Subuh setelah jelas waktu Subuh dengan sekali adzan dan sekali iqomat. Kemudian mengendarai Qaswaa sehingga sampai di Masy’aril Haram lalu menghadap kiblat, berdo’a, bertakbir, bertahlil dan membaca kalimat tauhid lalu terus bewukuf sampai terang benar. Lalu berangkat sebelum terbit matahari”.

  36. uyunurrohmah MPI semester4 berkata

    Assalamualaikum wr. Wb
    Dalam part ini alahmdulillah chronos dan keluarganya telah melaksanakan wukuf dan sedang melaksanakan mabit di musdalifah. Mabit dalam bahasa arab dapat diartikan sebagai bermalam. Jamaah haji bermalam di musdalifah pada malam tanggal 9 dzulhijjah. Sedangkan musdalifah berasal dari jama’ izdilaf yg dapat diartikan sebagai perkumpulan. Musdalifah terletak di mu’zamain di arafah dan di lembah muhassir yang mana pada jalan di muhassir kita di sunnahkan untuk berjalan cepat karena dikatakan tempat tersebut adalah tempat syetan. Dan di musdalifahlah para jamaah mengambil kerikil untuk melempar jumrah.

  37. Ririn Nur'aeni (MPI/4) berkata

    bismillah di part 21 ini..
    subhanallah semangat yang luar biasa pada diri shofi untuk melaksanakan ibadah haji walaupun semakin hari ia semakin lemah, cronos anak yang sangat berbakti pada orang tuanya ia tidak pernah lelah untuk mengurus dan menjaga shofi dalam melaksanakan haji. rangkaian demi rangkaian kegiatan pelaksanaan haji dilalui oleh shofi dan keluarganya dengan baik sampai mereka tiba di muzdalifah untuk melakukan balang jumroh di mina esok harinya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar