Bertemu Adam Saat Mabit di Muzdalifah| Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 21

Bertemu Adam Saat Mabit di Muzdalifah| Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 21
0 113

Bertemu Adam saat Mabit di Muzdalifah. Mabit secara Bahasa berarti bermalam. Pelaksanaan mabit ini, dilangsungkan pada malam tanggal 09 Dzul Hijjah. Tempatnya di Mudzdalifah. Kata ini menjadi demikian masyhur di kalangan masyarakat Muslim, karena istilah dimaksud, masuk dalam rangkaian ibadah haji. Mabit haji berarti bermalam di Mina.

Shofi dengan tubuh yang sangat lemah, bergumam kepada anaknya. Wahai anakku, meski mabit tidak termasuk ke dalam rukun haji, tetapi, kita harus ikut melaksanakannya. Selain karena tentu kita menjadi penasaran, tetapi, juga karena rasulullah memberi contoh atasnya. Ini masuk ke dalam wajib haji. Kalau kamu meninggalkannya, berarti kia harus membayar dzam. Landasannya adalah sebuah hadits yang teksnya sebagai berikut:

“Hadits Rasulullah shalallahu alaihi wassalam melalui periwayatan Abu Dawud bersabda: “Siapa yang ikut shalat bersama kami seperti ini, lalu wukuf bersama kami hingga berangkat, dan dia telah wukuf sebelum itu di Arafah malam dan siangnya, maka hajinya telah sah dan telah dibersihkan dari kotoran (tahallul).”. Dalam konteks ini, Rasulul Muhammad tidak menyebutkan mabit di Mina pada malam sembilan. Ini menunjukkan bahwa perkara tersebut bukan rukun haji.”

Crhonos dan bapaknya, Shofi bersama seluruh jama’ah, tepat pada pukul 18.00 dengan sangat bergegas meninggalkan Arofah. Mereka segera melakukan perjalanan menuju Muzdalifah untuk melakukan mabit.

Shofi meminta kepada Crhonos untuk menjama’ shalat maghrib. Karena menurutnya, hal dimaksud dapat disebut dengan sunnah. Coba kamu baca hadits dalam periwayatan abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ad-Daruquthni. Mereka semua meriwayatkan suatu uangkapan akan fi’li rasul dalam kalimat berikut ini: Apabila Rasul Muhammad hendak berangkat sebelum Maghrib, maka ia mengakhirkan Maghrib sehingga mengerjakan bersama Isya’. Namun apabila dia berangkat setelah Maghrib, maka ia menyegerakan Isya’ dan melakukan shalat Isya’ bersama Maghrib”.

Meski jarak antara Arofah dan Muzdalifah itu dekat, namun perjalanan menuju tempat dimaksud bukan hal mudah. Ini mungkin menjadi perjalanan yang benar-benar melelahkan. Lelah bukan karena jauh. Tetapi lebih karena macet. Saat inilah jutaan manusia menuju Muzdalifah untuk mabit berjalan dan bergerak bersama. Saat perjalanan ini pula, jama’ah dianjurkan mengambil kerikil untuk bekal melontar jumrah.

Keluasan dalam Segenap Keterbatasan

Crhonos begitu bersemangat menjalani semua prosesi ini. Waktu benar-benar dihabiskan untuk mengukur pelaksanaan hajinya. Ia takut dan khawatir ada kewajiban apalagi rukun haji yang tidak dia tunaikan. Atau gugur karena sesuatu hal, sehingga membatalkan pelaksanaan haji yang dia lakukan di tahun itu.

Crhonos selalu menggandeng Shofi. Sementara Vetra, terus menerus menggandeng Siti. Keduanya tidak boleh terpisahkan. Jutaan manusia berada di tempat yang sama. Gemuruh talbiyah yang memang disunnahkan untuk dikeraskan, dibaca seluruh jama’ah sedunia yang hadir pada waktu itu.

Bulu kuduk spiritual pastilah akan terjadi pada semua manusia. Beriringan dengan waktu yang terus bergulir, perjalanan di malam hari itu begitu terasa menusuk tulang-tulang manusia. Hanya dimensi ruhiyah manusia yang masih menganggap bahwa perjalanan semacam ini, mampu ditunaikan. Shofi kembali mengeluarkan suatu maklumat yang kadang membuat Crhonos bingung. Maklumatnya itu terlihat dalam bentuk kalimat berikut ini:

“Ya Allah aku percaya … aku mampu menjalani ini. Ditinjau dari nalar fisik, jangankan aku, mereka yang masih sangat muda dan kekar sekalipun, pastilah akan sulit memahami bagaimana fisik mereka jika tidak didorong oleh motif spiritual. Motif ini telah memblok seluruh aktivitas biologi kemanusiaan aku sebagai manusia. Sehingga tidak ada kekuatan kecuali menyatunya diri-Mu ke dalam ruhku. Berilah kami kekuatan. Terimalah ibadah kami ini. Semoga Kau berkenan menjadikannya sebagai bentuk rasa syukur kami kepada-Mu.

Saat Shofi menengadahkan tangan seperti itu, Crhonos begitu asyiknya memungut satu persatu batu kerikil yang terdapat di sekitar Muzsalifah. Angin bukan hanya sekedar berdesir, tetapi meronta demikian keras. Ia menyapu seluruh pasir yang terdapat di bukit di mana jama’ah tinggal. Sehingga sering kali, terhisap hidung dan kadang masuk ke rongga mata. Ia terus menerus memasukkan batu ke dalam kantong kecil, terbuat dari kain berwarna putih.

Sampailah akhirnya jama’ah haji ke sebuah Tenda besar yang sangat berdebu. Beralaskan tembikar yang juga sangat berdebu. Crhonos sebenarnya mengkhawatirkan Bapaknya-Shofi, yang terus semakin hari bahkan perubahan menit semakin melemah. Ia membopongnya masuk ke dalam tenda itu, lalu membiarkannya tinggal di dalam bersama dengan Siti. Sementara itu, ia bersama istrinya Vetra, tetap melengkapi seluruh kebutuhan batu kerikil yang akan dibawanya ke Mina besok pagi.

Mengapa Bernama Muzdalifah

Tidak ada satupun jama’ah yang mampu tidur. Termasuk tentu saja Crhonos dan keluarga Shofi.  Jama’ah kebanyakan hanya berselonjoran di tenda. Banyak jama’ah haji laki-laki yang sudah tua, kadang pakaian ihramnya sudah tidak lagi teratur. Sehingga terbuka kemungkinan untuk dilihat oleh siapapun.

Di tenda yang dihuni jama’ah, bukan hanya sekedar berdesak-desakan, tetapi, juga kadang bertemu dengan pegawai-pegawai pemerintah Arab Saudi yang kurang sopan menurut ukuran kesopanan masyarakat Indonesia. Negara dalam hal ini petugas haji yang dikirim untuk membimbing ibadah haji, tidak hadir. Malah yang banyak membantu jama’ah secara umum adalah petugas dari KBIH masing-masing.

Di Muzdalifah, Crhonos kembali betafakur. Ia mencari esensi pelaksanaan ibdah haji. Ia mendekati Shofi dan bertanya tentang Muzdalifah. Dengan suara yang sangat pelan, dan kadang terpotong-potong, Shofi berkata:

Muzdalifah adalah bentuk jamak dari kata izdilaf. Artinya adalah perkumpulan [jamaah semua berkumpul] atau mendekat [bermakna manusia mendekati Tuhannya]. Muzdalifah karena itu, sering disebut sebagai tempat singgah. Jama’ah haji diwajibkan bermalam, setelah bertolak dari Arafah pada malam hari.

Meski aku tidak melihat secara langsung di lapangan, karena keterbatasanku, tetapi menurut berbagai bacaan yang saya fahami, Muzdalifah letaknya berada di antara Ma’zamain (dipisah dua gunung yang saling berhadapan). Gunung itu Arafah dan lembah Muhassir. Ia berbentuk jalan sempit. Coba kamu baca pikiran Imam Syafi’i [al-Umm] yang menyebut Muzdalifah sebagai Ma’zamain Arafah hingga perbatasan Muahassir. Kamu disunnahkan berjalan cepat di Muhassir. Ini adalah suatu tempat di mana Syeitan diyakini berlindung didalamnya. Di tempat ini, jama’ah di anjurkan untuk bergegas meninggalkannya atau berjalan cepat.

Crhonos yang sudah menempuh pendidikan S3, kadang bingung. Ia sebenarnya ingin mempertanyakan bagaimana Shofi memahami secara detil berbagai peristiwa haji. Terlebih tentu, bagaimana ia dapat memahami berbagai titik dalam perjalanan haji. Tetapi itu Shofi. Ia akhirnya menjadi pembimbing utama dan nara sumber penting dalam pelaksanaan ibdah haji bagi dirinya.

Imaginasi Spiritual Adam

Selesai sedikit berkomunikasi dengan Shofi, dan mencatat seluruh pernyataannya, Crhonos beranjak ke luar tenda. Ia membiarkan Shofi diselimut dengan pakaian ihram di dalam tenda. Ia keluar dan menyaksikan bagaiamana hakikat yang sesungguhnya dari pelaksanaan haji. Di tempat inilah, Crhonos melakukan imaginasi sosial atas pelaksanaan ibadah haji.

“Ya Allah … aku mencari-Mu yang sebenar-benarnya Allah. Kadang aku takut, Allah yang kusembah, bukan Allah yang sesungguhnya. Aku takut ya Allah, Allah yang kusembah adalah Allah buatanku. Aku ingin menjumpai Allah yang telah menciptaku dan seluruh jagad raya yang tak berhingga menurutku. Sampai di Muzdalifah ini, kadang aku memang bertemu dengan gambaranMu dalam skema kemanusiaanku. Aku sadar. Aku terbatas. Tak mungkin menjangkau-Mu dalam ruang keterbatasanku. Mengapa? Karena memang aku sangat terbatas.

Ya Allah … di Muzdalifah ini, kembali Kau pertemukan aku dengan makhluk yang Kau sayangi, Adam. Aku merasa bahwa dirinya kubayangkan bertubuh besar dan sangat tinggi. Terbayang bagaimana dirinya kesulitan mencari-Mu. Padahal ketika dia bertemu dengan Dzat-Mu, ia hanya ingin mengatakan: Wahai Dzat Yang Maha Pencipta, maafkanlah aku.

Ya Allah … aku sadar menjadi Adam-pun aku tak bisa. Karena itu, dengarlah wahai Dzat yang benar-benar menjadi Tuhanku. Detik ini, aku ingin kembali mempertalikan diriku dengan-Mu, bahwa aku mengakui tidak ilah kecuali Allah. Aku ridla dan pasrah atas seluruh titah-Mu kepadaku”

Dengan linangan air mata, ia mengusap mukanya. Ia masuk kembali ke dalam tenda, karena jama’ah sudah mempersiapkan diri untuk melaksanakan shubuh berjama’ah. Ia segera mendekati Shofi dan memintanya bangun, lalu menyuruhnya untuk melakukan tayamum saja. By. Charly Siera –bersambung

Komentar
Memuat...