Inspirasi Tanpa Batas

Bertemu Hamzah di Gunung Uhud | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 14

Bertemu Hamzah di Gunung Uhud | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 14
1 156

Bertemu Hamzah di Gunung Uhud. Crhonos dan Shofi tentu berserta istrinya, tinggal di Medinah selama kurang lebih delapan hari. Jumlah hari ini dimaksudkan, agar dapat menggenapkan pelaksanaan shalat sebanyak 40 kali di masjid Nabawi. Masjid yang selalu dipenuhi heroisme manusia-manusia suci. Masjid di mana, ribuan manusia yang syahid dimakamkan di sini.

Masjid Nabawi sering disebut haramain. Masjid suci kedua umat Islam setelah Ka’bah. Selain kesuciannya, Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid terbesar ke dua di dunia. Tentu setelah Ka’bah. Di Masjid ini, terdapat makam Nabi dan beberapa makam sahabat terdekatnya. Karena itu, tidak salah jika disebutkan bahwa, Masjid ini selain dianggap suci, juga dapat menjadi tempat wisata spiritual yang sangat indah.

Shofi sering berdiri di pelataran Masjid yang sangat indah dan megah ini. Shofi dan Crhonos berdiam diri di Jam besar sambil menunggu Vetra dan Siti. Ia menyaksikan payung-payung besar di teras Masjid yang terbuka dan tertutup. Payung dimaksud, disebut Shofi sebagai Bunga Teratai. Membuka dengan pelan dan jika tertutup juga sangat pelan.

Kalau mereka berempat sudah pada bertemu dan berkumpul di bawah jam itu, mereka melihat maqam Baqi. Inilah makam yang lebih dikenal sebagai Jannatul-Baqi. Suatu peristirahatan terakhir bagi para sahabat dan keluarga nabi yang patut dianggap sedang menikmati taman Syurga. Letak maqam ini, berseberangan dengan Masjid Nabawi. Di Maqam Baqi ini, posisinya tidak menakutkan seperti umumnya maqam-maqam di Indonesia.

Di Medinah, yang ketakutan akan eksistensi Makam, malah para asykar Masjid. Karena di sekitar maqam inilah, banyak orang Iran dan Irak, serta Siria berkumpul. Mereka sering berdiskusi dan bergerobol. Secara teologi, masyarakat dari tiga negara itu, umumnya adalah pengikut aliran syi’ah yang sangat taat. Karena itu, meski tidak formal, mereka sesugguhnya diawasi.

Sewaktu-waktu, Shofi dan Crhonos berbincang dengan warga masyarakat dari tiga negara itu. Mereka umumnya mencari posisi maqam Fatimah Az Zahra dikebumikan. Setelah mereka merasa telah bertemu dengan maqam itu, lalu berdiskusi antar sesama mereka dengan hangat. Crhonos dan Shofi kadang ikut berbincang dengan mereka. Teapi, tidak lama kemudian, asykar mengingatkan bahwa mereka harus segera bubar dari tempat dimaksud.

Mengisi Hari dengan Berkunjung ke Tempat Suci

Untuk mengisi hari-harinya di Medinah, Crhonos bersama dengan jama’ah lain, selain bulak balik mengunjungi Masjid Nabawi, juga mengunjungi beberapa tempat penting dan istimewa yang ada di sekitar Medinah. Misalnya, ia bersama rombongan berangkat menuju Masjid Quba dan Masjid kiblatain. Dua Masjid yang menyembulkan aroam mistik dengan nilai spiritual yang sangat tinggi.

Shofi sesungguhnya mengalami anfal. Tetapi karena ia memiliki keinginan yang tinggi, meski sakitnya terus menguat dengan sengauan nafas yang sangat berat, dengan tubuh yang juga semakin lemah, Shofi tetap ikut. Ia tidak ingin menghabiskan waktunya hanya dalam kamar. Ia bangun dan tidak berbaring di atas Kasur.  Ia ingin mengunjungi Masjid pertama yang dibangun Rasulullah.

Masjid Quba adalah tempat ibadah pertama yang dibangun Rasulullah. Peletakkan batu pertamanya, dilakukan pada tahun pertama Hijriyah  di Quba. Jarak antara Quba dengan Medinah diperkirakan sekitar lima kilo meter  dari arah Barat Daya. Inilah Masjid yang disebut Allah dalam surat At Taubah [9]: 108 sebagai bangunan yang diletakkan atas dasar takwa.

Crhono, di Masjid Quba, kamu harus shalat. Sebab berziarah ke Masjid ini, dipuji Nabiyullah Muhammad melalui sabdanya sebagai berikut: “Siapa yang bersuci (dalam keadaan wudhu) dari rumah, datang ke Masjid Quba, lalu mendirikan shalat di dalamnya, maka imbalannya setara dengan berumrah.” HR. Ibnu Majjah. Masjid ini, terbagi menjadi dua yang dipisahkan latar semacam jalan setapak memanjang. Ruang utama masjid digunakan untuk shalat. Di dinding bagian kanan-kiri masjid terdapat rak-rak yang digunakan untuk menyimpan Alquran.

Shofi dan Crhonos, tentu bersama Vetra dan Siti, masuk ke Masjid itu secara bersama-sama. Mereka melaksanakan shalat sunnah muakadah. Lalu mereka berdo’a dengan kepentingan do’a masing-masing. Tampak, Crhonos dan Vetra lebih khusu’ dibandingkan di tempat lain. Mereka berdua tidak ingin meninggalkan beban-beban spiritual yang terlampau jauh. Setelah itu, mereka bangkit dan kembali masuk ke dalam mobil.

Selain berkunjung ke Masjid Quba, Shofi, Crhonos, Vetra dan Siti juga berangkat ke Masjid bani Salamah. Masjid ini dibangun di atas tanah, yang sebelumnya pernah berdiri rumah bani salamah. Letaknya di tepi jalan menuju Universitas Medinah. Suatu Universitas, dalam penuturan para supir bus di sana, banyak dihuni masyarakat Muslim dunia.Tidak sedikit di antara para thulabbah manca negara, yang rela dipinang untuk dinikahi dengan maskawin yang cukup lumayan besar. Tentu jika mau dan memiliki uang cukup.

Masjid ini, sangat dekat dengan istana kerajaan. Ia terletak di sebuah bukit kecil, sebelah Utara Harrah-Wabrah. Inilah Masjid yang diperkenalkan dengan istilah qiblatain. Posisi mimbar ada yang menghadap ke Ka’bah dan di arah yang berlawanan menghadap ke Masjid al Aqsa. Qiblataian adalah Masjid transisi dunia Islam dalam kontek menghadap kiblat.

Shofi tetap Berpikir Saat Sakit Mendera

Saat Shofi melaksanakan shlat di Kiblatain ini, tangannya yang mulai sering bergetar di angkat ke langit. Lalu ia menderaikan air mata. Air mata yang menyiratkan beban berat yang dia alami. Tetapi, bukan Crhonos kalau dia tidak bertanya. Ia tetap ingin bertanya tentang sejarah Masjid ini. Shofi kemudian membaca ayat suci al Qur’an, khususnya surat al Baqarah [2]: 142-144 yang artinya:

“Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari Kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya? Katakanlah: kepunyaan Allah Timur dan Barat; Dia yang memberi petunjuk kepada siapa yang ia kehendaki ke jalan yang lurus.

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang mengetahui nasib jadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”

Crhonos, kamu harus tahu. Tiga ayat al Qur’an tadi, turun saat Rasullulah saw, setiap kali melaksanakan shalat di tempat ini, menghadap ke Baitul Maqdis. Tetapi, ia sering melihat ke langit. Ia seolah sedang menunggu perintah Allah, agar arahnya kiblatnya digantikan ke Kabah. Inilah yang menjadi sebab turunnya surat al Baqarah [2]: 144. Ayat ini menunjukan bahwa kiblat umat Islam adalah Masjidil Haram. Bukan lagi masjid al Aqsa

Lalu sebagian di antara umat Islam ada yang berkata: Bolehkah kami tahu tentang orang-orang yang meninggal sebelum pemindahan qiblat ini? Bagaimana tentang shalat kami juga sebelum ini? Maka turunlah surat al Baqarah [2]: 143 yang menegaskan bahwa Allah tidak menyia-yiakan iman mereka yang beribadah menurut ketentuan pada waktu itu.

Lalu sebagian orang-orang bodoh berkata: “Apa yang memalingkan umat Islam sehingga memindahkan arah dari Baitul Maqdis ke Kabah? Maka turunlah ayat lain, yakni surat al Baqarah [2]: 142 sebagai penegasan bahwa Allah yang menetapkan arah kiblat. Hal ini setidaknya dapat dibaca dari hadits yang diriwayatkan Ibnu Ishaq dari Ismail bin Abi Khalid, dari Abi Ishaq. Shofi menjelaskan dengan mantap dan tenang, meski sakitnya terus mendera.

Berkunjung ke Kuburan Hamzah dan Uhud

Di Medinah, keluarga Shofi juga berkunjung ke makam (grave) Hamzah bin Abdul Muthalib. Ia adalah syuhada yang gugur dalam medan perang di jabal uhud. Suatu gunung, yang menurut Nabi bakal masuk Syurga. Gunung yang akan menjadi ciri qiyamat, yakni saat gunung ini berubah menjadi emas.

Sosok Hamzah yang mati di jabal uhud ini, dikenal sebagai Singa Padang Pasir. Ia selalu membela syiar Islam yang dibawa ponakannya, Muhammad. Ia disegani dan sangat ditakuti kaum Quraisy. Posisinya sebagai pelindung nabi yang gagah berani serta lihai berperang itu, terpaksa harus meninggal karena terjangan busur panah prajurit bayaran.

Ia meninggal di jabal uhud ini, dengan pola perang penuh dendam. Setelah terkesan busur panas dan menyebabkan ia jatuh, ia kemudian dihunus pedang. Atinya diambil atas  perintah Hindun, istri dari kakaknya. Ia memiliki kisah tersendiri sebagai heroisme Muslim. Ia terabadikan dalam lakon kastria agama. Bagi masyarakat Muslim pada kelas dunia, ia juga termasuk di antara pahlawan yang masuk dalam best seller film berjudul Lion of The Dessert. Ia tidak dikubur di makam baqi. Ia istirahat terakhir di sekitar uhud.

Inilah gunung yang menjadi saksi sejarah kemanusiaan. Di lembah inilah, perang besar antara pejuang Islam dan kaum kafir Quraisy, pada 15 Syawal 3 Hijriyah atau Maret 625 Masehi terjadi. Di perang ini pula, terdapat setidaknya 70 pejuang mati syahid. Termasuk tentu Hamzah. Agak aneh Crhonos … jika kamu tidak sempat mencucurkan air mata menyaksikan gunung ini. Di gunung inilah, coba kamu bayangkan bagaimana kamu bertemu dengan Hamzah. Shofi mengakhiri pembicaraannya dengan mengusapkan air mata sedih. Inilah pelajaran empati atas makna suatu perjuangan bagaimana Islam ditegakkan di muka bumi By. Charly Siera –bersambung

Komentar
Memuat...