Berusaha Maksimal dalam Membela Kebenaran Part-3

1 10

Ibrahim alaihi salam, sebelumnya juga telah menunjukkan karakter spesifik sebagai ciri sang kekasih Allah. Salah satunya, terlihat ketika Allah menitipkan Ismail melalui rahiem Siti Hajar, dia harus segenra meninggalkannya, padahal cabang bayinya belum lahir. Dikisahkan dia harus segera meninggalkan Hajar beserta bayinya dalam rahiem itu di sebuah tempat yang sangat tandus. Tempat itu, hari ini, dikenal dengan Ka’bah yang juga jika dianalisa hari ini, sangat subur karena tersedia air abadi dalam apa yang disebut dengan air zam-zam. Inilah bagian lain dari cara Tuhan menguji para kekasihnya dalam menegakkan dan menyebarkan kebenaran.

Siti Hajar Berlari Tanpa Henti

Sesaat setelah Siti Hajar melahirkan anak idaman pasangan suami istri yang menjadi halilullah itu terjadi, ia bukan hanya sekedar kelaparan, tetapi juga mengalami derita karena segelas air putihpun tidak ada. Beberapa saat setelah proses kelahiran anak itu terjadi, tiba-tiba ia melihat genangan air di sebuah bukit yang disebut dengan shafa. Ia mengejarnya ke shafa. Tetapi setelah sampai di shafa, ia malah melihatnya di marwa. Ia terus bolak balik mengejar air sampai dikisahkan tujuh kali mengitari shafa dan marwa. Hasilnya Nol karena tidak ada setes air pun di bukit itu ia temukan. Ia malah menyaksikan air meluncur dengan deras di sekitar Ismail.

Apakah betul apa yang dilakukan Hajar atas apa yang dilihatnya? Dan Mengapa ia sampai tujuh kali mengitari shafa dan marwa itu, padahal betapa dia sangat dahaga dan sangat lapar? Mengapa tidak hanya sekali saja dia mengitarinya? Inilah proses pencarian hikmah dalam hidup dan berjuang menegakkan kehidupan yang berkeadaban.

Saya melihat cerita ini sebagai suatu pelajaran yang sama seperti pernah saya tulis tentang kisah burung pipit dalam proses pembakaran Ibrahim. Setelah bolak balik antara bukit shafa dan marwa, air yang sangat dibutuhkan itu ternyata datangnya justru dari bawah telapak kaki bayi yang kemudian diberi nama Ismail. Air justru tidak ia temukan di antara shafa dan marwa. Jadi ikhtiyar adalah satu hal, hasil ikhtiyar adalah hal lain.

Relasi dan Hikahnya dengan Darah Syuhada dan Tinta Ulama

Rasul Muhammad suatu hari menyatakan: Tinta ulama lebih mulia daripada darah para syuhada. Sebabnya adalah karena lewat tinta ulamalah (baik tulisan maupun lisannya), para syuhada mengetahui dan tergetar jiwanya untuk berjihad. Tentu makna lain yang maknanya lebih baik adalah jika mampu mempertemukan antara tinta dan darah yang terkandung dari kisah dimaksud. Mereka yang demikian ini dapat kemuliaan ulama dan syuhada sekaligus. Tapi tidak semua orang memiliki tinta untuk menulis maupun berdakwah, namun semua orang punya darah. Jadi masih ada peluang untuk meraih kemuliaan seorang syuhada. Maka bila darah belum menetes, teruslah berjuang sampai titik darah terakhir.

Bagi saya secara pribadi, tinta dan darah ulama, tentu merekalah yang berhak meraih kemuliaan tertinggi. Energi Inilah yang tampaknya telah membakar semangat juang umat islam sepanjang sejarah, termasuk yang mungkin baru kita saksikan pada aksi 411, atau aksi lanjutannya misalnya pada 212. By. Drs. H. Maman Supriatman, M.Pd


Edisi Membela Kebenaran :

Part 1 : Fenomena Pembunuhan Karakter Bangsa

Part 2 : Berjuang Meskipun Kecil Dalam Membela Kebenaran

Part 4 : Balada Kumis Udang Sebelah Kiri dalam Membela Kebenaran

  1. Umi hilya berkata

    Punteen paa… Sy tertarik dgn tulisan bpk di atas, terutama di bagian Rosul mengatakan bahwa tinta ulama lebih mulia drpd darah syuhada….
    Itu bunyi hadist nya sprt apa ya paa…. Dan apakah itu hadist sohih….

    1. lyceum
      lyceum berkata

      hadit dimaksud, dirujuk dari karya imam al Ghazali dalam kitab Keutamaan orang berilmu. Hadits dimaksud berbunyi: “Orang yang paling dekat dari derajat kenabian adalah ahli ilmu dan jihad (perjuangan). Adapun ahli ilmu maka mereka menunjukkan manusia atas apa yang dibawa para rasul, sedangkan ahli jihad maka mereka berjuang dengan pedang (senjata) mereka atas apa yang dibawa oleh para rasul [Abu Na’im dalam Fadhlul ‘alim al ‘afif ‘dari hadits Ibnu Abbas dengan sanad yang lemah.]. Hadits ini kemudian diterjemahkan bebas … termasuk dalam tafsir sebagaimana dapat dibaca dari tulisan di atas. Namun demikian, beberapa ahli takhrij hadits, ada yang menyebut bahwa hadits dimaksud dhaif. Di antara ulama yang mendhaifkan dimaksud adalah:
      Al-Imam Al-Albani di dalam Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah No. 4832.
      Al-Imam Adz-Dzahabi di dalam Mizanul I’tiwal : 3/517.
      Al-Imam Asy-Syaukani di dalam Al-Fawa’id Al-Majmu’ah : 17.
      Al-Imam Al-’Amiri di dalam Al-Bahtsul Hatsis Fi Bayani Ma Laisa Bihadits ; 203.
      Syaikh Muhammad Rasyid Ridha di dalam Majalah Al-Manar : 3/698.
      Sumber: http://www.bimbinganislam.com/manhaj/item/168-tinta-ulama-lebih-baik-daripada-darah-syuhada. Syukran katsir ….

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.