Biarkan Hujan Bercerita

0 100

Senja itu hujan menemani perjalananku selepas menjalankan beberapa pekerjaan. Aku menikmatinya diatas motor lusuhku menyusuri jalan yang becek, beberapa ruas sudah rusak dan banyak sekali kubangan, namun itu tidak menghalangiku untuk tetap menikmati hujan dan kembali pulang. Banyak sekali orang menyampaikan, hujan selalu membawa kesan tersendiri bagi penikmatnya. Tidak sedikit pula penomena alam yang menjadi tanda keagungan Tuhan memberikan inspirasi-inspirasi dalam kehidupan. Hujan yang menjadi bentuk rahmat Tuhan bagi makhluk-Nya, menyegarkan kegersangan yang nyata, dan menjadi salah satu saat dikabulnya do’a.

Hujan adalah presipitasi yaitu turunnya air dari permukaan bumi berasal dari kondensasi uap air yang kemudian menjadi butiran air yang bertabrakan dengan awan. Hujan merupakan fenomena alam yang biasanya diiringi fenomena-fenomena lain yang lebih indah, seperti pelangi dan halilintar.

Sepanjang perjalanan, berkeliaran beberapa memori ketika aku menikmati hujan. Memori masa kecil yang bergelanyut mesra, memori yang membekas dengan apapun keadaan, memori bersama kedua orang tuaku ketika menatap hujan di kamar depan rumahku dulu di kampung. Rumah yang menjadi sumber kebahgaiaanku waktu itu, tempatku belajar, mengeluh, dan melakukan apapun yang kusuka. Rumah dimana hanya aku dan kenangan, yang sekarang telah rata dengan tanah kenyataan. Ya, rata. Bukan hanya bangunannya yang telah rata dengan tanah, melainkan kenangannyapun ikut rata dengan kenyataan sekarang, bahwa sudah tidak ada aku dan keluargaku di rumah itu. Masa kecil yang bagiku sangat indah.

Sebuah kenangan dimana kami bisa menikmati hujan dengan semangkuk mie instan dengan mentimun bersama, kenangan dimana ketika langit-langit bocor bapak dengan sigap membenarkan genteng dan mamah berteriak-teriak karena bocornya sudah dimana-mana sedangkan aku asik bermain air di kucuran depan rumah. Ah sekelibat aku kembali disadarkan agar tak terbawa memori-memori itu dan mengganggu konsentrasiku dalam mengendarai motor, karena tanpa aku sadari lelehan hangat sudah jatuh dipipi tembilku.

Kembali ku fokuskan diri pada jalan dan sesekali menatap kaca sepion. Hujan masih dengan deras, perjalanan menuju tempat tujuanku masih cukup jauh. Sekilas aku teringat kembali saat bersama mamah pulang dari menjenguk adikku yang di asrama, waktu itu sudah sore bahkan hampir magrib. Karena dari pagi belum makan kami sejenak beristirahat di warung makan favorit kami, warung makan sederhana dengan sambel dadak yang khas. Memang waktu itu sudah mendung, tapi perut kami minta diisi jadi mamah putuskan untuk makan dan beristirahat disana. Makan selesai, hujanpun dengan deras turun. Sembari menunggu reda, kami berbincang-bincang tentang harapan-harapan yang kami namun sudah hampir satu jam hujan tidak kunjung reda.

Ada hal unik setiap kali makan di warung makan ini, mamah sering memarkir “si pipit”-sebutan untuk motor butut kami- jauh dari tempat parkir, bukan karena penuh atau apa. Lebih pada kami sering kali merasa minder, karena biasanya kendaraan-kendaraan yang terparkir adalah kerndaraan beroda empat elite. Padahal harga nasi di warung makan tersebut tidaklah mahal, cukup untuk kelas kami dan memang terbilang murah. Jadi ketika kami akan pulang dalam keadaan hujan kami harus berlari tentunya tanpa ada tawaran payung dari yang biasa menjajakan payung pinjaman.

Kami menerobos hujan menuju si pipit yang terparkir DPR (Di bawah Pohon Rindang), kebetulan banjir sehingga ketika kami lari sendal jepit mamah terbawa air. Kami tertawa terbahak karena merasa konyol. Maklum karena mesin si pipit sudah mulai tua juga, ketika kehujanan membuat si pipit susah untuk dinyalakan, mungkin businya kena air dan terpaksa kami dorong sambil terus berusaha menyalakannya.

Bersyukur si pipit bisa melaju kencang lagi, kami melanjutkan menerobos hujan. Ah sembari terus bersyukur, aku berkata:

“mamah..mudah-mudahan esok atau lusa saya sudah bisa membeli kendaraan yang lebih layak untuk mamah, kita tidak harus parkir jauh lagi, kita tidak dorong si pipit lagi karena terlalu tua. Nanti mamah tidak harus kehujanan lagi, mamah duduk nyaman bersama saya.” Sembari kupeluk mamah erat,

“aamiin, nak..aamiin sama mamah didoakan setiap waktu, semua yang mamah lakukan juga untuk kebahagiaan anak-anak mamah.”

Ternyata, si pipit ngadat lagi dan akhirnya kami harus dorong sedangkan perjalanan sekitas 15 menitan lagi dengan jalan sedikit naik. Kami dorong, sepanjang perjalanan itu. Sembari terus berharap ada bengkel yang masih buka di magrib-magrib hujan dersa seperti itu. Tersimbah air hujan dari bus-bus yang lewat, beberapa kali berhenti karena kelelahan akhirnya sampai di bengkel dekat rumah.

Ternyata Hujan sedang bercerita

Ah..kenangan itu begitu membekas, dan sekarang aku mengendarai motor sendiri bukan dengan si pipit dan mamah.

Kali ini pun perutku keroncongan, mungkin sudah waktunya pula dia diisi. Takut nanti cacing di perutku demo, akhirnya kutepikan motor di warung makan langgananku yang dekat dengan tempat kerja. Sembari menunggu pesanan, aku tersenyum sendiri mengingat sepanjang perjalanan tadi. Ternyata hujan sedang bercerita.

Setelah perut kenyang, aku tak segera pergi. Masih menikmati hujan, kutatap setiap butiran yang jatuh ke tanah. Derasnya begitu putih pekat mambatasi pandangan. Beberpa kendaraan tetap menorobos hujan, beruntunglah yang masih dapat berteduh entah yang berada di rumah, mobil, sekolah, atau temapt teduh lainnya. Seperti aku yang berteduh di warung makan ini.

Mungkin ada di suatu tempat seseorang yang bernasib sama seperti yang aku alami, membiarkan hujan bercerita tentang masa lalu. Mungkin juga ada seseorang yang sedang menatap hujan, membiarkan hujan bercerita tentang harapan-harapannya di masa depan. mungkin juga ada orang yang sedang bercerita dengan hujan saat ini, menceritakan apa yang dialaminya, membuat sebuah momen yang indah untuk menjadi sebuah cerita yang utuh. Itu sangat mungkin, Aku berpikir ada orang yang sedang menanti orang yang dicintainya pulang, seperti seorang istri menunggu suaminya pulang kerja, ada seseorang yang berharap diingat oleh seseorang yang entah orang itu akan mengingatnya kembali atau tidak, ada orang yang menangis karena dicampakkan, ada orang yang sedang khusyu beribadah, ada pula orang yang membiarkan hujan bercerita seperti yang aku alami sekarang.
Kubiarkan hujan bercerita, bercerita tentang dia, aku, atau mereka. Hujan punya cara, bagaimana membingkai sebuah cerita.***Intan Nurazizah Islami

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.