Inspirasi Tanpa Batas

Bidang Pengetahuan Dalam Pendidikan Islam

0 8

Konten Sponsor

Bidang pengetahuan terbagi menjadi dua bagian pokok, yaitu bidang ghaib dan bidang kasat mata. Adapun objek bidang ghaib adalah Allah, malaikat-malaikat-Nya, hal-hal yang berhubungan sebelum dan setelah kehidupan. Sedangkan objek bidang kasat mata adalah wujud secara total dan parsial.

Bidang ghaib dan kasat mata saling melengkapi dan mengisi satu sama lain sehingga pengetahuan pertama tidak sempurna kecuali dari pengetahuan bidang kedua. Oleh karena itu, Qur’an tidak mengarahkan untuk membahas sesuatu yang tidak berada di bawah pendengaran dan penglihatan. Hal ghaib dalam Islam berbeda dengan makna metafisika yang dalam filsafat Barat merupakan sesuatu yang tidak bisa dibuktikan dan tidak tunduk pada hukum. Muslim diharuskan tidak mempercayai sesuatu yang tidak bisa dibuktikan juga dengan sesuatu yang tidak memiliki hukum.

Konsep ghaib dengan makna ini adalah sudah ada dalam pemikiran Islam, imam Ar-Razi dalam tafsirnya menuliskan komentar tentang masalah ghaib yang muncul dalam ayat kedua dari surah Al Baqarah sebagai berikut: “Perkara ghaib adalah yang tidak bisa diindera. Kemudian yang ghaib terbagi menjadi yang memiliki dalil dan yang tidak memiliki dalil. Yang dimaksud dalam ayat ini adalah pujian bagi orang yang bertakwa yang beriman kepada yang ghaib yang memiliki dalil yang jelas di mana mereka memikirkan, menyimpulkan dan mempercayainya”.

Pembagian Bidang Kasat Mata

Adapun bidang yang bisa disaksikan juga terbagi menjadi dua bagian, bidang afaq (alam indera) dan bidang anfus (alam jiwa). Terhadap dua bidang ini Allah berfirman:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar” (Qs. Fushshilat [41]: 53).

Proses pengetahuan dalam bidang afaq dan anfus terkait secara integral dengan proses penciptaan. Sehingga pengetahuan adalah ilmu tentang kemuculan dan pembentukan makhluk dan pengetahuan keadaan-keadaan yang mengkondisikannya dan hukum-hukum yang menjalankannya, dan pengetahuan metode, sebab, sarana dan prasarana yang menjelaskan penciptaan.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (190) “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (191) (Qs. Al Baqarah [2]: 190-191).

Melalui proses penciptaan ini bejalan fenomena-fenomena tertentu yang saling bertukaran antara interaksi dan pengaruh dengan manusia. Sehingga berpengaruh pada kehidupannya dan ia terpengaruh dengan kreativitas dan kerja kerasnya. Oleh karena itu, manusia perlu mempelajarinya dan mempelajari watak, langkah dan cara mempengaruhi dan dipengaruhinya. Yaitu pengetahuan yang kontinu karena kontinuitas proses penciptaan dan fenomena-fenomena yang menyertainya.

Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar