Biografi Dewi Sartika – Pahlawan Pendidikan Nasional

0 773

BIOGRAFI Dewi Sartika – Dewi Sartika lahir di Bandung, 4 Desember 1884, dan wapat di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 60 tahun. Beliau adalah tokoh perintis pendidikan untuk perempuan, dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia di tahun 1966. Ayahnya, Raden Somanagara adalah seorang pejuang kemerdekaan. Terakhir, sang ayah diasingkan ke Pulau Ternate oleh Pemerintah Hindia Belanda hingga meninggal di sana.

Dewi Sartika dilahirkan dari keluarga priyayi Sunda, Nyi Raden Rajapermas serta Raden Somanagara. Meski melanggar adat saat itu, orang tua Dewi Sartika bersikukuh menyekolahkannya, ke sekolah Belanda.

Setelah meninggal ayahnya, Dewi Sartika dirawat oleh pamannya (kakak ibunya) yang berkedudukan sebagai patih di Cicalengka, Bandung. Dari pamannya, beliau mendapatkan didikan mengenai budaya sunda, sedangkan wawasan budaya Barat diperolehnya dari berkat didikan seorang nyonya Asisten Residen bangsa Belanda. Semenjak kecil, Dewi Sartika sudah memperlihatkan bakatnya dalam bidang pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan.

Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, beliau sering memperagakan praktik di sekolah, mengajari baca-tulis, dan bahasa Belanda, kepada anak-anak pembantu dalam kepatihan. Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar.

Raden Dewi Sartika yang mengikuti pendidikan Sekolah Dasar di Cicalengka, Bandung semenjak kecil memang sudah memperlihatkan minatnya di bidang kemampuan baca tulis. Dikatakan demikian karena semenjak anak-anak ia sudah gemar memerankan perilaku seorang guru. Sebagai contoh, sebagaimana layaknya anak-anak, biasanya sepulang sekolah, Dewi Sartika selalu main sekolah-sekolahan dengan teman-teman sebayanya, ketika tersebut ia sangat senang berperan sebagai guru.

Waktu tersebut Dewi Sartika baru berumur sepuluh tahun, ketika kampungnya digemparkan oleh kemampuan baca-tulis dan beberapa patah sebutan dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak-anak pembantu kepatihan. Gempar, karena pada waktu itu belum ada anak-anak (apalagi anak kaum jelata) memiliki kemampuan baca tulis seperti itu, dan diajarkan dengan seorang anak perempuan.

Sekolah Perempuan Pertama “Sekolah Istri”

Sekolah Perempuan Pertama "Sekolah Istri"

Dewi Sartika Berpikir agar anak-anak perempuan pada sekitarnya bisa memperoleh harapan menuntut ilmu pengetahuan, lalu ia berjuang mendirikan sekolah di Bandung, Jawa Barat. Ketika itu, ia telah tinggal di Bandung. Perjuangannya tidak sia-sia, dengan bantuan R. A. A. Martanegara, kakeknya, dan Den Hamer yang menjabat Inspektur Kantor Pengajaran ketika itu, lalu pada tahun 1904 Dewi Sartika berhasil mendirikan sebuah sekolah yang dinamainya “Sekolah Isteri” (Sekolah Perempuan) Sekolah pertama se-Hindia Belanda.

Awalnya tenaga pengajar di Sekolah itu hanya tiga orang, yaitui : Dewi Sartika dibantu dua saudara misannya, Ny. Poerwa dan Nyi. Oewid. Siswa angkatan pertamanya terdiri dari 20 orang.

Sekolah tersebut hanya 2 kelas sehingga tidak bisa menampung semua kegiatan sekolah. Maka untuk ruangan belajar, ia harus meminjam sebagian ruangan pendopo kabupaten Bandung. Awalnya, muridnya hanya 2 puluh orang. Murid-murid yang hanya wanita itu diajarkan berhitung, menulis, membaca, merenda, menjahit, menyulam dan ditambah pelajaran agama.

Sekolah Istri (Sekolah Perempuan) tersebut terus mendapatkan perhatian positif dari penduduk. Siswanya terus bertambah, bahkan ruangan pendopo kabupaten Bandung yang dipinjam sebelumnya pun tidak cukup lagi menampung siswa. Untuk mengatasinya, Sekolah Isteri (Sekolah Perempuan) itu kemudian dipindahkan ke tempat yang jauh lebih luas. Seiring perjalanan waktu, enam tahun sejak didirikan, pada tahun 1910, nama “Sekolah Istri” dirubah menjadi “Sekolah Keutamaan Isteri”. Perubahan bukan pada namanya saja, mata pelajarannya juga bertambah.

Ia berusaha keras mendidik anak-anak gadis agar kelak dapat menjadi ibu rumah tangga yang baik, bisa berdiri sendiri, luwes, dan terampil. Maka untuk itu, pelajaran yang berhubungan dengan pembinaan rumah tangga banyak diberikannya.

Untuk memenuhi seluruh biaya operasional sekolahnya, beliau harus rela banting tulang mencari dana. Semua jerih payahnya itu tidak dirasakan menjadi beban bagainya, tapi justru menjadi kepuasan batinnya sebab telah berhasil mendidik muridnya.

Salah satu yang meningkatkan semangatnya adalah dorongan dari berbagai pihak terutama dri|untuk Raden Kanduruan Agah Suriawinata, suaminya sendiri, yang telah membantu mewujudkan perjuangannya, mengorbankantenaga maupun pemikiran untuk beliau.

Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan Sakola Istri, kebanyakan di dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika.

Sakolah Kautamaan Istri

Pada tahun tahun 1912 sudah berdiri sembilan “Sakolah Istri” di seluruh kota kabupaten Pasundan. Memasuki usia ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi Sakola Kautamaan  Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan). Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum memiliki Sakolah Kautamaan Istri hanya tinggal tiga/empat, semangat Dewi Sartika ini meluas ke daerah lain yaitu ke Bukittinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh.

Seluruh kawasan Pasundan memiliki Sakolah Kautamaan Istri di seluruh kota kabupatennya. Pada tahun 1920, ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan. Bulan September 1929, Dewi Sartika mengadakan peringatan ulang tahun sekolahnya yang saat itu telah berumur 25 tahun. Dalam kesempatan itu sekaligus mengganti nama sekolahnya menjadi “Sakola Raden Dewi”. Atas jasanya dalam bidang ini, Dewi Sartika dianugerahi bintang jasa oleh pemerintah Hindia-Belanda.

Tahun 1906, Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata. Seseorang yang mempunyai cita-cita yang sama dengannya. Beliau adalah seorang guru di Sekolah Karang Pamulang, yang saat waktu itu adalah “Sekolah Latihan Guru”. Dewi Sartika meninggal 11 September 1947 di Tasikmalaya. Beliau dimakamkan dengan suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon-Desa Rahayu – Kecamatan Cineam -Kabupaten Tasikmalaya. Tiga tahun kemudian dipindahkan ke kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, kabupaten Bandung. ** (lyceum.id)

Sumber: id.wikipedia.org

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.