Bolehkah Menikahi Wanita tanpa Wali

0 151

Menikah tanpa Wali. Menarik membaca pertanyaan seperti tertera dalam judul di atas. Pertanyaan sejenis itu, terungkap ketika kami, teman-teman dari Real Estate Indonesia [REI], Kadin dan Masyarakat Meubeul Indonesia [MEI] bersama A�pimpinan BTN berkumpul di suatu malam. Sambil sedikit mencicipi kopi pahit, dalam suatu sasana ilmiah dan pagelaran wayang kulit di Cirebon, muncullah pertanyaan sejenis itu.

Hal yang sama, pernah suatu waktu, saya ditanya beberapa mahasiswa Pascasarjana, di tempat di mana saya turut mengabdi. Pertanyaan dimaksud, sebenarnya ditujukan mereka karena suatu kondisi, di mana, banyak kelompok profesional muda, yang mungkin langsung atau tidak, jauh dari istri mereka. Kaum profesional akhirnya banyak bergulat dengan pekerjaan yang kompleks.

Jawaban saya, selalu sama! Saya tidak memiliki kompetensi, bisa disebut tidak memiliki otoritas untuk menjawab pertanyaan sejenis ini. Apalagi menjadi semacam muztahid dalam bidang fiqih Islam. Karena itu, meski malam ini, saya menyampaikan sesuatu, pendapat ini tidak boleh dipandang tsiqah. Anggap saja, ini merupakan pelipur hati saat diskusi berlangsung. Dalam konteks lain, dapat pula difahami sebagai pintu kecil dalam keadaan darurat.

Kalaupun saya, sedikit memberi jawaban yang agak sedikit keblinger, ya karena faktor pendengaran saja. Kebetulan saya pernah mengikuti pengajian di pondok pesantran yang relatif lama. Inilah hasil pendengaran yang mampu saya cerna. Jawaban saya, terhadap soal dimaksud adalah sebagai berikut:

Pendapat Imam Madzhab Fiqih

Semua madzhab fiqih Islam yang dianut Muslim Indonesia [Syafia��i, Maliki dan Hambali], sama berkeyakinan bahwa menikah tanpa wali adalah tidak syah. Hal ini, disandarkan kepada hadits Nabi yang menyatakan: a�?Tidak ada pernikahan kecuali bersamanya ada wali dan dua orang saksi yang adila�?.[HR. Bukhari dan Muslim]. Inilah yang menjadi landasan Muslim Indonesia, mengapa saat pernikahan, seorang wanita harus didampingi seorang wali.

Dalam hadits yang bersumber dari Aia��syah, larangan menikah tanpa wali, tampak menjadi lebih tegas. Hadits itu, menyatakan: a�?Dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu a�?alaihi wasallam bersabda: a�?Wanita manapun yang menikah tanpa seizin walinya maka nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batala�? (HR Turmudhi dan Abu Daud).

Namun demikian, ternyata Imam Abu Hanifah menyatakan berbeda.A� Ia menyatakan bahwa apa yang dinyatakan Aisyah dengan hadits di atas, ternyata berbeda dengan apa yang dilakukan Aisyah sendiri. Ia menyebut bahwa Aisyah justru pernah menikahkan seorang wanita tanpa seorang wali. Kisah Aisyah yang menikahkan wanita tanpa wali dimaksud, dapat dibaca dalam kitab al Muwattha. Kisahnya sebagau berikut:

“Diceritakan kepadaku, dari Malik, dari a�?Abdurrahman bin Al-Qaasim, dari ayahnya: Bahwa Aia��syah [istri Nabi shallallaahu a�?alaihi wa sallam], telah menikahkan Hafshah bintu a�?Abdurrahmaan dengan Al-Mundzir bin Az-Zubair. Saat pernikahan itu berlangsung, a�?Abdurrahmaan [ayah dari wanita yang dinikahkan Aisyah], berada di Syam. Ketika a�?Abdurrahman datang ke Medinah, ia berkata dengan kecewa: a�?Orang sepertiku memang pantas diperlakukan seperti ini, dan tidak pantas dimintai pertimbangana�?. a�?Aia��syah lalu berbicara kepada Al-Mundzir bin Zubair …. Tiba-tiba Al-Mundzir berkata : a�?Itu terserah a�?Abdurrahmaana�?. a�?Abdurrahmaan berkata: a�?Aku tidak akan menolak sesuatu yang telah engkau putuskana�?. Maka Hafshah pun tetap menjadi istri Al-Mundzir. Perkataannya tidak dianggap sebagai thalaqa�? [Diriwayatkan Malik dalam Al-Muwaththaa�� no. 1280 dianggap sebagai hadits yang shahih].

Argumentasi Abu Hanifah

Selain itu, abu Hanifah juga berhujjah dengan hadist sahih lain dengan keperluan menolak hadist di atas sebagaimana Aisyah menceritakannya. Hadits yang disadur Abu Hanifah itu adalah: a�?Seorang Al-AyyimA�[wanita yang tidak bersuami; perawan atau janda]A�lebih berhak kepada dirinya daripada walinyaa�?. Imam abu Hanifah juga mengomentari bahwa maksud ungkapan hadist la nikaha [tidak ada pernikahan] bukan berarti menikah menjadi tidak syah karena tidak ada wali. Tetapi, hal itu lebih bermakna kesempurnaan. Yang penting pernikahan itu, haruslah sekupu [sepadan] dengan dirinya.

Artinya, menurut Abu Hanifah, wanita yang Al Ayyin, memiliki kebebasan dalam soal aqad jual beli atau aqad urusan-urusan lain. Hal ini, dapat menjadi qiyas bahwaA�mereka juga bebas secara mutlak tentang aqad perkawinan. Mengapa bisa demikian? Sebab menurut Abu Hanifah, sejatinya tidak ada perbedaan antara satu aqad dengan aqad lain, termasuk dengan akad pernikahan.

Kalangan pengikut Abu Hanifah juga berpendapat, bahwa mengqiyaskan wanita dengan lelaki dalam mewalikan diri sendiri setelah aqil baligh itu syah. Dengan pengertian ini, maka, menghalangi wanita yang aqil dan baligh untuk menikahkan dirinya sendiri, adalah bertentangan dengan prinsip dasar Islam yang asasnya qawa`id al-Islam al-ammah. Berbagai sumber –Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Komentar
Memuat...