Bolehkah Nikah Mut’ah

0 6.686

Nikah Mut’ah. Kalimat tadi dapat diterjemahkan dengan Nikah Kontrak. Itu bukan judul film, tetapi, lebih sebagai dialektika hukum dalam Islam.Ai?? Tema itu, belakangan lagi ramai dibincangkan di kalangan profesional muda Indonesia. Tema ini, juga menjadi perbincangan karena dianggap sebagai menyebarnya ajaran Syi’ah di Indonesia.

Nikah Mut’ah masuk dalam ranah kajian fiqih Islam. Sampai saat ini, meski ditolak keras khususnya madzhab sunni, tetapi perjalanannya masih tetap debatableAi??dan secara diam-diam, masih banyak, termasuk kaum sunni yang tetap melakukannya. Istilah kawin kontrak, dalam Islam, sangat populer memang, khususnya di kalangan Syiai??i??ah Itsna ai???Asyariyah. Mereka memperbolehkan melaksanakanAi??kawin Mut’ah.

Dalam pendekatan bahasa, kata Mutai??i??ah sebenarnya memiliki asal usul suku kata dengan “Tamattuai???.Ai?? Artinya: “bersenang-senang atau menikmati”. Bagi yang pernah melaksanakan ibadah haji,Ai?? pasti pernah mendengar kata tamattu. Suatu istilah yang “memperbolehkan jama’ah haji untuk melaksanakan umrah terlebih dahulu, sebelum melaksanakan ibadah haji.

Dengan catatan, hujjaj dimaksud, membayar dam setara dengan satu ekor kambing. Mengapa? Karena seharusnya, ia melaksanakan haji, baru berakhir atau diakhiri dengan melaksanakan umrah. Inilah kegiatan haji yang disebut dengan kelonggaran, agar jama’ah dapat menikmati perjalanan haji.

Kata tamattu dipakai untuk perkawinan dengan perjanjian tertentu. Namanya disebut dengan mutai??i??ah. Suatu jenis pernikahan yang dibatasi dengan perjanjian tertentu dalam konteks waktu dan upah tertentu. Nikah sejenis ini, tidak memperhatikan adanya perwalian dan keharusan adanya saksi. Setelah batas waktu yang disepakati, maka, dengan sendirinya berlangsung perceraian. Perkawinan sejenis ini, tidak juga terikat olehAi??hukum kewarisan apabila satu di antara keduanya yang menikah itu bercerai atau mengalami kematian.

Dalil yang Membolehkan Nikah Mut’ah

Nikah sejenis ini, menurut banyak kalangan, diperbolehkan dalam madzhab teologi syi’ah. Namun demikian, nikah yang demikian, menurut kelompok sunni dianggap sebagai zina. Pernikahan sejenis ini,Ai??murni hanya mempertimbangkan hubungan seks dengan berdasarkan mahar tertentu dan kenikmatan semata. Masa berlakunya pernikahan mut’ah dapat berlangsung selama setengah jam, satu jam, satu hari, satu minggu, satu bulan dan seterusnya.

Pada awalnya, Islam memang pernah membolehkan pernikahan dengan cara mutai??i??ah, namun kemudian Nabi menghapusnya, sampai hari qiyamat. Hal ini tergambar dari hadits Rasulullah melalui periwayatanAi?? Abdullah bin Masai??i??ud. Ia menyatakan: ai???Kami berperang bersama Rasulullah, kami tidak membawa istriai??i??istri kami. Lalu kami berkata, ai???Bolehkah kami berkebiri?ai??? Rasulullah awalnya melarang. Tetapi kemudian beliau memberikan keringanan untuk menikahi wanita dengan mahar pakaian sampai batas waktu tertentuai??? [HR. Ahmad].

Dalam periwayatan Jabir dan Salamah bin al Akwa, ia menyatakan bahwa Rasulullah Ai??pernah berkata: ai???Telah di izinkan bagi kalian untuk menikah mutai??i??ah maka sekarang mutai??i??ahlahai??? [HR. Bukhsri]

Hadits-hadits di atas, kelihatannya diperkenankan Rasul dalam keadaan umat Islam sedang melakukan peperangan. Posisinya sangat terbatas dan kesulitan untuk dapat menghadirkan istri mereka ke medan perang. Oleh karena itu, nikah Mut’ah murni hanya dalam keadaan yang sangat darurat.

Dalil yang Melarang Mut’ah

Di lain waktu, Rasulullah bersabda: ai???Wahai manusia! Sesungguhnya aku dulu pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mutai??i??ah. Namun sekarang Allah Azza wa Jalla telah mengharamkan nikah tersebut sampai hari kiamatai???. [HR. Muslim].

Banyak catatan, yang menyebut bahwa di zaman Abu Bakar dan Umar ketika menjadi khalifah, banyak sahabat yang melakukan nikah mutai??i??ah karena mereka belum mendengar berita tentang diharamkannya nikah mutai??i??ah untuk selama-lamanya.

Bagi kita yang hidup di zaman penuh kedamaian seperti saat ini, sesungguhnya tidak memiliki alasan kuat untuk melaksanakan kawin kontrak. Sebab dalam banyak kasus, kawin kontrak, justru akan mengurangi tujuan dikeluarkannya syari’at tentang perkawinan, yakni menjaga keturunan.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.