Yanti Membuat Alamsyah Makin Terpana | Nokhtah Kerinduan Tuhan Part – 7

Yanti Membuat Alamsyah Makin Terpana | Nokhtah Kerinduan Tuhan Part-7
0 112

Setelah siang itu berlalu, Alamsyah mulai tidak mengerti terhadap pikiran dan perasaannya sama Yanti. Dia selalu penasaran jika di pagi hari saat akan masuk ke ruangannya, untuk tidak mampir ke ruangan Ghina. Laki-laki dingin yang lama tinggal di luar negeri dan cenderung kurang peduli terhadap pegawainya itu, maklum dia dianggap sangat cerdas, membuat hidupnya hanya dihabiskan untuk memikirakn diri dan pekerjaannya. Perkawinan dengan istrinyapun dilangsungkan 7 tahun lalu, berlangsung atas usaha ibunya. Istrinya bukan merupakan pilihan yang diinginkan Alamsyah sendiri.

Ghina heran, mengapa setiap pagi ia jadi sering menyambangi ruangannya. Di satu sisi ia bangga karena bossnya sudah berubah watak. Namun di sisi lain, ia merasa ada sesuatu yang asing dan itu tidak ada hubungannya dengan urusan pekerjaan perkantoran. Sebagai seorang perempuan yang sudah menikah, ia justru melihat ada gejala yang berbeda dan itu berkaitan dengan suatu rasa. Rasa yang mungkin masih disembunyikan boss kepada dirinya. Itulah yang ada dalam benak Ghina.

Yanti Mengikuti Program Sarjana Ekstensi

Setelah perjalanan pekerjaan berlangsung satu tahun, Yanti disarankan untuk mengambil kuliah program ekstensi atas biaya kantor dalam Program Study Kebijakan Publik. Alamsyah berharap melalui bidang ini, perusahaan yang dijalankannya dapat direlasikan dengan kebijakan-kebijakan yang ditempuh atau akan ditempuh pemerintah baik dalam skala Makro maupun mikro. Biro khusus yang menangani bidang dimaksud, sudah lama dipimpin oleh sseorang yang sebentar lagi akan pensiun. Yantipu akhirnya kuliah pada sore hari setiap Jum’at dan Sabtu. Betapa bahagianya Ghina saat akhirnya, Yanti dapat meneruskan kuliah. Ghina sendiri juga sama, ia diberi kesempatan untuk mengambil bidang yang digenggamnya dalam program S3.

Ghina dan Yanti bahu membahu menyelesaikan setiap titik persoalan yang dihadapi perusahaan. Karier Yanti-pun terus menanjak. Terlebih tentu Ghina. Mereka berdua seperti sepasang serigala yang akan menerkam siapa saja yang mengganggu perusahaan ini. Empat tahun sudah Yanti berada di perusahaan, sampai kemudian ia mendapatkan Gelar Sarjana Kebijakan Publik dan langsung dinominasi menjadi Leader staff dengan dikasih mobil dinas kantor. Iapun sudah pindah menempati rumah miliknya yang memiliki standar lebih baik dibandingkan dengan rumah kontrakannya.

Yanti Dicintai Alamsyah

Setelah empat tahun itulah, Ghina tahu kalau Alamsyah ternyata bukan hanya sekedar simpati sama Yanti, tetapi, juga mencintainya. Hal itu diketahui Ghina karena Alamsyah mengungkapkan semua rasa yang dimilikinya kepada Ghina secara bebas. Inilah petikan bahasa Alamsyah kepada Ghina tentang Yanti.

“Ghina … salahkah jika seorang laki-laki seperti aku yang telah memiliki istri dan anak, mencintai seorang perempuan yang telah beranak pula. Sejujurnya, sejak Yanti menghabiskan magangnya di perusahaan ini, aku demikian terpesona oleh sikap dan segala hal yang terkait dengan dirinya.  Cuma aku ragu. Ragu bukan atas rasaku atau konsekwensi apa yang harus aku tanggung. Aku takut jika cinta ini bertepuk sebelah tangan. Hal lainnya, adalah aku takut tak mampu menjadi suami yang baik, baik terhadap Yanti atau terhadap istriku”.

“Ghina menghela nafas dan kemudian dia menyeka mukanya. Ia mengatakan bahwa, sejujurnya, aku sendiri adalah pemilik seorang laki-laki yang memiliki istri lebih dari satu. Aku adalah istri keduanya. Jadi kalau menurutku, daripada anda berdosa, lebih baik tanya saja Yanti. Apakah dia berkenan atau tidak untuk dijadikan istri kedua boss.

“Alamsyah mengatakan, itu tugasmu Ghina. Aku tak mampu karena aku belum pernah menyatakan bahwa aku mencintai seorang perempuan. Istri yang menjadi pendampingku, tidak dipinang sama aku, tetapi dipinang sama ibu dan bapakku. Jadi tolonglah aku kata Alamsyah memelas. Ghina menjawab, ya oke akan saya coba usahakan, tetapi minta waktu setidaknya dalam satu bulan ini, tetapi, jika hhasilnya nihil tidak seperti yang diharapkan, jangan biarkan dia hidup terlunta ya… tuan. Dia adalah seorang perempuan yang sangat baik dan istimewa”. Oke kata Alamsyah penuh harap

Dialog itu, telah membuat bingung untuk mengungkapkannya kepada Yanti. Takut, jika Yanti salah faham dan membuat dirinya menjadi tidak nyaman. Namun setelah berpikir berhari-hari, akhirnya menyampaikannya kepada Yanti, perihal apa yang diminta Alamsyah. Dan setelah disampikan kepada Yanti, ia hanya tersenyum menandakan kesetujuan atas apa yang disampaikan Ghina. Yanti sadar, bahwa Alamsyah sesungguhnya sudah lama memiliki perhatian khusus kepada dirinya. Yanti dengan berucap La ilaha Illa Allah … menerima dan memintanya untuk disaksikan Ghina saat Yanti dan Alamsyah bertemu. By. Charly Siera

Komentar
Memuat...