Home » Sosial » Hikmah Hidup » Budaya Memberi, Pintu Menuju Kebahagiaan Hidup | Takwa Part_3

Share This Post

Hikmah Hidup

Budaya Memberi, Pintu Menuju Kebahagiaan Hidup | Takwa Part_3

BUDAYA Memberi. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Ini bukan hanya pepatah, tetapi juga sunnah. Sunnah yang diajarkan Nabi Muhammad yang berposisi dan berfungsi sebagai Nabi dan Rasul yang terakhir. Nabi yang proses penciptaannya, ada sejak manusia lain belum ada. Bahkan penciptaannya, menjadi awal bagi seluruh ciptaan Tuhan. Law laka law laka ya Muhammad, ma khlaqta hadza al aflaq. Inilah hadits Qudsi yang juga dijadikan sandaran oleh theosof Muslim bernama Al Jilli yang mengatakan bahwa seluruh cahaya jagad raya, terjadi karena Nur Muhammad dalam suatu teori yang kemudian disebut dengan emanasi (Ingg) atau al fayd dalam bahasa Arab. Teori tentang pelimpahan dalam penciptaan inilah yang kemudian menempatkan Nabi Muhammad sebagai cincinnya para Nabi dan sekalgius menjadi akhir kenabian.

Memberi adalah Ciri Manusia Bertakwa

Memberi itu, adalah ciri ketakwaan. Banyak cerita dan kisah sukses, diawali dari kebiasaan memberi. Sebaliknya banyak kisah kebangkrutan dan kesengsaraan hidup justru diawali dari sikap dan karakter yang bakhil atau pelit. Suatu sikap di mana, orang menjadi demikian cinta terhadap kekayaan dan harta benda yang dimilikinya, akan menjadi jalan bagi seseorang itu, untuk menjadi bakhil. Padahal kebakhilan adalah cara manusia menuju kebangkrutan.

Kyai saya, namanya Haji Kholid. Dulu sewaktu saya ngeders ngaji di kampung, membagi ciri manusia pemberi itu dengan tiga karakter. Pertama, ia memberi sesuatu yang diawali ketika ada yang meminta. Ia tidak menyakiti hati siapapun yang datang kepadanya untuk meminta sesuatu dirinya. Inilah peberi kelas awam. Kedua, seseorang yang memberi sesuatu dengan menambah dari apa yang dia minta. Jenis manusia dalam karakter ini adalah, mereka yang disebut dengan dermawan. Misalnya, Ibrahim yang digelari halilullah, berhasil memperoleh gelar dimaksud karena kedermawanannya. Ia bukan hanya menjadi Nabi, tetapi, juga saudagar kaya dan petani yang makmur. Suatu waktu ia dimintai seekor kambing dari peternakan yang dimilikinya. Ia diminta satu, namun karena ia tahu bahwa kebutuhan yang meminta itu lebih dari satu, ia memberinya bahkan lebih dari seratus. Ketiga, adalah mereka yang memberi sesuatu dengan tidak diawali oleh permintaan dari mereka yang membutuhkannya. Inilah kedermawanan tinggi. Contohnya, Nabi Ibrahim juga beserta para Nabi lain.

Rekomendasi untuk anda !!   Yakin pada Kebenaran Kitab Suci Pintu Menuju Kebahagiaan | Takwa Part_5

Para Nabi berbeda dengan Qarun dan Tsa’labah. Keduanya selalu menjadi cerita buruk yang dikenang sejarah kehidupan umat manusia meski dalam lakon sejarah yang berbeda satu sama lain. Qarun zaman Nabi Musa, sedangkan Tsa’labah berada di era Nabi Muhammad. Mereka kembali jatuh miskin, justru setelah mereka kaya raya, karena mereka masuk dalam kategori manusia yang bakhil.

Tak Ada Batasan dalam Memberi

Seberapa banyak kekayaan yang dapat kita berikan kepada orang lain yang kita sebut sebagai manusia yang dermawan? Tidak ada batasan dalam jumlahnya. Al Qur’an hanya mengatakan ” Wa Mimma Razaqna hum Yunfiqun“. Memberikan sebagian dari rizki yang kita miliki sebagai bentuk infaq kepada siapapun yang membutuhkannya. Namun jika membaca ayat lain, Allah mengatakan bahwa kita dituntut untuk tidak bakhil sekaligus untuk berlebihan sehingga menjadi beban baru bagi kita. Inilah yang disebut proporsional. Dalam soal memberipun dibutuhkan proporsionalisme.

Ada orang yang merasa malu untuk menjadi dermawan karena apa yang kan diberikannya itu, dirasa kurang berharga. Dalam soal ini, saya secara pribadi, mengutip pertnyataan almarhum bapak saya, ia mengatakan bahwa ciri manusia dermawan bukan hanya dalam konteks besar atau kecilnya apa yang kita berikan, tetapi ketulusan yang kita miliki. Dia mengatakan, jangan kau malu memberikan sesuatu kepada orang lain, sekalipun barang, benda atau makanan dan minuman itu dianggap tidak berharga.

Siapapun yang suka memberi air, ia tidak akan pernah kekurangan air. Siapapun yang suka ngasih makan, ia tidak akan pernah kekurangan makanan. Siapapun yang suka ngasih pakaian, ia tidak akan kekurangan pakaian. Siapapun yang suka melindungi manusia karena tidak memiliki hunian, maka, ia akan memiliki rumah yang banyak. Siapapun yang suka memberi uang, maka, ia tidak akan pernah kekurangan uang. Itulah hubungan timbal balik dan hanya Tuhan yang memiliki mizan atas setiap tonase barang yang kita berikan. Manusia sejenis itu, akan memperoleh kebahagiaannya sendiri karena ia hidup bersama Tuhan, wujud pemberi bagia segala pemberian. ** (Prof. Dr. Cecep Sumarna)

Share This Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>