Bukti Dibalik Mitos-mitos Jawa dan Kepentingan Kekuasaan

0 50

MASIH ingat, ketika mitos-mitos melingkari kekuasaan Bung Karno pada masa Orde Lama. Konon Presiden I Republik Indonesia itu memiliki sejumlah keris dan besi kuning. Karena itu siapapun yang ingin berbuat rusuh untuk menumbangkan kekuasaannya, maka jimat-jimat itulah yang akan menjadi perisai dirinya.

Demikian pula pada Soeharto, presiden pengganti Soekarno, banyak mitos Jawa yang melingkupinya. Sehingga antara mitos dan kekuasaan saling berkaitan erat dan terlebih memunculkan kewibawaan seseorang.

Mitos Bagian dari Kearifan Lokal

Namun pada sisi lain, mitos juga merupakan bagian dari kearifan lokal yang memberikan makna atau pemahaman yang jauh mendalam terhadap kearifan itu sendiri. Seperti dinyatakan antropolog Muhaimin A. G. Mitos-mitos yang banyak ditemui dan berkembang di berbagai satuan budaya sering dipandang sebelah mata oleh sebagian orang Karena dianggap ilusi belaka.

Mitos hendaknya tidak hanya dibaca dari otentisitas materialnya saja, tetapi dari makna esensi dan pesan sosial serta pesan kultural dari, dan bagi masyarakat pemiliknya.

Pada satu sisi ini pandangan Muhaimin bisa jadi benar. Pada mitos yang sengaja diciptakan kalangan dalang wayang misalnya. Termasuk ulama awal masuknya Islam di tanah Jawa. Seperti Sunan Kalijaga yang memitoskan tentang “Puntadewa (Raden Samiaji) putra Pandawa yang masuk Islam”.

Karena ia merasa memiliki kekuatan gaib pada sanggulnya yang berisi dua kalimat syahadat (jamus laying kalimah syadah). Demikian pula pada lakon “Ki Semar Munggah Kaji” pada wayang Cirebon yang berisi tuntunan untuk orang awam tentang cara-cara pergi haji merupakan metode pendidikan untuk rakyat yang benar-benar dirasakan manfaatnya.

Sedemikian kuat mitos itu mengendap secara kolektif pada memori masyarakat, sehingga apapun yang diduga diciptakan Sunan Kalijaga dianggap sebagai sesuatu yang bertuah. Pada gamelan sekaten yang ditabuh setiap bulan maulid di Keraton Kanoman. Konon ketika gong itu ditabuh, maka wajib bagi setiap orang yang mendengarnya untuk membaca dua kalimat syahadat. Suatu metode dakwah yang luar biasa untuk masyarakat masa lalu yang pemikirannya masih diliputi mitis.

Mitos Dimanfaatkan Untuk Kepentingan Kekuasaan

Meski pada sisi lain, mitos pun dimanfaatkan untuk kepentingan kekuasaan. Sultan Agung Mataram misalnya, seperti diungkapkan dalam banyak cerita, bahwa sang sultan memiliki isteri bernama Nyai Roro Kidul. Dalam tafsiran masyarakat modern, ternyata mitos “perkawinan Sultan Agung dan Nyai Roro Kidul” itu dibuat untuk mengesankan. Mitos itu menyatakan bahwa Mataram, meski tak memiliki angkatan laut yang kuat, namun lautan yang menjadi wilayahnya tetap terlindungi.

Mitos Nyai Roro Kidul sampai sekarang masih hidup dalam memori kolektif masyarakat Jawa maupun Sunda. Pada hotel-hotel berbintang yang berada di lintasan laut selatan, selalu menyediakan kamar khusus untuk Ratu Kidul itu.

Di pantai utara Jawa memang tidak terdapat penguasa lautan semacam Nyai Roro Kidul, karena pada masa lalu kerajaan-kerajaan yang ada berusaha lepas dari Mataram. Maka yang berkembang pun berupa mitos-mitos khas yang muncul berbarengan dengan cerita awal masuknya Islam di daerah itu.

Kisah Ki Kuwu Pangeran Cakrabuana pergi haji hanya dengan hanya mengucap “Bismiillah” misalnya, merupakan mitos yang berkembang di jalur pantura Cirebon hingga saat ini. Pesan sesungguhnya adalah membaca “ismillah” penting dilakukan pada saat memulai pekerjaan.

Mitos merupakan sesuatu yang universal

Mitos merupakan sesuatu yang universal, artinya masyarakat di manapun di dunia ini mengenal mitos, meskipun ada yang mengalami penurunan (demitologi) terutama bersamaan dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Dalam masyarakat yang sudah maju pun masih memercayai adanya mitos. Di Barat misalnya, masih terdapat mitos pada angka 13 sebagai angka sial.

Masih banyak dijumpai hotel-hotel atau apartemen bertingkat yang menghindari angka 13, meski memang menujukkan tingkat 13. Namun mitos hanya “mengikat” bagi masyarakat yang memercayainya. Bagi suatu masyarakat yang tidak mempunyai hubungan kepercayaan terhadap mitos masyarakat lain, jelas mitos itu tidak berarti sama sekali (Machrus, Teologia 2008).

Dari sisi ini agaknya perlu pemaknaan secara arif mengenai mitos-mitos yang berkembang selama ini. Secara logika kita memang menolak mitos tersebut, namun dari sisi kearifan hendaknya kita bisa memaknainya, terutama pada pesan-pesan yang hendak disampaikannya.***

*) Oleh NURDIN M. NOER
Wartawan Senior, Pemerhati Kebuadayaan Lokal

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.