Bunga Terakhir dalam Novel Bergulat dengan Nafas Terakhir Part-2

0 24

Doddy-lah yang membantu membuka satu persatu kabel yang menyelimuti tubuh Fanny. Kabel yang menghubungkan perut, tangan, kaki dan mulut Fanny ke dalam komputer yang mendeteksi gejala terkecil sekalipun dari detak nafas dan memori berpikirnya. Senyum terakhir Fanny untuk Doddy selalu menjadi spirit bagi dirinya untuk tabah dan tegar, sekalipun air matanya tak mampu ia bendung.

Doddy membuka satu persatu kabel dari tubuh Fanny bersama suster rumah sakit. Iringan ayat-ayat suci al Qur’an telah membantu menghantarkan kepergian Fanny ke alam abadi. Gelegar tangisan dari penjuru kamar ICU Rumah Sakit Daerah Kabupaten Kuningan, telah menjadi saksi bisu bagaimana manusia kembali tersadarkan akan hakikat kehidupan yang akan menimpa siapapun akan suatu suasana di mana kita pada akhirnya merasa begitu singkat hidup di ini.

Setelah selesai membuka kabel-kabel itu, Dody mencium wajah Fanny dengan lembut. Bersama air matanya yang demikian deras mengucur di pipi Doddy, ia mengatakan: “Selamat Jalan kekasihku, Tunggulah aku di pintu Syurga, entah kapan waktunya, aku akan kembali menjumpaimu.

Doddy pula yang demikian tegar menemani istrinya dalam ambulance yang membawa dirinya ke pegunungan yang demikian dingin. Desingan suara ambulance terkalahkan oleh suara tangisan yang demikian membahana di rumah keluarga Fanny yang demikian besar. Keluarga besar ini, berkumpul dalam jumlah yang demikian banyak. Doddy dipeluk dan dicium oleh siapapun yang datang dan bertemu dengannya untuk menyampaikan bela sungkawa.

Setelah dimandikan dan dishalatkan oleh puluhan orang, mayat Fanny di bawa ke makam oleh petugas Masjid setempat. Doddy tentu ikut bersama semua rombongan yang mengantarnya ke pemakaman terakhir Fanny. Doddylah yang meletakkan kepala Fanny ke dalam tanah. Ia membuka tali pengikat mayat, dan kemudian ia menutupnya secara pelan-pelan. Terkuburlah sudah semua dimensi fisis Fanny di dunia, tetapi tidak dengan jiwa dan ruhnya yang selalu bernyanyi di otak dan di hati Doddy.

Setelah itu, pengantar mayat, secara perlahan meninggalkan kuburan itu satu persatu. Akhirnya kuburan itu sepi. Yang ada hanya Doddy dengan bunga-bunga yang sudah dipersiapkan saudara-saudara Fanny. Petikan bunga telah menghampar di atas kuburannya. Ada tiga tangkai bunga yang utuh dan ditancapkan di atas makamnya. Melihat bunga itu, Doddy tak kuat. Mengapa? Karena ia ingat bagaimana Fanny memberi bunga beberapa bulan yang lalu, setelah ia pulang dari perawatannya di rumah sakit.

Doddy ingat betul bagaimana saat dia dan Fanny pulang dari rumah sakit sehabis merawat Fanny beberapa hari. Dengan semangat, Doddy berangkat ke tempat kerjanya dan pamit kepada Fanny. Ia idzin mencari sedikit banyak rezeki yang mungkin dianggapnya dapat menambal kebutuhan hidup saat berada di rumah sakit. Gajihnya sudah habis untuk bulan itu. Ia hanya berharap mendapat honor dari hasil kerja tambahannya di sebuah institusi di mana dia bekerja.

Baca Juga: Untuk Dikenang

Namun ia pulang begitu lunglai, karena honor itu tidak ada untuk Doddy. Management kantor yang menggunakan Based on Result di mana Doddy bekerja, tak memberi ampun, tanpa alasan apapun, karena waktu acara digelar, Doddy tidak ada dalam event dimaksud, meski dalam susunan Surat Keputusan namanya ada. Ia tak bicara ketika sampai dan bertemu Fanny di rumahnya.

Aneh dan ajaib. Saat itu, Fanny memberi setangkai bunga dengan mengatakan: “Aa … jangan sedih. Aku tahu, kau bingung karena harapanmu gagal. Kita masih ada sedikit rezeki. Waktu kemarin aku dirawat, ada saudara kita yang memberi amplop. Belum aku buka. Ini uangnya. Dengan tangan yang sangat lemah, Fanny memberikan amplop itu dan dibukanya, ternyata berisi uang sebesar Rp. 500 ribu.”. Doddy tak kuasa menangis. Sementara Fanny meneteskan air mata dengan lembut. Mereka berdiri di pinggir kasur dan satu sama lain saling memeluk dengan erat. Linangan air mata tak mampu dibendung keduanya. Tangkai bunga melati yang dikirim pengunjung ke Fanny saat dirawat, dibawa Fanny ke rumah dan diberikan kepada suami bersama amplop yang berisi uang.

Fanny mengatakan: “jangan sedih A …. biarlah, Tuhan sedang menguji kita”. Aku tahu … ya aku tahu. Aa pasti tidak memiliki uang sedikitpun, termasuk untuk membeli gas dan susu anak kita. Doddy tak bicara. Ia hanya kembali memeluk Fanny dengan erat.  Itulah bunga terakhir. Dengan muka ditempel ke makam seperti sedang sujud, Doddy mengatakan: “Ya Tuhan, terimalah dia. Terima kasih kau telah membalutkan jiwanya bersama jiwaku. Aku tahu, dialah wanita terindah yang Kau titipkan untuk aku”. Charly Siera bersambung ke Edisi Saat Pertama Bertemu

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.