Cabang Kajian dalam Filsafat| Filsafat Ilmu Part – 3

Cabang Filsafat Filsafat Ilmu Part - 3
0 230

Sesuai dengan perkembangan dan dinamika masyarakat, filsafat berkembang tidak lagi berdiri sendiri hanya sebagai refleksi berpikir, tetapi ia kini telah berubah menjadi diisplin ilmu. Sebagai sebuah disiplin ilmu, filsafat tentu juga akan mengalami dinamika dan perkembangan sesuai dengan dinamikaa dan perkembangan ilmu-ilmu lain yang biasa mengalami pencabangan.

Filsafat sebagai sebuah disiplin ilmu, telah melahirkan tiga cabang kajian. Ketiga cabang kajian dimaksud adalah: Teori hakikat (ontology), teori pengetahuan (epistemologi), dan; teori nilai (aksiologi). Ktetiga cabang ini kemudian berkembang lagi dan masing-masing melahirkan cabang sendiri-sendiri. Berikut adalah pengertian tiga cabang besar dalam bidang filsafat dan perkembangan atau pencabangan dari tiga cabang besar itu.

Teori Hakikat

Teori hakikat adalah cabang filsafat yang membicarakan hakikat sesuatu atau hakikat benda. Ilmuwan menyebut bahwa teori hakikat ini sama dengan ontology yang tugasnya memberikan jawaban atas pertanyaan apa sebenarnya realitas sesuatu? Apakah sesuatu itu sesuai dengan penampakkannya atau ticiak? Untuk menjawab soal-soal tadi, para filosof menyelesaikan dan memberikan jawaban dengan menggunakan teori hakikat atau ontology.

Jawaban terhadap soal-soal tadi, sangat metafisik (penguatan terhadap eksistensi yange beyond), atau bisa menolak keberadaan atau eksistensi yang beyond. Karena itu, tidak salah juga jika dalam teori ini, ilmuwan membagi dan mencabangkan teori ini pada faham-faham seperti berikut ini:

Aliran Idealisrne

Aliran ini menganggap bahwa di balik realitas fisik pasti ada sesuatu yang tidak tampak. Bagi aliran ini, sejatinya sesuatu justru terletak di balik yang fisik. la berada dalam ide-ide. Yang fisik bagi aliran ini dianggap hanya merupakan bayang-bayang dan sifatnya sementara dan selalu menipu. Eksistensi benda fisik akan rusak dan tidak akan pernah membawa orang pada kebenaran sejati. Pemikiran ini diawali dari pemikiran Socrates, Plato (era Yunani), Stoa dan Neo-Platonisme (kaum patristik) dan al-Ghazali (di ciunia Islam).

Aliran Materialisme

Aliran ini menganggap bahwa sejatinya realitas adalah aspek materi. Bagi aliran ini, apa yang dimaksud dengan ide, justru akan muncul dari realitas materi atau realitas benda. Apa yang dimaksud dengan sejatinya sesuatu yang terletak di balik yang fisik yang dianggap kelompok idealitik sebagai sejatinya eksistensi adalah sesuatu yang absurd karena manusia tidak mungkin mencapai pengetahuan tentangnya.

Yang fisik bagi aliran ini dianggap sebagai sejatinya eksistensi. Bahwa betul aspek materi akan rusak, tetapi matinya satu materi, pasti akan melahirkan materi yang lainnya. la tidak sementara, tetapi abadi, meski hanya dalam sifat materi itu. Pemikiran ini diawali dari pemikiran Aristoteles dan Aristiphos (era Yunani), al-Raji (di dunia Islam) dan yang paling ekstrem tentu adalah Karl Marx.

Aliran Dualisme

Aliran ini tampaknya hendak menggabungkan (sintesis) antara eksistensi yang fisik dengan eksistensi yang metafisik. Bagi aliran ini, eksistensi sesuatu itu, dapat berupa yang fisik, dapat juga yang bersifat metafisik. Antara yang fisik dan metafisik, satu sama lain selalu seiring sejalan. Satu sama lain tidak dapat saling mengalahkan. Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.