Hamil Muda dan Runtuhnya Martabat Keluarga | Candu Asmara Remaja Part – 1

Candu Asmara Remaja Part - 1
0 557

Hamil Muda dan Runtuhnya Martabat Keluarga.Ai??Langkah kaki seorang laki-laki berumur 38 tahun, suatu pagi di tahun 2005, tampak sangat gontai. Ia bukan hanya gelisah, tetapi juga goyah. Bahkan iman kepada Tuhan-pun, hampir punah. Kokohnya pandangan dan pengalaman hidup dalam dunia bisnis yang kadang pragmatis, tiba-tiba merasa telah runtuh. Ia merasa seperti tidak memiliki masa depan karena sesuatu yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya. Harapan itu, akan masa depan mega bisnisnya, kini seperti telah sirna. Begitulah bathin laki-laki ini.

Imannya juga merasa hancur berkeping-keping. Tetesan air mata di kelopak mata yang gagah tak mampu ia bendung. Air mata itu terus mengalir deras. Tak mampu dihentikan sapu tangan yang selalu tersedia di saku celananya. Eksekutif yang masih muda itu, terjebak dalam lumpur kehidupan baru yang merasa kotor. Ia merasa martabatnya bukan hanya sekedar luntur, tetapi hancur berkeping-keping.

Laki-laki yang bernama Indra, dikampungnya dikenal sebagai pengusaha kaya. Saat itu, ia tidak mampu berucap apapun, kecuali langkah kaki yang gontai. Matanya kabur dan berkunang-kunang. Kemudian pingsan dan tak sadarkan diri.

Maklum, selain dia kenal kaya, juga dianggap memiliki keluarga yang relatif beragama. Karena itu, kabar pingsanya Indra, dengan cepat terdengar oleh teman-teman dan sanak keluarganya yang lain. Beberapa teman dekatnya, datang mengunjunginya. Kabar pingsannya Indra cukup mengagetkan warga. Keluarga kaya yang tampak sangat harmonis itu, tiba-tiba terkesan kaku dan cenderung menutup diri. Itulah moment paling histeria dalam sebuah rumah tangga.

Keluarga Indra, juga menjadi demikian tertutup. Ketika banyak koleganya datang mengunjungi Indra yang katanya pingsan itu, keluarga kecilnya menghalangi untuk menemui Indra. Ia dengan sigap hanya diangkat sopir keluarganya ke kasur lalu disuruh tidur dan istirahat. Istrinya menyeduh air panas yang dicampur teh dan gula. Indra dibiarkan berbaring dan tidur di atas kasur empuk miliknya. Para pengunjung disuruh pulang. Ia meminta untuk beristirahat sendirian tanpa ditemani siapapun.Ai?? Tetesan air matanya tetap terus mengucur deras. Tak sepatah katapun ia berbicara.

Shofia Mencari Kayla ke Sekolah

Sementara itu, setelah Indra sadar, istrinya pergi entah ke mana. Ia berangkat bersama supir keluarganya ke luar dengan mengendarai Mobil Inova seri V tahun 2005. Kepergian istrinya itu, di hari yang sudah mulai terang bahkan bergerak menuju siang. Mereka pergi entah ke mana. Tak ada seorangpun yang tahu. Tokonya ditutp. Di rumah, Indra yang tadi pingsan dan hanya ditemani pembantunya, dan anak kedua Indra yang laki-laki. Ketika para pengunjung bertanya ke mana istri Indra, pembantu itu hanya mengatakan ia pergi sedang membeli obat. Istri Indra yang bernama Shofia itu, ternyata pergi ke tempat yang sangat jauh.

Shofia berangkat tanpa tujuan jelas. Yang pasti ia akan mencari anak gadisnya. Anak gadis yang masih berumur 17 tahun menghilang. Ia, pergi tanpa pamit di suatu malam menjelang dini hari. Keminggatan anaknya itu, setelah semalaman, ia memperoleh caci maki Indra, bapaknya. Anak gadisnya itu, kelihatan sangat prustrasi dan mencari dunianya sendiri. Entah ke mana.

Di mobil, dalam perjalanan mencari anak gadisnya itu, Shofia terus menangis. Kadang tangisannya tercurah dalam nada yang cukup keras. Ia sering menyilangkan dua telapak tangan di mukanya. Meski ia tidak tahu, ke mana anaknya pergi, Shofia akan tetap harus tabah mencari ke mana anaknya itu pergi. Ia merasa harus menemukannya sampai kapanpun. Kayla adalah gadisnya dan sekaligus harapan dan masa depannya.

Shofia Mencari Kayla ke Sekolah

Mobil yang ditumpangi Shofia, pertama kali datang Ai??ke Sekolah di mana Kayla study. Ia mendatangi sekolah Kayla dengan langkah kaki yang sangat gontai. Ia merasa bingung bagaimana seorang ibu harus mencari gadisnya di sekolah. Kayla Sekolah di SMAN Pavorite di Kota Bandung. Shofia dengan gontai dan dengan suara yang sudah hampir habis, lelah dan letih tubuh, serta dengan kelembaban mata akibat beban yang cukup menyiksa itu, mendatangi kepala sekolah. Tetapi, sayang kepala sekolah itu tidak ada.

Setelah sedikit basa basi, resepsionis sekolah, menyarankan Shofia untuk mendatangi guru Bimbingan Konseling. Ai??Shofia juga nurut saja pada apa yang disarankan resepsionis sekolah dimaksud. Dan setelah beberapa lama, ia datang dan diam di ruangan itu, baru kepala BP itu datang.

Semula, Shofia bingung dari mana harus memulai pembicaraan soal Kayla. Tetapi, kemudian Guru BP itu mengawali pembicaraannya tentang seorang anak, bernama Kayla yang lama tidak masuk sekolah. Shofia kemudian akhirnya menceritakan maksud kedatangannya ke sekolah dimaksud. Hanya saja Kepala BP itu mengatakan bahwa Kayla sudah dua bulan tidak masuk sekolah. Dan beberapa kali kami mengirimkan surat untuk orang tuanya, tetapi, tetap tidak ada jawaban. Kami bingung mencarinya. Syukur alhamdulillah akhirnya, ibu datang ke sini.

Shofia ke luar dengan langkah kaki yang semakin goyah. Ia terus mencari Kayla dari satu titik ke titik lain. Dari sudut kota ke sudut kota lain di Kota Bandung. Hasilnya, selalu nihil. Namun kemudian, terbersit untuk mengunjungi salah seorang temannya yang suka datang kerumahnya bersama Kayla. Shofia mencari alamat teman dekat Kayla. Tetapi, di rumah itupun, Kayla tidak ada. Shofia hanya memperoleh alamat, tentang kemungkinan di mana Kayla biasa mangkal.

Shofia ke Teman-teman Kayla

Dengan hati yang teriris, ia bersama supirnya, mencari alamat itu. Setelah hampir empat perjalanan, akhirnya Kayla menemukan rumah dimaksu. Rumah itu sangat mewah. Keluarga itu adalah seorang pengusaha. Dengan sangat hati-hati, Shofia masuk dengan kekalutan yang tinggi. Beberapa kali ia memijit bel rumah. Dan setelah itu, keluarlah seorang laki-laki yang berumur kurang lebih 40 tahun. Ia tampaknya seorang pembantu rumah. Ia membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Shofia masuk ke dalam rumah.

Shofia dengan suara yang sangat lemah, bertanya apakah ada Kayla. Dan ternyata, di rumah mewah itu, Kayla ada. Kayla ada di dalam rumah dan kemudian dipertemukan oleh laki-laki itu dengan Shofia. Pembantu itu mengetuk pintu kamar dan berkata: “Den ada tamu”. Setelah beberapa kali dilakukan pembantu itu, akhirnya keduanya ke luar dari kamar, layaknya pasangan suami istri. Pakaian piama dan daster yang dipakai Kayla dan laki-laki itu, membuat hati Shofia hancur lebur.

Shofia tidak kuasa menahan amarah. Tetesan air matanya mengucur deras bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Ia tidak membayangkan bagaimana anak perempuan pertamanya itu, berada dalam suatu drama asmaran yang demikian sembilu. Ia sulit membayangkan situasi itu terjadi. Dalam suasana yang seperti itu, enatah mengapa tiba-tiba matanya berkunang. Penat dan pusing tujuh keliling.

Lalu setelah itu, tiba-tiba Shofia brek pingsan. Segera supirnya, memapah dan membopong Shofia ke ruangan tamu rumah di mana Kayla ada. Ia dibaringka di Shofa yang cukup besar. Lalu pembantu rumah itu membawa air minum teh manis panas dengan guyuran sendok teh seperti Indra. Kayla tampak tenang tidak merasa berdosa atas apa yang menimpanya. Sedangkan pasangannya, yang memiliki umur hampir sama itu, gelagapan atas situasi yang menimpa Shofia di rumahnya.

Indra dibel Agar Datang

Setelah beberapa lama pingsan, akhirnya Shofia sadar. Setelah sadar dalam tubuh yang sangat lemah, ia meminta supirnya untuk menelepon Indra. Ia diminta untuk memberitahu Indra bahwa Kayla sudah ditemukan. Disarankan agar Indra mengajak anak keduanya yang laki-laki datang ke tempat di mana mereka berada. Tak ada kata yang ke luar dari mulut Shofia selain kata-kata agar Indra segera datang. Ia terus menerus meneteskan air mata. Ia bahkan tak lagi mampu marah. Ia hanya bingung dan harus berbuat apa.

Kayla sendiri diam dan membisu. Ia sedikitpun tidak menunjukkan rasa sesal atas apa yang terjadi kepadanya. Entahlah, bahkan dalam kasus tertentu, Kayla seperti bangga. Ia hanya duduk dan terus manja dengan kekasihnya. Dua pasangan yang masih sangat muda itu, menurut nalar Shofia justru telah meruntuhkan martabat keluarga dan masa depan diri Kayla sendiri. Di luar itu semua, Shofia merasa bahwa martabat keluarganya runtuh berkeping-keping — By. Charli Siera — Bersambung

Komentar
Memuat...