Inspirasi Tanpa Batas

Cara Ahok, Risma dan Iti dalam Mencari Perhatian Publik

0 11

Konten Sponsor

Cara Ahok, Risma dan Iti dalam Mencari Perhatian Publik. Belakangan, kebanyakan di antara kita yang suka menonton televisi, pasti akan pernah menyaksikan bagaimana pejabat Publik Indonesia bersikap. Sikap yang kadang menurut nalar manusia akademik, agak aneh. Bahkan tampil seperti mereka yang mungkin malah kurang sehat secara psikologis.

Sidak-sidak yang dilakukan para pejabat publik itu, entah untuk apa kepentingannya, tetapi, sekali lagi menampilkan gejala yang aneh. Banyak di antara mereka yang menampilkan sikap dan wataknya yang galak terhadap bawahannya. Kalimat-kalimat yang jika ditiru anak kecil, sangat berbahaya.

Sebut misalnya, Ahok saat menjadi Gubernur DKI Jakarta. Dia begitu mudah mengeluarkan kalimat-kalimat yang kurang mendidik.  Misalnya, ia begitu mudah bilang bodoh, tolol, tidak mengerti, saya pecat kamu, saya berhentikan kamu. Kalimat itu, muncul saat yang bersangkutan melakukan Sidak ke kantor bawahannya.

Gaya yang hampir mirip, juga ditampilkan Dr. Ir. Tri Risma Harini, MT. Ia adalah Walikota Surabaya. Coba perhatikan bagaimana Sang Walikota ini bersikap ketika menghadapi masalah dalam lingkup pekerjaan bawahannya.Yang paling baru adalah saat dia begitu marah saat melakukan Sidak E KTP.

Tri Risma dan Iti Oktavia

Tri Risma misalnya berkata: “Masa kerja pakai sofware begini nggak profesional. Kamu ngerti nggak! Kalimat yang relatif mirip seperti di atas juga sama. Matanya melotot tajam. Termasuk kepada kepala disduk Capil yang saat itu sedang disidaknya.

Belakangan ini, muncul juga hal sama. Hal ini dilakukan Bupati Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Sosoknya bernama, Iti Oktavia Jayabaya. Ia mengatakan, masa kamu tidak tahu. Di mana Camat, Kades. Masa ada pembangunan semacam ini kamu tidak tahu.

Taman jadi rusak semua. Saya tidak mau tahu kalian harus bongkar semua. Taman ini untuk masyarakat. Saya bekerja untuk kebaikan masyarakat. Kalian malah begini. Goblok, tolol semua kalian. Masa Bupati harus turun ke lokasi seperti ini. Kalian ke mana saja. Masa yang begini tidak tahu. Tribun News.com 18 Oktober 2017.

Kita mafhum apa yang dilakukan mereka, karena mereka sangat kesal terhadap budaya birokrasi yang tidak reformis. Tetapi, apa harus begitu cara yang ditempuhnya. Terlebih cara yang dilakukannya itu di short ke berbagai Media; cetak maupun elektronik. Banyak di antara masyarakat Indonesia, termasuk anak yang menonton siaran-siaran seperti itu yang menurut saya bakal menganggap hal dimaksud positif.

Tetapi, apa tidak lebih baik, marahnya di Kantor saja. Marahin saja di Kantor sambil Rapat, mau keluar kalimat apa saja terserah. Itu ruang terbatas.  Sebab jika budaya itu diteruskan, ada kesan seolah-olah mereka sesungguhnya sedang mencari perhatian orang lain. Team Lyceum Indonesia

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar