Inspirasi Tanpa Batas

Cara dan Waktu Menulis| Teknik dan Cara Menulis Part – 9

Teknik dan Cara Menulis Part - 9
0 28

Banyak mahasiswa yang saya bimbing baik pada jenjang S1, S2 maupun S3 yang bertanya bagaimana agar dirinya bisa menulis. Kapan dan dalam suasana seperti apa menulis harus dimulai. Terhadap pertanyaan semacam ini, saya katakan, tidak ada waktu khusus dalam menulis, jika pertanyaan dimaksud ditujukan kepada saya. Kapan dan di mana saja, ketika saya melihat, mendengar dan memikirkan sesuatu, lalu saya menganggap itu bermanfaat, saya menulis.

Kadang di tengah kawasan perumahan, di sawah, di ladang atau bahkan di tengah kandang ayam sekalipun. Sewaktu era digital belum menghinggapi manusia, saya, selalu membawa buku yang kemudian diberinama X File. Namun ketika era digital menjamur, yang saya bawa pastilah alat-alat elektronik.

Tetapi, jika pertanyaan itu ditujukan untuk mereka yang belum biasa dan karenanya tidak bisa menulis, tentu ada waktu khusus. Waktu itu, umumnya dilakukan di pagi hari, sebelum melakukan aktivitas apapun atau sebelum berpikir apapun. Begitu bangun dari kasur di mana kita tidur, di situ kita  mulai menulis. Kegiatan itu, dilakukan untuk mencairkan kebekuan pemikiran atau untuk mengaktivitasi pikiran-pikiran kita agar pagi hari yang kita lewati, dipenuhi bunga-bunga indah dan nyaman untuk dilalui seharian lamanya.

Beberapa Keluhan Mahasiswa

Mahasiswa itu kemudian bertanya lagi, apa yang harus ditulis di pagi buta seperti itu? Ya apa saja yang ada dalam pikiran anda. Jika anda di waktu tidur mengalami mimpi indah, tulislah keindahan mimpi anda. Misalnya:

“Tuhan, kau bangunkan aku dalam segenap mimpi indah. Aku bahagia dan semoga mimpi yang Kau hadirkan itu, dapat mendorong aku untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang lebih bermanfaat.

Andaikan mimpi itu menjadi kenyataan, betapa bahagianya aku. Andaikan mimpi itu hanya menjadi ilusi dan bayang-bayang keindahan yang sejatinya menjadi keinginan saya, semoga Kau berkenan menjadikan mimpi itu sebagai kenyataan bagiku dan bagi keluargaku …..” teruslah tulis apa yang menjadi keinginan anda atas fenomena mimpi itu. Termasuk jika ternyata anda bermimpi akan sesuatu yang buruk. Tulislah mimpi itu dan bagaimana anda berharap akan mimpi buruk itu.

Bagaimana kalau tidak mimpi baik mimpi positif maupun mimpi negatif? Saya katakan tulislah suasana kebathinan saat anda bangun dan apa yang menjadi harapan anda di hari yang akan anda jalani. Saya bilang teruslah tiap hari kau tulis semua itu. Tetapi jangan sekali-kali membuka isinya sampai kapanpun, setidaknya untuk ukuran lima tahun. Sebab kalau anda membaca apa yang ada tulis, saya jamin anda tidak akan mau menulis lagi.

Sampai suatu waktu, mahasiswa itu datang lagi kepada saya. Ia mengatakan, Pak suatu pagi, saya nge-blank tidak ada yang bisa dipikirkan sama sekali. Bahkan hanya untuk satu kata sekalipun. Saya kehilangan ide dasar untuk menulis apapun.

Terhadap pernyataan semacam ini, saya katakan, tulislah apa yang tidak bisa anda pikirkan itu. Misalnya anda tulis sebagai berikut: “Ya Tuhan … betapa beratnya otakku pagi ini. Aku kesulitan mencari ide akan apa yang harus aku tulis. Aku kehilangan ide … jujur aku kehilangan ide sekalipun hanya untuk menuliskan sebuah kata. Andaikan kau beri aku sepercik cahaya, akan apa yang mampu aku pikirkan, maka, aku pastikan aku akan menuliskannya. Sayang aku tak bisa karena tak sedikitpun yang mampu aku pikirkan.

Mahasiswa kemudian tersenyum, lalu ia mengatakan benar juga. Lalu saya katakan, karenanya menulislah secara habit. Karena hakikat penulis adalah mereka yang secara habbit memang terbiasa menulis.

Komentar
Memuat...