Cara Kerja Manusia dan Binatang itu Berbeda | Epistemology Part – 16

0 108

Cara Kerja Manusia. Perbedaan antara manusia dan binatang, terletak pada kesanggupannya untuk mengembangkan ilmu dan pengetahuan. Pengetahuan manusia selalu berkembang. Ia terus dituntut mewujudkan impian terbaik akan kehidupannya. Sebut misalnya, kasus rumah binatang. Sejak diciptakan Tuhan, sampai abad sekarang, mereka sesungguhnya selalu memiliki tempat berteduh dan berhimpun.

Hanya patut disayangkan, jika rumah binatang dimaksud, belum pernah mengalami perubahan, sedikitpun sampai saat ini. Sangkar burung pipit sampai hari ini, tetap sama! terbuat dari jerami atau rerumputan. Diangkat melalui kaki, sayap dan mulut, lalu dibingkai menjadi sangkar mereka. Di tempat itulah, dari dulu sampai sekarang, mereka berteduh dan mengembangbiakan keturunannya.

Rumah manusia tidak demikian! Berbeda dengan rumah binatang. Ambil misalnya, catatan sejarah desain rumah manusia. Mereka untuk pertama kali membangun tempat berlindung dan mengembangbiakan dirinya di atas pohon-pohon besar yang hampir mirip dengan tempat tinggal binatang. Lalu, manusia mengembangkannya menjadi gua-gua dalam pegunungan yang penuh bebatuan. Setelah itu, mereka membangun rumah-rumahnya yang terbuat dari kayu yang memiliki jarak dengan tanah. Setelah rumah kayu, kemudian muncul rumah bertembok setengah rumah dan kemudian gedung-gedung penuh tembok bebatuan yang menjulang tinggi.

Sulit dibayangkan jika rumah manusia tidak mengalami perubahan. Atau agak sulit membayangkan model rumah nenek moyang kita dan kita hidup dalam rumah seperti rumah moyang kita di masa lalu. Dalam perkembangan terakhir, model rumah yang terus berkembang itu, akhirnya mempercepat rasa pandang usang terhadap model rumah sebelumnya. Rumah yang dulu tampak mewah, berubah menjadi kumuh, dan akhirnya sering menakutkan layaknya rumah penuh hantu. Itulah manusia!

Cara Manusia Memperoleh Pengetahuan

Mengapa manusia berbeda dengan binatang. Karena manusia memiliki metode berfikir dalam mengembangkan pemikirannya.Ai??Manusia tidak pernah berhenti untuk terus menerus mengembangkan pengetahuan sampai pada batas tertentu yang tidak terbatas. Dengan metodenya, manusia terus memperoleh kenikmatan dan kebahagiaan hidup (etik-estetik). Perspektif kenikmatan dan kebahagiaan hidup manusia, terwujud melalui sikap ingin tahu manusia itu sendiri.

Semua langkah dilakukan untuk memenuhi kebahagian tadi, melalui sebuah metode tertentu yang disebut dengan metode berpikir ilmiah. Manusia memiliki sifat ketergantungan yang luar biasa terhadap pengetahuan. Sifat ingin tahu yang melekat manusia, telah mendorong manusia untuk mengungkap pengetahuan, meski dengan berbagai cara dan pendekatan yang harus mereka gunakan.

Mengutif Jujun S. Suriasumantri, secara historis, ada empat cara manusia memperolah pengetahuan yang tadi disebut sebagai peletak dasar kemajuan manusia. Keempat cara itu adalah: 1). Berpegang pada suatu yang telah ada (metode keteguhan); 2). Merujuk kepada pendapat ahli (metode otoritas); 3). Berpegang pada intuisi (metode intuisi), dan; 4). Menggunakan metode ilmiah.

Cara pertama sampai pada cara ketiga, disebut sebagai cara awam karena tidak efisien, kurang produktif, terkadang tidak objektif serta tidak rasional. Sedangkan cara terakhir, yaitu metode ilmiah adalah cara ilmiah dipandang lebih rasional, objektif, efektif dan efisien. Cara keempat ini, sering disebut sebagai cara ilmuan dalam memperoleh ilmu. Dalam praktiknya, metode ilmiah berguna untuk mengungkap dan mengembangkan ilmu. Cara yang ditempuh dan dikerjakan ilmuan adalah dengan cara kerja penelitian.

Kerja Ilmuan adalah Penelitian

Cara kerja ilmuan dengan penelitian ilmiah muncul sebagai reaksi dari tantangan yang dihadapi manusia. Dalam perspektif ini, menyiratkan bahwa tantangan seolah telah menjadi taqdir buta manusia. Manusia selalu harus berhadapan dengan berbagai tantangan baik yang modusnya sama dengan apa yang terjadi sebelumnya, maupun dengan tantangan yang sama sekali baru, tidak pernah didapatkan sebelumnya sehingga memerlukan metode yang juga benar-benar baru.

Manusia selalu dituntut mengernyitkan kening dan mengerahkan segala daya dan potensi yang dimilikinya. Tujuannya, semata-mata agar manusia tetap eksis ketika harus berhadapan dengan dunia nyata. Masalahnya sendiri, semakin hari semakin kompleks.

Pemecahan masalah melalui metode ilmiah tidak akan pernah berpaling atau tidak pernah berada dalam suasana kebatinan yang penuh perasaan. Sebab tidak semua ilmuan memiliki perspektif filosofis yang sama dalam melaksanakan penelitian. Bahwa betulpara ilmuan menyediakan latar belakang filosofis terhadap pengeetahuan ilmiahnya, tetapi jarang di antara mereka yang mampu merefleksikannya.

Tujuan ilmu ialah untuk memperoleh kebenaran ilmiah. Ilmu telah bergerak kepada wilayah filsafat. Ilmuan yang kritis dan filosofis akan bertanya, apa hakikat kebenaran ilmiah? Bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah? Jawaban atas pertanyaan filosofis tentang ilmu dan kebenaran ilmiah, tidak digarap masing-masing cabang ilmu, tetapi diserahkan kepada cabang filsafat yang disebut Filsafat Ilmu melalui sebuah kajian dalam apa yang disebut dengan metode berfikir ilmiah.

Masalah Bagi Kaum Terdidik

Metode berfikir ilmiah memegang peranan penting dalam membantu manusia untuk memperoleh pengetahuan dan cakrawala baru dalam menjamin eksistensi kehidupan umat manusia. Kesanggupan manusia untuk memecahkan masalah yang kompleks, akan memberi daya hidup kepada manusia. Kemampuan yang demikian, terjadi karena manusia memiliki sebuah metode berfikir dan ini tentu berbeda dengan binatang dan makhluk Tuhan yang lain.

Semua manusia, ilmuan maupun awam, selalu berhadapan dengan masalah dan dituntut dengan segera untuk menyelesaikannya. Adam sebagaimana digambarkan di awal tulisan ini, dituntut mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Hal yang sama, terjadi pada seorang petani yang tanamannya kelihatan rnulai terganggu baik karena kondisi lingkungannya seperti kekurangan air dan pupuk sehingga tanamannya menguning, sampai pada gangguan binatang dan serangga.

Manusia dituntut mampu memecahkan masalah yang dihadapinya. Petani dituntut mampu membuat kanal air agar sawahnya terus terairi. Manusia atau petani juga butuh pupuk agar tanamannya kembali menghijau. Di sisi lain, ia juga dituntut memberi racun kepada binatang dan serangga yang mengganggu tanamannya. Langkah-langkah tadi, semuanya ditempuh manusia, karena manusia memiliki metodologi tersendiri dalam memecahkan setiap masalah yang disebut metode ilmiah.

Masalahnya, dapatkah manusia bercocok tanam dengan baik tanpa metode tertentu dalam melahirkan pengetahuan tentang pertanian. Tentu tidak mungkin! Dari mana manusia dapat memperoleh pengetahuan tentang segala sesuatu jika tidak melalui sebuah sistem tata fikir tertetu yang kemudian disebut metode ilmiah. Tidak mungkin metode ini dimiliki makhluk lain selain manusia. Di sini dan dalam konteks ini, telah menunjukkan bahwa penelitian ilmiah dengan metode ilmiah memegang peran penting dalam membantu manusia untuk memecahkan setiap masalah yang dihadapinya.

Kaum Awam dan Kaum Terdidik

Ada perbedaan mendasar antara kaum awam dan kaum terdidik dalam menyelesaikan sesuatu yang disebut dengan masalah. Kaum awam menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya dengan cara konvensional. Namun cara kerja mereka biasanya tidak sistemis dan sering bernuansa subjektif. Mengutif Mc. Clure, orang awam memiliki kelemahan, di antaranya subjektif dan tidak mampu melakukan proses generaslisasi. Kaum terdidik memecahkan setiap masalah yang dihadapi dengan metode tertentu yang kemudian disebut metode ilmiah.

Cara kaum awam dalam menyelesaikan masalaha, tentu memiliki sejumlah kelemahan. Di antara kelemahan itu misalnya terlihat dari: samar-samar, belum teruji dan minim penjelasan. Karakteristik pemikiran orang awam yang demikian, menurut Francis Bacon dapat meyebabkan lahimya area-area. Area-area dimaksud seperti: area pikiran (idols of the mind‘), area suku (idols of the cove) yang memandang dirinya sebagai pusat ukuran kebenaran, area pasar (idols of the market) kesesatan akibat mengacu kepada pengetahuan sehari-hari, dan area panggung (idols of the theatre) yang timbul karena kepanatikan terhadap partai atau keyakinan tertentu termasuk keyakinan dan pengetahuan tertentu.

Berbeda dengan cara kerja orang awam, ilmuan biasanya bekerja dengan cara kerja yang sistematis, berlogika dan menghindari diri dari pertimbangan subiektif. Rasa tidak puas terha-dap pengetahuan yang berasal dari paham orang awam, mendorong kelahiran filsafat. Filsafat menyelidiki ulang semua pengetahuan awam manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang hakiki. Namun demikian, cara kerja orang awam dapat bermanfaat bagi ilmuan karena pengetahuan orang awam itu akan menjadi pra anggapan, dan sekaligus memberrkan pengetahu-an pra ilmiah untuk diuji karena ia terbuka untuk didiskusikan.

Manusia tidak punya sayap seperti burung, tetapi, mereka bercita-cita justru menerbangkan baja dan besi. Produk manusia yang berhasil membuat baja dan besi mengapung, memungkinkan manusia dapat mengalahkan burung dalam soal terbang. Manusia juga tidak memiliki kekuatan lari seperti kuda. Tetapi, mobil yang dibuat manusia didesain mampu mengalahkan kecepatan kuda. Semua produk itu terjadi karena manusia memiliki kemampuan membuat cara. Cara itulah yang disebut metode berpikir ilmiah.

Cara Pemecahan Masalah Kaum Akademik

Untuk memecahkan masalah yang dihadapinya, ilmuan mempunyai teknik, pendekatan dan cara berbeda dengan manusia awam, Meski harus juga diakui bahwa antara satu ilmuan dengan ilmuan lain, memiliki teknik, pendekatan dan cara berbeda dalam memecahkan setiap masalah yang dihadapinya. Di lain sisi, harus juga disebutkan bahwa satu ilmuan dengan ilmuan lain, berbeda dalam menggunakan cara yang dihadapinya.

Di antara sekian banyak perbedaan itu, dilatari salah satunya karena ilmuan mempunyai falsafah yang tidak sama. Masalah dimaksud adalah dalam penggunaan cara menyelesaikan masalah dengan menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah selalu digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Penggunaan metode ilmiah tertentu dalam kajian tertentu dapat memudahkan ilmuan dan pengguna hasil keilmuannya, untuk melakukan penelusuran lebih lanjut.

Archi J. Bahm (1990: 34-40) menyebut metode ilmiah itu satu. Namun di sisi lain sekaligus banyak (bith one and many). Artinya, satu tujuan (untuk menyelidiki dan menyelesaikan permasalahan) dengan sebuah metode yang banyak bentuknya (sesuai tipe permasalahan masing-masing ilmu) dan selalu sesuai kecenderungan ilmuan untuk memakai cara mana dalam menyelesaikan masalahnya. Tidak salah juga jika ada yang menyebut bahwa kebenaran ilmiah tidak lebih hanya merupakan kebenaran metodologis yang sifatnya relatif.

Karena itu, dalam konteks keilmuan tidak mungkin manusia dapat melahirkan kebenaran mutlak. Sebab kebenaran ilmiah adalah kebenaran metodologis yang sipatnya pasti relatif sesuai dengan metode yang masing-masing digunakan ilmuan. Apa yang disebut dengan kebenaran harus mampu dibuktikan dan dibenarkan secara metodologis dengan metode yang benar dalam pendekatan keilmuan.

Sri Soeripto menyatakan bahwa, meskipun para ilmuan berada dalam pokok soal yang berbeda, namun semua ilmu menunjukkan prosedur umum yang sama. Prosedur umum dimaksud kemudian disebut metode ilmiah. Ilmu adalah suatu metode khusus yang telah dikembangkan secara berangsur- angsur sepanjang abad. Tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan manusia mengenai dunia ini berdasarkan metode keilmuan. Prof. Cecep Sumarna –bersambung

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.