Inspirasi Tanpa Batas

Cara Melatih Kecerdasan Emosi Peserta Didik

0 22

Konten Sponsor

Cara Melatih Kecerdasan Emosi Peserta Didik | Selain Intellectual Quotient [IQ], manusia juga dibekali Emotional Quotient [EQ] dan Spiritual Quotient [SQ]. EQ dengan kata lain berarti cabang dari tiga kecerdasan manusia. Jhon Gottman dan Jhon Decleare, kecerdasan sosial seseorang akan menjadi perlambang keberhasilan hidup seseorang. Karena itu, melatih kecerdasan sosial peserta didik, semakna dengan mendorong keberhasilan hidup peserta didik kita.

Jhon Gottman dan Jhon Decleare [1999: 73], terdapat beberapa langkah untuk melatih emosi peserta didik. Diantaranya adalah: 1). Menyadari emosi anak; 2). Mengenali emosi sebagai peluang untuk menjadi akrab dan untuk mengajar; 3). Mendengarkan dengan penuh empati dan menegaskan perasaan; 4). Menolong individual untuk memberi label emosi dengan kata-kata; dan 5). Menentukan batas-batas sambil menolong individual dalam memecahkan masalahnya.

Kecerdasan emosi, menjadi bagian dari fitrah qalbu manusia. Potensi emosi akan menghasilkan kesuksesan kalau berjalan sesuai dengan fitrah keberagamaan yang pada akhirnya akan menghantarkan seseorang sadar. Kesadaran itulah yang akan mendorong seseorang memiliki sikap keberagamaan yang relatif stabil. Secara falsafi. pada dasarnya, manusia telah dikaruniai Allah Swt potensi qalbu yang hanif kepada keberagamaan.Melalui nalar ini, kecerdasan emosi seseorang, akan menjadi pintu terbuka bagi kecerdasan spiritual.

Konsep Fitrah dan Kecerdasan Emosi

Kecerdasan emosi adalah fitrah. Setiap manusia telah memiliki kecerdasan ini, sejak ia dilahirkan. Inti dari sebuah qalbu adalah hati nurani. Inilah yang melahirkan karakter, kepribadian, watak, dan sikap seseorang.

Dalam pengembangan qalbu, perlu kiat-kiat sukses untuk menata qalbu agar potensi ini bisa berjalan sesuai dengan fitrahnya. Mengubah karakter dan sikap seseorang mesti diawali dengan upaya mengelola, meluruskan dan membersihkan hati.

Aa Gym seperti dikutif M. Deden Ridwan [2001: 16] menyebut bahwa membangun sikap diri dan tatanan masyarakat pada lingkup apapun, seluruhnya sangat bergantung pada aktivitas hati yang dibuat bersih. Barangkali itulah kiranya setiap keadaan tidak perlu disikapi dengan kekuatan, apalagi dengan kekerasan, namun lebih didasarkan pada sentuhan qalbu (hati).

Inilah yang disebut Aa Gym, sebagai kekuatan manajemen, konsep, dan sumber daya manusia (SDM). Ketiga aspek tersebut di atas merupakan dasar-dasar yang menjadi fondasi keberagamaan seseorang. Ketiganya merupakan aspek psikis manusia yang bersifat spiritual dan transendental. Bersifat spiritual karena ia merupakan potensi luhur batin manusia.

Selain ketiga fondasi tersebut di atas, manusia juga masih memiliki potensi lainnya yang dapat menumbuh suburkan sikap keberagamaannya. Potensi luhur batin itu merupakan sifat dasar dalam diri manusia yang berasal dari ruh ciptaan Allah. Sifat spiri­tual ini muncul dari dimensi al-ruh. Bersifat transendental karena merupakan dimensi psikis manusia yang mengatur hubungan manusia dengan yang Maha Transendental, yaitu Allah. Fungsi ini muncul dari dimensi al-fitrah.

Berdasarkan itu, makaaspek ruhaniah  ini memiliki dua dimensi psikis, yaitu dimensi al-ruh dan dimensi al-fitrah. Memperhatikan penjelasan al-Qur’an tentang kedua dimensi ini dapat dijelaskan bahwa keduanya, dimensi al-ruh dan dimensi al-fitrah, berasal dari Allah. Keduanya, sebelum menjadi dimensi psikis manusia, merupakan milik Allah.

Susunan kalimat yang digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan kepemilikan Allah itu bermacam macam, diantaranya adalah dengan menggunakan kata amr seperti dijelaskan dalam QS. Al-Isra [17]: 85 “….katakan ruh itu termasuk urusan Tuhanku…”, QS. Al-Sajdah [32]; 9, QS. Al-Hijr [15]: 29, QS al-Shad [38]: 72 Semua kalimat yang menerangkan tentang ruh ini menunjukkan bahwa ruh merupakan kepemilikan Allah yang absolut. Dr. Hj. Ety Tismayati

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar