Inspirasi Tanpa Batas

Cara Membentuk Sikap Keberagamaan Peserta Didik

1 16

Konten Sponsor

Pembentukan sikap keberagamaan untuk peserta didik, bukan sesuatu yang mudah. Meski bukan berarti tidak ada jalan sama sekali. Tetapi perjalanan pembentukan watak dimaksud, memerlukan waktu dan sikap yang terus menerus. Pendidik dituntut memiliki watak yang istiqomah atau konsisten dalam menjalani peran fungsinya sebagai pembentuk watak. Mengapa?  Sebab, menurut saya, pendidikan agama pada hakikatnya adalah religiosisasi perilaku ketuhanan. Pendidikan agama harus mampu membentuk peserta didik memiliki “sifat-sifat ketuhanan”.

Pendidikan agama dalam pengertian ini berarti harus holistik. Pendidikan agama harus dan akan dijadikan sebagai proses transendentalisasi persoalan duniawi. Tujuannya, agar peserta didik lebih dapat menghayati berbagai fungsi dan perannya sebagai manusia. Sekaligus sebagai hamba Tuhan.

Pendapat ini, setidaknya memperoleh nalar dari YB Mangunwijaya [1986]. Ia menyebut bahwa tujuan pendidikan agama secara normatif adalah menciptakan sistem makna untuk mengarahkan perilaku kesalehan dalam diri kehidupan peserta didik. Oleh karena itu, pendidikan agama harus mampu memenuhi kebutuhan dasar tetapi esensial. Kebutuhan dasar dimaksud misalnya untuk memenuhi kebutuhan tujuan agama yakni memberikan kontribusi terhadap terwujudnya kehidupan keberagamaan di muka bumi.

Para ahli psikologi agama untuk hal ini, setidaknya menyebut tiga pendekatan untuk melakukan langkah ini. Ketiga pendekatan tersebut adalah sebagai berikut:  1). Pendekatan rasional; 2). Pendekatan emosional, dan; 3). Pendekatan keteladanan. Ketiga pendekatan dimaksud, penjelasannya adalah sebagai berikut:

Pendekatan Rasional

Pendekatan rasional adalah usaha memberikan peranan kepada peserta didik untuk memanfaatkan fungsi rasio. Rasionalitas peserta didik mesti diptimalkan dalam rangka memahami sekaligus membedakan berbagai bahan ajar dalam standar  materi serta kaitannnya  dengan prilaku yang buruk dalam kehidupan duniawi [Ramayulis, 2004]. Rasionalitas penting disampaikan dalam konteks pembelajaran agama, agar sistem ajaran agama dimaksud, menjadi terbuka dan memberi wawasan rasional kepada peserta didik.

Selama ini, banyak di antara kita yang menjadi pembelajar dalam konteks pendidikan agama, sering mengabaikan dimensi rasionalitas. Akibatnya, banyak materi pelajaran menjadi beku dan statis. Ia tidak lagi menjadi dinamis. Dalam posisi pendidikan agama yang demikian, maka, pelajaran agama bukan saja menjenuhkan, tetapi, tidak mampu mendorong manusia [peserta didik] lebih rasional dalam memahami agama. Jika hal demikian terus dipertahankan, maka, materi pendidikan agama menjadi tidak menarik untuk diikuti.

Pendekatan emosional

Pendidikan agama juga semestinya mampu mendorong peserta didik agar lebih tersentuh jiwanya. Karena itu, diperlukan pendekatan emosional. Pendekatan ini dimaksudkan agar peserta didik mampu digugah perasaan emosinya. Peserta didik juga dapat didorong untuk lebih menghayati prilaku yang sesuai dengan ajaran  Islam dan budaya bangsa.

Jika jiwa peserta didik tergugah, maka, ia dapat merasakan mana yang baik dan buruk. Mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang harus dikerjakan dan mana yang harus ditinggalkan. Pendekatan emosional akan mampu mendorong peserta didik untuk dapat memasuki wilayah-wilayah yang dalam tanda baca tertentu, lebih esensial dalam memahami agama.

Pendekatan keteladanan

Pendekatan keteladanan adalah suatu proses menjadikan guru agama atau siapapun yang mengajarkan agama, yang menjadi contoih. Dalam bahasa agama sering disebut sebagai uswat hasanat [suri tauladan] bagi siapapun yang kenal dan dekat dengan dirinya. Termasuk tentu yang paling penting adalah dengan peserta didik. Peserta didik adalah warga sekolah sebagai cerminan manusia yang mempunyai sikap keberaagamaan.

Keteladanan dalam pendidikan sangat urgen dan lebih efektif, dalam usaha pembentukan sikap kebergamaan. Jika pendidik mampu menempatkan dirinya dalam posisi seperti ini, maka, peserta didik akan lebih mudah memahami atau mengerti bila ada  seeorang yang dapat ditirunya.

Semua ahli pendidikan berkeyakinan bahwa keteladanan akan menjadi media yang sangat strategis dalam pembentukan jiwa keberagamaan  peserta didik. Keteladanan pendidik terhadap peserta didik akan menjadi kata kunci keberhasilan pendidikan. Inilah sebenarnya modalitas penting dalam mempersiapkan dan membentuk moral spiritual dan sosial anak baik di sekolah maupun di masyarakat.

Tentang keteladanan, Zakiah Darajat [1982] mengemukakan:

“Hendaknya setiap pendidik menyadari bahwa pembinaan pribadi anak sangat diperlukan suri tauladan. Pembiasaan pembiasandan positif melalui latihan-latihan yang cocok dan sesuai dengan perkembangan jiwa peserta didik itu sendiri. Melalui pembiasaan dan pelatihan  tersebut, pendidik akan mampu membentuk sikap tertentu pada anak yang lambat laun. Sikap itu akan bertambah jelas dan kuat, karena telah masuk menjadi bagian dari pribadi-pribadi pendidik dan peserta didik. By. Prof. Cecep Sumarna

  1. andhika restu pangestika berkata

    Assalamualaikum,saya sangat tertarik dengan tulisan ini menurut saya tulisan ini sangat lah membantu menambah wawasan setelah membaca tulisan ini menurut saya pendidikan adalah suatu proses tuntutan, arahan oleh guru kepada peserta didik dan mempunyai tujuan yang jelas dan menurut saya untuk menempuh suatu pendidikan itu memiliki cara diantara lain ; pendekatan rasional, emosional dan keteladanan.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar