Cara Membuat Notasi Ilmiah

0 105

Sebuah karya dapat disebut ilmiah, apabila memenuhi persyaratan untuk disebut ilmiah. Banyak hal yang menjadi persyaratan utama, sebuah karya disebut ilmiah. Karena banyaknya hal yang harus termuat dalam aspek-aspek ilmiah tadi, berikut hanya memuat salah satu syarat ilmiah. Syart keilmiahan dimaksud adalah penggunaan Notasi Ilmiah dalam sebuah tulisan. Karena itu, memahami dan menggunakan Notasi ilmiah dengan benar, akan menjadi ciri keilmiahan sebuah tulisan. Dalam kasus tertentu, hal ini dapat menjadi ciri yang paling mudah untuk diukur.

Membuat Notasi Ilmiah, dalam bentuknya yang baku, umumnya digunakan dalam tiga jenis. Ketiga jenis atau bentuk Notasi Ilmiah dimaksud adalah: In Note, Foot Note dan End Note. Berikut penjelasan dan contoh pembuatan tiga bentuk Notasi Ilmiah.

In Note [Catatn dalam Content Tulisan]

In Note adalah catatan rujukan yang ditempatkan di dalam isi tulisan. Umumnya, catatan dimaksud hanya menuliskan nama pengarang, tahun penerbitan dan halaman kutipan. Susunannya adalah, nama pengarang, lalu membuka kurung (Tahun: halaman), lalu tuliskan apa yang dikutif. Contoh:

Nurcholish Madjid (1993: 39) menyebut bahwa Syi’isme adalah bagian dari gerakan teologi Islam awal. Gerakan ini lahir karena adanya pertikaian politik antara mereka yang mendukung Ali dengan yang tidak. Pertikaian politik dimaksud, terjadi karena adanya kelompok tertentu dalam dunia Islam yang menghendaki Ali dan keturunannya menjadi pengganti Rasul [khalifah]. Hanya saja, fakta menunjukkan bahwa mereka tidak mampu menampilan diri dalam gerakan politik dimaksud, secara nyata. Pasca kewafatan Ali, kelompok ini justru terkalahkan dinasti bani Umayah.

Jika kutipan dimaksud, lebih dari lima baris, maka, ia harus ditulis dalam satu spasi. Baik sebelah kiri maupun sebelah kanan halaman, ukurannya harus dikurangi 4 hurup. Dengan demikian, halaman kutipan yang lebih dari lima baris dimaksud, tidak sejajar dengan baris awal atau baris akhir tulisan. Itulah yang membedakannya dengan tulisan yang bukan merupakan kutipan.

Foot Note [Catatan Kaki]

Catatan kaki adalah bentuk lain dari cara membuat Notasi Ilmiah. Catatan kaki meletakkan rujukan tulisan dengan di bawah lembar isi tulisan kita. Catatan Kaki [Foot Note] memuat seluruh aspek yang terkait dengan nama, judul buku, Kota Penerbit, nama Penerbit dan hal kutipan. Contoh Catatan Kaki

 

Internalisasi pada hakikatnya adalah upaya berbagi pengetahuan (knowledge sharing). Internalisasi dengan demikian, dapat pula diterjemahkan sebagai salah satu metode, prosedur dan teknik dalam siklus manajemen pengetahuan yang digunakan para pendidik untuk memberikan kesempatan kepada anggota suatu kelompok, organisasi, instansi, perusahaan atau anak didik agar berbagi pengetahuan, yang mereka miliki kepada anggota lainnya atau kepada orang lain.[1]

[1]A� Pengetahuan adalah produk berpikir. Ia adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahaisanya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanismeA� digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara, sehingga realitas disekitarnya larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak. Hidayat Nataatmadja. Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya (al-Furqan). Bogor: Humanika, tt), p. 39-40.

End Note [Catatan Akhir]

Catatan akhir adalah bentuk lain dari cara membuat Notasi Ilmiah. Ada kesamaan dengan fott note dalam konteks isi sebuah kutipan. Hanya saja terdapat perbedaan, yakni dalam meletakkan catatan. Catatan akhir kutipan meletakkan rujukan tulisan di akhir makalah, skripsi, tesis atau disertasi. Catatan akhir [End Note] memuat seluruh aspek yang terkait dengan nama, judul buku, Kota Penerbit, nama Penerbit dan hal kutipan.

Contoh Catatan Kaki: Iinternalisasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai. Internalisasi pengetahuan dilakukan melalui kegiatan pencarian dan menemukan kembali pengetahuan yang tersimpan.[1]

Ada dua kerangka teori yang dapat dijadikan alat analisis dalam mengkaji teori internalisasi. Kedua teori dimaksud adalah psikoanalisis dan psikologi. Kajian psikologi, menyebut bahwa internalisasi, tidak lebih dari sebuah cara membangun dan mengembangkan dimensi-dimensi kejiwaan. Dengan bahasa lain, psikologi mendorong kesadaran kebathinan terhadap nilai-nilai tertentu agar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.[2]

[1] M. Huysman, and D. Wit. A Critical Evaluation of Knowledge Management Practices: Sharing Expertise a�� Beyond Knowledge Management, Kualalumpur: MIT Press, 2003. hlm. 4 Lihat juga P. Berger dan Luckmann T. The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966. hlm. 23
[2] M. Ray Loree. Psychology od Education. Second Edition. New York: The Rolland Press Company. hlm. 41

By. Prof. Cecep Sumarna

.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.