Cara Mendidik Anak dalam Pendekatan Psikologis

0 310

Cara Mendidik Anak Pendekatan Psikologis. Anak adalah amanah Tuhan yang harus dijaga dan dibina. Keberlangsungan hidup anak menjadi tanggung jawab orang tua sepenuhnya. Tanggung jawab dimaksud tentu tidak hanya sebatas memberikan kehidupan berupa kebutuhan primer dan sekundr, tetapi kebutuhan akan apa yang disebut dengan pendidikan. Inilah kebutuhan fundamental dalam sebuah keluarga.

Hal ini, sesuai dengan firman Allah dalam al Qurai??i??an surat Al Zumar [39]: 9 yang artinya: ai??? ai??i?? Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?ai??? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran

Mengapa anak harus didik? Pendidikan, dimaksudkan agar anak yang diamanahkan Tuhan kepada kita, dapat menjadi generasi yang layak menjadi pemimpin umat bertakwa. Hal ini, disebut dalam al Qur’an surat al Baqarah [2]: 124 sebagai berikut:

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: ai???Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusiaai???. Ibrahim berkata: ai???(Dan saya mohon juga) dari keturunankuai???. Allah berfirman: ai???JanjiKu (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalimai???.

Pemimpin Umat Bertakwa hanya Oleh Mereka yang Berakhlak

Pemimpin umat bertakwa, hanya dapat dilakukan oleh mereka yang berakhlah. Manusia berakhlak adalah mereka yang memiliki kesempurnaan di banding makhluk lain. Kesempurnaan itu tentu tidak bisa didapat dengan sendirinya. Meskipun manusia hakikatnya sering disebut sebagai makhluk sempurna. Akan tatapi, manusia akan mencapai kesempurnaannya melalui pengetahuan yang diaplikasikan dalam sebuah pendidikan baik secara formal (sekolah) mapun tidak formal.

Pendidikan formal dan non formal ini akan saling berkaitan dan berkepentingan satu sama lain dalam pencapaian pendidikan. Pendidikan non formal yang paling menentukan terhadap keberhasilan pendidikan anak, dimana peran orang tua harus lebih mendominasi dibanding pendidikan anak pada lingkup formal.

Jika kita hanya mengandalkan pendidikan anak hanya sebatas pendidikan formal tentu dengan keterbatasan ruang dan waktu sangat sulit untuk membentuk pendidikan yang baik. Sebab, kebanyakan waktu anak lebih banyak dihabiskan di luar pendidikan formal. Maka dari itu, peran orang tua harus lebih extra memperhatikan ananknya, sehingga orang tua dapat lebih mudah mengontrol perkembangan anaknya.

Langkah Pendidikan Anak

Terdapat fase-fase yang berkaitan dengan perkembangan anak baik secara kognisi maupun mental. Dimana fase-fase itu akan saling berhubungan dan menjadi penentu terhadap keberhasilan pendidikan anak. Perkembangan anak dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) masa.

Pertama masa Tafaai??i??ul

Masa ini dimulai dari usia 0-13 tahun, yang merupakan masa keemasan pada anak dan saat inilah proses atensi yang paling cepat ke memori. Dalam kajian psikologi kognisi di jelaskan pada masa ini merupakan kondisi anak melalukan sensasi melalui panca indera (mata, mulut dan telinga).

Terlebih pada saat usia anak 0-4 tahun. Apapun yang mereka sensasikan akan dengan mudah dan cepat masuk ke memori, bahkan atensi yang masuk ke memori pun akan tersaving dalam waktu yang sangat panjang.

Maka, dalam masa ini kita sebagai orang tua harus lebih berhati-hati dalam memberikan kosakata atau Ai??tindakan (fisik). Karena apapun yang anak sensasikan akan sangat mudah ditiru sehingga berpengaruh terhadap psikologi dan kemampuan kognisi anak. Masa ini tentu menjadi penentu terhadap keberlangsungan anak pada masa berikutnya apakah anak mendapatkan pendidikan yang baik atau tidak.

Kedua disebut dengan masa Takabur

Masa di mana pencarian jati diri dimulai pada masa ini. Anak yang berada pada posisi ini akan lebih egois dan merasa benar, segala kebenaran seakan milik mereka. Masa ini dimulai pada usia 13-20 tahun. Umumnya terjadi pada saat anak berada pada bangku SMP-SMA. Masa ini tentu tidak akan terlalu sulit jika pendidikan anak pada masa 0-13 tahun dijalani melalui proses yang benar.

Karena anak dengan sendirinya sudah memiliki pondasi, setidaknya anak dapat membatasi diri dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Akan sangat berbahaya jika anak tidak dibekali dengan pendidikan yang baik sebelumnya yang menyebabkan anak tidak dapat mengontrol diri dan melahirkan kenakalan remaja berupa perkelahian, tauran antar sekolah, balapan liar dan tidak sedikit pula yang terjerumus dalam pergaulan bebas atau sex bebas.

Beberapa hari yang lalu media masa di gegerkan dengan berita siswa yang menganiaya gurunya yang di lakukan oleh MH terhadap gurunya berinisial ABC sampai meninggal. Hal ini sangat mungkin terjadi dimanapun dan kapanpun. Oleh sebab itu, peran orang tua menjadi penting untuk bersinergi dengan pihak sekolah untuk mengontrol dan mengawasi tingkah laku anaknya, sehingga control sosial anak terawasi dengan baik dan tidak melahirkan kenakalan-kenakalan yang dapat merugikan dirinya dan orang lain.

Ketiga masa Tasyakur

Masa Tasyakur umumnya berlaku pada usia 40-60 tahun. Pada masa ini manusia akan mengalami kematangan berpikir bisa dikatan juga sebagai masa pertobatan. Seiring dengan bertambahnya usia menyebabkan kondisi fisik menjadi lemah. Semangat terhadap keduniawian tidak lagi menjadi prioritas pada masa ini, manusia sedikit-sedikit akan mulai melangkah pada fase pertobatan.

Dengan arti lain ini merupakan fase kesimpulan dari kehidupan manusia jika dilihat dari sudut pandang materi apakah miskin atau kaya dan menjadi evaluasi atas amal perbuatan berkaitan dengan (ukhrowi) agar segera memperbaiki untuk mempersiapkan bekal menjelang kepulangan kepada sang Khalik.Ai??Iman Solahudin — Mahasiswa PPs Matematika, Jakarta

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.