Cara Meng-Energize Hidup melalui Ilmu| Kajian Ulang Metafisika Part ai??i?? 8

Cara Meng-Energize Hidup melalui Ilmu| Kajian Ulang Metafisika Part – 8
0 65

Cara Energize Hidup melalui Ilmu. Apakah anda bangga jika di buku tabungan, tertulis uang sekian ratus juta atau milyaran rupiah? Jika bangga, itulah materialisme yang sesungguhnya. Uang dalam posisi seperti itu, tidak akan mampu meng-energize hidup manusia yang lain. Uang itu, patut dianggap tidak bernilai. Atau serendahnya, tingkat kebermanfataannya demikian rendah.

Kepokan uang itu, akan berarti tidak diinvestasikan dalam bidang apapun. Mereka yang berinvestasi, dalam makna ini, harus dipandang bernilai. Nilai uang bergeser dari kongkret ke nilai substansial.

Pertanyaan kedua, apakah anda gembira saat misalnya ditetapkan sebagai cumlaude atau summa cumlaude.Ai??Ai??Suatu prestasi tingkat tinggi pada mengakhiri study S1, S2 maupun S3. Jika anda bangga, senang dan bahagia, tentu saja itu manusiawi. Pertanyaannya, apakah berbagai perasaan tadi, terjadi karena pertemuan elektro magnetik , di mana partikel-partikel terkecil bergerak? Atau ada sesuatu yang jauh lebihAi??beyon’d dan bersipat immateril

Hal yang sama, berlaku dalam soal yang melingkupi kehidupan manusia. Misalnya, apakah rasa gila yang dimiliki manusia terjadi karena proses kimiawi? Suatu proses perubahan pada benda-benda fisik sebagaimana difahami Sigmund Frued? Atau ternyata ada faktor lain yang menjadi penyebab utama di luar jangkaun dimensi fisik manusia?

Bagaimana pula dengan perasaan cinta satu manusia dengan manusia lain? Apakah perasaan cinta juga sama! Terjadi karena karena ada”benturan” dimensi kimiawi tubuh manusia. Lalu bagaimana dengan misalnya ada manusia, yang ditinggal mati istri atau suaminya, ia tetap menjaga cintanya. Padahal yang jauh lebih cantik atau jauh lebih gagah itu sangat mungkin dia peroleh di luar kekasih dia sebelumnya?Ai?? Jika pertimbangannya hanya murni dalam pertimbangan partikel kimiawi, seharusnya, perasaan itu sangat mudah dilupakan atau digantikan. Faktanya, ternyata tidak!

Penggerak Utama di antara Materialisme dan Idealisme

Kelompok materialis tentu akan mengatakan bahwa perasaan tadi, bukan digerakan wujud absolute [Tuhan] atau apapun namanya. Jenis aliran ini menolak pemikiran keberadaan wujud absolut di balik yang fisik. Mereka akan memahami persoalan tadi murni dalam pertimbangan proses kimiawi-fisik belaka. Tanpa sedikitpun dibauri apek-aspek lain di luar yang bersipat materil.

Ilmuwan yang berfikir faham ini akan membatasi alat sebagai objek ilmu pada lingkup pengalaman yang bersifat rasional-empiris atau sebaliknya. Metafisika materialisme inilah yang di abad ke 17 menjadi pintu bagi lahirnya teori metode ilmiah dalam apa yang disebut dengan deduksi vs induksi.

Bagi kelompok materialisme, ilmu tidak pernah berpaling pada perasaan, tetapi, terfokus pada objek-objek yang bersifat konkret, nyata, rasional dan terukur. Secara etimologis, ilmuwan dengan jenis ini akan membatasi hakikat keilmuan dalam jangkauan pengalaman manusia semata. la tidak berani menerobos dinding kekuatan keilmuan di luar batas yang empiris dan rasional.

Logika materialisme di atas, kemudian diterapkan dalam konsep ilmu modern. Basis keilmuan moderen, justru menyebabkan bahwa banyak kajian keagamaan tidak layak disebut ilmu. Sebetapapun ilmu keagamaan itu dianggap sistematis. Sebut misalnya, Ilmu Kalam atau Teologi. Ia tetap tidak dapat disebut sebagai ilmu, karena objek kajiannya tidak terletak dalam dunia nyata. Padahal standarisasi keilmuan kaum materialis, selalu menempatkan ilmu hanya untuk mencari jawaban terhadap masalah-masalah dunia yang nyata.

Adagium yang berlaku dalam kaum metafisikus yang materialis selalu menyebut bahwa Ilmu diawali dengan fakta dan harus diakhiri dengan fakta pula. Secara faktual, dalam anggapan mereka, Tuhan tidak faktual. Mengapa? Sebab Tuhan tidak empiris, meski sangat mungkin rasional. Sesuatu baru disebut sebagai ilmu, apabila bertemu dua sisi, yakni empirisme dan rasionalisme.

Kelemahan Materialisme

Kondisi demikian, dalam beberapa hal akan merugikan umat manusia sebagai “creator” ilmu. Sebab ilmu akan kesepian dari nilai-nilai transendental. Manusia akan menjadi lebih congkak dan sulit peduli terhadap aspek-aspek non fisik. Perkembangan keilmuan yang demikian, pada akhirnya, ilmu akan menghilangkan nilai-nilai dasar pengetahuan.

Perkembangan ilmu; baik ilmu-ilmu fisika, biologi dan ilmu sosial, yang dihasilkan ilmuwan dengan jenis ini, berujung pada menjauhnya manusia dari sifat transedenental, ketuhanan. Dan itu telah dibuktikan dengan munculnya paham ateisme serta nilai-nilai pengetahuan sekular yang diangun ilmuwan dengan jenis ini.

Harus juga diakui bahwa meski aliran tadi berdampak sangat negative terhadap runtuhnya nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai ketuhanan, secara pragmatis, faham ini dapat pula berdampak positif. Sebab ketika aspek metafisik keilmuan difahami sebagai dinamika materi, konsekwensinya manusia tidak akan pernah puas untuk terus melakukan penelanjangan terhadap basis keilmuan. Manusia merasa berhak untuk terus mengembarigkan ilmu dari satu tepian menuju ke tepian lain. Ujungnya, ilmu akan berkembang dengan tingkat perkembangan yang sangat pesat.

Berbeda dengan ilmuwan yang berhaluan tadi, ilmuwan yang berpedoman pada filsafat idealisme, usaha mencari tahu tentang berbagai informasi yang ada dalam objek empiris rasional itu, tentu saja akan dibarengi dengan mencoba melakukan kajian ulang dalam perspektif yang agak berbeda. Ia menyadari akan keterbatasan dirinya sebagai manusia dan mengakui kehadiran satu Dzat yang Maha Besar di balik berbagai realitas yang ada. Manusia dituntut untuk memberikan perigertian dan pendalaman terhadap objek material yang terlihat. Bersambung –Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...