Cara Mengajarkan Entrepreneurship Pada Tingkatan Universitas

0 10

Cara Mengajarkan Entrepreneurship Pada Tingkatan Universitas – Seperti kita ketahui bersama, entrepreneurship tak lagi menjadi sesuatu yang diyakini sebagai bakat yang dimiliki seseorang begitu saja dengan genetis. Beberapa pihak yang meyakini ternyata entrepreneurship adalah sesuatu yang dapat dipelajari dan juga dikuasai dengan kerja keras dan pengalaman memberikan kesempatan untuk generasi muda untuk mempelajari entrepreneurship di jenjang pendidikan tinggi. Atau jika tidak sepenuhnya pun berfokus kepada entrepreneurship, entrepreneurship dimasukkan sebagai bagian dari suatu kurikulum.

“Jika Anda menghendaki seseorang menjadi entrepreneur lakukanlah dengan cara magang. Dengan cara itulah ia akan mendapatkan pengalaman yang pasti berharga.”

Begitulah kira-kira inti pernyataan Birch (menurut Aronsson) mengenai bagaimana sebaiknya mengajarkan entrepreneurship pada tingkatan universitas.

Bagaimana Entrepereneurship Harus Diajarkan?

Merebaknya euforia mengenai bagaimana seyogyanya entrepreneurship diajarkan menjadi sangat membingungkan untuk semua pihak. Karena tak ada kejelasan standar inilah banyak dari kita yang tidak memiliki banyak pertimbangan atau juga hanya menggunakan pertimbangan sendiri atau hanya dengan meniru cara institusi lain dalam mengajarkan entrepreneurship.

Namun begitu Kevin Hindle berpendapat bahwa prinsip-prinsip umum tentang cara pengajaran entrepreneurship adalah dengan berdasarkan pengalaman, dengan kreativitas, dengan suka cita, dengan penuh hormat, dengan penyesuaian diri (terhadap perkembangan), dan yang paling menantang, dengan sistem khas entrepreneur.

Siapa yang Bisa Mengajarkan Entrepreneurship?

Pengalaman Akademis vs Pengalaman Empiris
Banyak universitas terutama di luar negeri yang sekarang menawarkan program doktoral dalam bidang entrepreneurship. Mereka yang telah menyelesaikan program tersebut memenuhi syarat untuk menjadi seorang pengajar di universitas asal mereka. Sayangnya mereka mayoritas minim pengalaman nyata dalam lapangan. Berbagai pengajar ini tak pernah menjalankan usaha secara riil dan mencapai kesuksesan. Namun tetapi mereka ini berkemampuan mengajar lebih baik.

Di sisi lain, perlu diingat jika seseorang dengan pengalaman lapangan yang lebih memadai perlu untuk diberikan ruang meskipun secara akademis mereka terbilang belum memenuhi syarat atau bahkan tak mengecap bangku kuliah. Kelemahan mereka biasanya kurang familiar dengan dunia pendidikan sehingga tak bisa menyampaikan materi dengan sebaik-baiknya kepada mahasiswa.

Sebagai jalan tengah dari kedua hal ekstrim di atas, agaknya perlu suatu keseimbangan dalam memberikan mandat, siapa yang dianggap layak mengajarkan entrepreneurship dalam tingkat perguruan tinggi. Sebuah tim pengajar entrepreneurship idealnya menurut Kevin Hindle terdiri dari dua kelompok: pengajar dengan kualifikasi akademik yang memadai dalam bidang entrepreneurship (yang tidak harus berpengalaman dalam menjalankan usaha yang riil) dan juga pengajar dengan latar belakang dunia entrepreneurship (sehari-hari berprofesi sebagai entrepreneur). Dengan begitu, anak didik dapat menyerap dengan baik pengetahuan teoritis dan pengalaman nyata secara seimbang.

Kurikulum Seperti Apa yang Dapat Diajarkan?

Kevin Hindle mengemukakan pendapatnya mengenai bagaimana suatu kurikulum ideal bagi calon entrepreneur dapat dikembangkan. Tentu saja ini bukanlah sebuah hukum absolut yang harus dipatuhi tetapi lebih menjadi sebuah panduan yang dapat membantu siapa saja untuk menentukan kurikulum yang seimbang.

Dalam penjelasan Hindle, pendekatan untuk menyusun kurikulum entrepreneurship bersifat hierarkis dan terbagi layaknya sebuah piramida.

Hindle berargumen bahwasanya empat bidang yang berada di level terbawah kerap diajarkan di semester-semester awal program Master of Business Administration (MBA) di universitas Amerika Serikat. Lapis kedua dalam piramida diisi dengan pengetahuan yang jenisnya tambahan. Biasanya corporate strategy menjadi mata kulaih yang diajarkan saat masa studi mencapai tingkat atas. Di dalam corporate strategy Anda dapat mempelajari bagaimana sudut pandang seorang CEO atau perspektif yang relevan.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.