Cara Menjadi Manusia Genius melalui Proses Asosiasi dan Nalar Kreatif

0 38

Al Qur’an mengatakan: “Termasuk orang yang “takabur”, jika dia berkata pada sesuatu yang tidak dia lakukan atau belum dia kerjakan”. Kalau ingin menjadi manusia yang tawadlu, diakui kehandalannya, maka, berkatalah pada apa yang telah dilakukan. Jauhkan pembicaraan kita dari suatu cita-cita yang belum terlaksana.

Prinsipnya, katakan saja apa yang telah dilakukan; positif-negatif. Sebab ketika kita mampu membicarakan sesuatu dari apa yang telah dilakukan, sekalipun buruk, apalagi tentu kalau baik, maka, perkataan itu akan bermakna kebaikan.

Kita mesti sadar bahwa masa lalu adalah aspek fundamental diri kita. Masa lalu akan membentuk dimensi-dimensi primordial kita sebagai manusia. Manusia yang lupa akan masa lalunya, sekalipun itu buruk dan menyesakkan, maka, berarti dia tidak memiliki harapan untuk menatap masa depan. Dari masa lalulah kita belajar.  Dari situ pula, kita sebenarnya memulai sesuatu.

Contoh. Jika kita berasal dari kampung. Profesi orang tua PNS kelas rendahan. Lahir dari ibu yang bekerja sebagai petani kampung. Jika saya, misalnya, mampu melupakan dimensi-dimensi yang telah melekatkan diri sebagai orang kampung dengan latar belakang ekonomi seperti itu, maka, berarti bukan saja telah melepaskan dimensi primordial, tetapi, juga akan bermakna bahwa kita tidak memiliki harapan masa depan.

Ko bisa begitu, mengapa? Karena dari perjalanan itulah, kita sebenarnya dapat menafsirkan gejala-gejala kekinian dari apa yang telah terpragmentasi dalam kehidupan di masa lalu.  Apa yang dialami atau dari orang yang ada di sekitar, kita, maka, dari situlah kita sesungguhnya belajar hidup. Itulah pelajaran alamiah dan dunia nyata yang dijalani.

Menjadi Manusia Genius itu Sederhana

Implementasi jiwa kampungan saya, akan menjadi ilmu jika misalnya, hari ini saya berkata kepada petani padi. Bahwa misalnya padi yang tumbuh di sawah tertentu, yang menampilkan model dan bentuk tertentu, akan menghasilkan keuntungan. Atau sebaliknya, bahwa sawah yang penuh padi itu akan merugi.

Jika saya berkata demikian, bukan berarti saya mampu meramal masa depan, karena saya misalnya suka mati geni. Apalagi tentu jika saya disebut genius, karena latar belakang keilmuan saya bukan sebagai Insinyur ko bisa meramal masa depan padi.

Ko bisa meramal dan ramalannya terbukti. Jawabannya bukan demikian? Saya hanya memiliki pengalaman yang dari pengalaman itu, saya belajar dan terus menerus terlatih diri dalam waktu yang sangat lama, memandang dan menyimpulkan jenis padi seperti apa yang bakal menghasilkan padi atau merugikan. Dari pengalaman masa lalu itu, kepada para petani karena pengalaman masa lalu itu. Saya implementasikan pengalaman itu dalam konteks kekinian.

Contoh lain, ketika saya berbincang-bincang dengan seseorang dalam waktu tertentu. Setelah sekian waktu itu, saya mampu menyimpulkan bahwa si A dengan latar belakang seperti dia sampaikan misalnya, disimpulkan memiliki karakter seperti A sampai Z.

Ko bisa, bagaimana caranya? Ya tentu saja bisa! Mengapa dan bagaimana? Ya, caranya mengasosiasi seluruh perjalanan dan pengalaman hidup yang dialami diri kita dan orang lain yang hidup-nya bareng bersama kita. Tingkat kemungkinan samanya pasti tinggi. Meski terdapat relasi kemungkinan untuk keliru.

Dengan demikian, apa yang disebut dengan genius, menurut saya adalah, tidak lebih karena ia memiliki kemampuan asosiatif dan nalar kreatif-nya pada segenap perjalanan yang telah dia tempuh. Problemnya, bagaimana seseorang bisa berasosiasi?

Caranya, ya dengan belajar dan terus belajar agar terlatih memiliki kapasitas untuk mengasah fungsi motorik otaknya melalui kreativitas berpikir atas perjalanan hidup masa lalu. Itu saja … Jadi kalau anda ingin menjadi manusia genius, ya…  kreatif-lah dalam berpikir dengan melatih asosiatif dari perjalanan hidup di masa lalunya. Kalau tidak percaya, coba saja …. By. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...