Inspirasi Tanpa Batas

Cara Menyusun Proposal Penelitian

Cara Membuat Proposal Penelitian
0 37.021

Kegiatan ilmiah salah satunya dilakukan melalui penelitian Ilmiah. Penelitian ilmiah, umumnya diawali dengan penyusunan proposal atau rencana penelitian. Kata Proposal sendiri berasal dari bahasa Inggris, to propose yang berarti mengajukan. Penelitian ilmiah, secara akademik biasanya terwujud dalam bentuk Skripsi (SI), Tesis (S2) dan Disertasi (S3). Proposal penelitian dimaksud, diajukan kepada program yang menyelenggarakan pendidikan pada berbagai jenjang tadi.

Tentu masih banyak jenis penelitian ilmiah lain dalam bentuk penelitian murni dan terapan (umumnya digunakan politikus dan pengusaha), yang juga membutuhkan proposal. Penelitian lain dimaksud, sebut misalnya penelitian tindakan untuk keperluan akademis dan keperluan lain yang dibutuhkan masing-masing peneliti sesuai dengan posisi, fungsi dan profesi masing-masing.

Lepas dalam jenis apa penelitian yang akan dilakukan, yang pasti, berawal dari proposal, Bahkan baik dan buruknya sebuah penelitian, akan sangat tergantung kepada bagaimana penelitian itu, disusun di proposal dimaksud. Untuk itu, ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam merumuskan proposal penelitian. Langkah-langkah dimaksud umumnya adalah sebagai berikut:

Latar Belakang Masalah

Langkah pertama dalam menyusun proposal penelitian adalah mengajukan masalah penelitian. Persoalannya, apa itu masalah ilmiah. Suatu masalah disebut ilmiah, salah satunya akan dicirikan pada keterikatannya dengan aspek-aspek lain. Dalam konteks ini, pada hakikatnya, sesuatu disebut masalah ilmiah, ia tidak pernah berdiri sendiri dan tidak pernah terisolasi dari faktor dan sebab lain. Setiap masalah selalu dan pasti memiliki konstelasi yang menjadi latar belakang munculnya sesuatu yang kita sebut sebagai masalah.

Secara operasional, suatu gejala, baru disebut masalah ilmiah, apabila gejala tersebut memiliki atau mencakup suatu situasi tertentu dengan dorongan tertentu pula. Hanya saja, karena kita sedang membincangkan masalah ilmiah, maka gejala dan situasi dimaksud, mesti berkaitan dengan sesuatu yang bersipat ilmiah.

Jika demikian masalahnya, apa yang dimaksud dengan masalah ilmiah. Sesuatu dapat disebut sebagai masalah ilmiah, apabila sesuatu dimaksud memenuhi kaidah-kaidah ilmiah. Kaidah ilmiah itu sendiri, dapat dibaca di bab-bab sebelumnya.

Dalam menyusun latar belakang masalah, peneliti diharuskan fokus mengkaji tentang sesuatu yang disebut dengan masalah. Dalam teknisnya, ketika peneliti menyusun latar belakang masalah tadi, ia dapat menopang pernyataan-pernyataan sebelumnya dengan menggunakan teknik pengembangan pokok bahasan, penjelasan, ilustrasi, analogi, kutipan statistik dan argumentasi logis yang ditarik dari pernyataan sebelumnya. Hanau merumuskan penyusunan latar belakang masalah dimaksud dengan singkatan PIE (Prove, Information and Example). Secara garis besar, latar belakang masalah dalam penelitian ilmiah setidaknya memunculkan satu persoalan.

Pada apa yang disebut dengan masalah ilmiah dalam penelitian, biasanya peneliti harus mampu membedakan dua titik singgung besar. Pertama, apa yang disebut dengan masalah dimaksud mesti mengandung pertentangan antara dimensi idealitas dengan realitas. Atau sebaliknva! Ada suatu realitas yang bertentangan dengan sesuatu yang ideal. Kedua, ada perbedaan antara sesuatu yang diharapkan dengan realitas nyata yang dihadapi.

Contoh Masalah Penelitian

Pendidikan layak dianggap terlibat dalam memperkuat carut-marutnya peradaban moderen. Indikatornya terlihat dari, pendidikan tidak mampu mengawal sisi metapisik manusia yang seharusnya bertuhan. Dalam banyak hal, pendidikan bahkan terkesan menjadi salah satu institusi yang menegakkan lahir dan berkembangnya ide otonomi atesitik. Model pendidikan yang demikian, bukan saja akan menurunkan derajat kemanusiaan, tetapi bahkan akan meruntuhkan sendi-sendi kemanusiaan itu sendiri. Pendidikan yang telah menafikan dimensi metafisik, secara langsung mengakui eksistensi pada sesuatu yang hanya materil dan sensual.

Jika kondisi demikian terus dibiarkan, maka makhluk bernama manusia, pasti akan mengalami tragedi kemanusiaan yang sangat parah. Oleh karena itu, lembaga pendidikan perlu segera merumuskan kembali dimensi-dimensi metafisiknya agar manusia dapat dikembalikan ke firali dasarnya sebagai abdullah sekaligus sebagai khalifah Allah. Salah satu usaha itu adalah dengan merumuskan nilai etik keagamaan dalam literatur pendidikan di Sekolah Dasar.

Identifikasi Masalah

Peneliti dapat mengidentifikasi objek-objek masalah dalam konstelasi yang bersifat situasional. Identifikasi masalah adalah tahap permulaan dari penguasaan masalah. Suatu objek atau suatu jalinan situasi tertentu yang dapat dikenal sebagai masalah. Identifikasi masalah memberi peneliti sejumlah pernyataan. Asas bahwa “bukan kuantitas jaiuabannya yang menentukakan rnutu keihnuwan penelitian, melainkan kualitasjawabannya”, berlaku dalam kegiatan ilmiah. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penelitian dapat diidentifikasi ke dalam bentuk:

Penelitian ini mengkaji nilai-nilai positivisme dalalam literatur Sekolah Dasar. Literatur yang dikaji mengacu kepada Undang-undang Pokok Pendidikan Nomor 22 tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi menyangkut: Ilmu Agama dan kerohanian, ilmu kebudayaan, ilmu sosial dan ilmu eksakta/ teknik. Namun demikian, peneliti hanya mengkaji dua mata pelajaran, yakni mata peajaran sains dan Pendidikan Agama Islam.

Pilihan peneliti pada dua bidang ini dipilih karena peneliti menganggap bahwa secara paradigmatik kedua bidang ini berada dalam dua ujung yang diamteral. Artinya, dalam rumpun sains, pengkajian dapat diterapkan dengan bidang serumpun, seperti Matematika dan eksakta lainnya. Sedangkan mata pelajaran PAI dapat dikorelasikan dengan bidang ilmu humaniora dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Penelitian ini bergerak dalam wilayah filosofis yang ukuran kebenarannya diukur berdasarkan runtutan logika.

Penelitian ini akan menunjukkan bentuk-bentuk nilai positivisme dalam pelajaran sains dan PAI, serta dampaknya terhadap peserta didik. Di akhir penelitian, peneliian ini menjelaskan bentuk-bentuk nilai etik yang secara subjektif perlu diajarkan kepada peserta didik di jenjang Pendidikan Dasar, khususnya dalam pelajaran sains dan PAI.

Pembatasan Masalah

Ilmu merupakan pengetahuan yang dikembangkan secara kumulatif. Setiap permasalahan dipecahkan setahap demi setahap atau sedikit demi sedikit. Peneliti harus memberikan jawaban secara ilmiah yang dapat meyakinkan bahwa suatu permasalahan atau membiarkan pertanyaan itu tanpa ada jawaban. Pembatasan masalah merupakan upaya untuk menetapkan batas-batas permasalahan dengan jelas yang memungkinkan peneliti dapat mengidentifikasi faktor mana saja yang termasuk dalam ruang lingkup permasalahan; dan faktor mana yang tidak termasuk di dalamnya. Ludwig Wittgeinstein berkata: wovon mannicht sprechen knnn, dumber muss man schwigen (apa yang tidak dapat kita katakan, kita harus biarkan dia membisu).

Permasalahan harus dibatasi ruang lingkupnya. Pembatasan nrasalah merupakan upaya untuk menetapkan batas-batas permasalahan dengan jelas yang memungkinkan peneliti dapat mengidentifikasi faktor mana yang termasuk ruang lingkup permasalahan dan faklor mana saja yang tidak termasuk dalam ruang lingkup permasalahan. Contoh atas masalah di atas adalah sebagai berikut:

  1. Paradigma keilmuwan yang dibangun di atas nilai-nilai positivisme
  2. Nilai positivisme dalam pelaksanaan pendidikan
  3. Indikator-indikator yang memperkuat adanya asumsi bahwa literatur pendidikan dasar dipengaruhi oleh nilai-nilai positivisme
  4. Literatur Sekolah yang berbasis pada nilai-nilai positivisme
  5. Corak kehidupan lulusan
  6. Pendidikan berbasis nilai etik keagamaan
  7. Landasan normatif yang mendorong pentingnya nilai etik keagamaan dalam literatur pendidikan
  8. Bentuk nilai etik keagamaan dalam literatur pendidikan
  9. Implikasi [hipotetik] literatur pendidikan berbasis nilai etik

Perumusan Masalah

Perumusan masalah adalah pernyataan yang lengkap dan terperinci mengenai ruang lingkup permasalahan yang akan diteliti berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah. Perumusan masalah dimaksud harus memperjelas dan mensimplikasi masalah yang diwujudkan ke dalam bentuk pertanyaan penelitian. Perumusan masalah, dengan demikian adalah upaya untuk menyatakan -tentu dalam bentuk pertanyaan— secara tersurat pernyataan-pernyataan apa saja yang ingin dicarikan jawaban dari sesuatu yang disebut sebagai masalah.
Masalah yang sudah diidentifikasi dan dibatasi, tercermin dalam pernyataan yang bersifat jelas dan spesifik, di mana untuk menemukan jawabannya, peneliti dapat mengembangkan kerangka pemikiran berupa kajian teoritis berdasarkan pengetahuan ilmiah yang relevan, serta memungkinkan peneliti untuk melakukan pengujian empirik terhadap kesimpulan analitis teoritis. Secara konseptual, masalah tersebut sudah berhasil dirumuskan. Ada dua jalan untuk memformulasikan masalah. Pertama, menurunkan masalah dari teori yang telah ada; dan kedua, dengan melakukan observasi langsung ke lapangan.

Tujuan Penelitian

Setelah masalah dirumuskan ke dalam bentuk pertanyaan penelitian, seorang peneliti, menyatakan tujuan penelitiannya ke dalam bentuk pernyataan. Tujuan penelitian adalah suatu pernyataan atau statement tentang ruang lingkup dan kegiatan yang akan dilakukan. Kemungkinan kegunaan penelitian yang merupakan manfaat, dapat dipetik dari pemecahan masalah yang didapat dari penelitian, dibahas setelah menyatakan tujuan penelitian.

Berdasarkan contoh narasi tadi, maka penelitian di atas dapat disusun ke dalam bentuk tujuan penelitian sebagai berikut:

  1. Menjelaskan paradigma keilmuan yang dibangun di atas nilai filsafat positivisme.
  2. Menjelaskan adanya posisi nilai-nilai positivisme dalam literatur Sekolah Dasar.
  3. Menjelaskan indikator-indikator yang memperkuat adanya asumsi bahwa literatur pendidikan dasar dipengaruhi nilai- nilai positivisme.
  4. Menjelaskan pengaruh literatur Sekolah Dasar yang berbasis pada nilai-nilai positivisme terhadap corak kehidupan lulusan.
  5. Menjelaskan alasan yang menyebabkan siswa Sekolah Dasar harus diajari tentang pendidikan berbasis nilai etik keagamaan.
  6. Menjelaskan landasan normatif yang mendorong pentingnya nilai etik keagamaan dalam literatur pendidikan di Sekolah Dasar.
  7. Menjelaskan bentuk nilai etik keagamaan dalam literatur pendidikan dasar.
  8. Menjelaskan implikasi [hypotetik] literatur pendidikan berbasis nilai etik keagamaan di jenjang Sekolah Dasar.

Kerangka Pikir Peneliti

Kerangka pikir peneliti, umumnya diletakkan di bab II. Rumusan sederhananya, sering pula disusun dalam bab I yang masih menyatu dengan proposal penelitian. Pun demikian, perlu ditambahkan bahwa kebanyakan di Perguruan Tinggi Umum, proposal penelitian biasanya disusun sampai ke bab III (Metode Penelitian).

Kerangka pikir peneliti atau landasan teori -terlepas ditempatkan di bab I atau Bab II —pada hakikatnya ia merupakan penjelasan umum terhadap gejala yang yang menjadi objek permasalahan peneliti. Kerangka pemikiran yang berupa penjelasan ini merupakan argumentasi peneliti dalam merumuskan hypotesis —jawaban sementara terhadap masalah yang diajukan.

Kriteria utama agar suatu kerangka pemikiran dapat meyakinkan sesama ilmuan, adalah adanya alur-alur pikiran yang logis dalam membangun suatu kerangka pikir yang membuahkan kesimpulan berupa hypotesa. Pengetahuan ilmiah akan bersifat konsisten dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya jika bercermin dalam struktur logika berfikir dalam menarik kesimpulan dan memenuhi dua persyaratan yaitu: 1) Menggunakan premis-premis yang benar; 2) Menggunakan cara penarikan kesimpulan yang syah.

Kerangka teori suatu penelitian dimulai degan mengidentifikasi dan mengkaji berbagai teori yang relevan serta diakhiri dengan pengajuan hipotesis yang penjelasan hypotesis. Perumusan hipotesis harus merupakan pangkal dan tujuan dari seluruh analisis yang harus tercermin bukan saja dalam struktur logika berfikir melainkan juga dalam struktur penulisan. Kerangka teori suatu penelitian dimulai dengan mengidentifikasi dan mengkaji berbagai teori yang relevan serta diakhiri dengan pengajuan hipotesis.

Karena itu, landasan teori umumnya menjelaskan secara teoretik pokok-pokok soal (jika penelitiannya bersipat kualitatif), atau variabel-variabel penelitian (jika penelitiannya bersipat kuantitatif) yang akan dikaji peneliti.

Menyusun Hypotesis (untuk Penelitian Kuantitatif)

Setelah masalah berhasil dirumuskan dengan baik, maka langkah selanjutnya, dalam menyusun proposal penelitian – berdasarkan metode ilmiah— adalah mengajukan hypotesis. Hypotesis adalah dugaan atau jawaban sementara terhadap permasalahan yang diajukan. Perumusan masalah dan sub masalah serta perumusan kerangka konseptual untuk menghantarkan peneliti pada kemudahan dalam merumuskan penelitian.

Secara etimologis, hipotesis berasal dari dua perkataan yakni: Hypo, berarti kurang dari dan Thesn berarti pendapat atau teori. Hypotesis dapat diartikan sebagai suatu pendapat atau teori yang masih kurang sempurna. Good and Scates (1954) menyatakan bahwa hypotesis adalah sebuah tafsiran atau referensi yang dirumuskan serta diterima sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta yang dapat diamati atau kondisi yang ditelusuri serta dapat digunakan petunjuk untuk melakukan penelitian selanjutnya. Hypotesis juga sering disebut ”Statement of the theoritis intesahle for atau tentatif statement about reality”.

Dalam konteks filsafat ilmu, penyusunan hypotesis dapat juga disebut sebagai metode ilmiah. Metode ilmiah -dengan nalar ini — dapat disimpulkan ke dalam dua langkah utama. Pertama, pengajuan hypotesis yang merupakan kerangka teoritis yang secara deduktif dijalin dari pengetahuan yang dapat diandalkan. Kedua, pengumpulan data secara empiris untuk menguji apakah kenyataan yang sebenarnya mendukung atau menolak hypotesis tersebut atau tidak.

Penyusunan hypotesis, dituliskan langsung setelah perumusan masalah. Hypotesis dapat juga disebut sebagai postulat. Struktur penulisan ilmiah, secara logis dan kronologis mencerminkan kerangka panalaran ilmiah. Mengenal kerangka berfikir filsafat akan memudahkan siapa saja untuk menguasai hal-hal yang sifatnya teknis.

Ciri Pembuatan Hypotesis yang Baik

Untuk memformulasikan hypotesis dengan baik, Good dan Hatt (1952) menjelaskan ciri-ciri hypotesis yang baik sebagai berikut:

  1. Jelas secara kontektual;
  2. Mempunyai tujuan empiris;
  3. Bersifat spesifik;
  4. Harus dapat dihubungkan dengan teknik penelitian yang ada, dan
  5. Berkaitan dengan suatu teori.

Misalnya seorang peneliti ingin mengetahui hubungan antara motivasi dan prestasi belajar siswa. Secara teoritis, siswa yang bermotivasi tinggi, ia akan memperoleh prestasi yang baik. Begitupun sebaliknya. Siswa yang tidak memiliki motivasi tinggi, maka kemungkinan ia akan memperoleh prestasi yang rendah. Pernyataan teoritis ini, dapat dibuat ke dalam bentuk hypotesis seperti:

“Semakin tinggi motivasi siswa dalam mengikuti suatu proses pembelajaran, maka semakin besar pula peluangnya dalam memperoleh prestasi. Semakin rendah motivasi siswa dalam meng-ikuti suatu proses pembelajaran, maka semakin kecil pula kemungkinan siswa tersebut untuk berprestasi. Seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar dari argumentasinya dalam menyusun kerangka pemikiran”.

Metode Penelitian

Setelah berhasil merumuskan hipotesis penelitian, selanjutnya peneliti melanjutkan kerja ilmiahnya dengan melakukan pengujian hipotesis berdasarkan data empiris dengan metode yang tepat. Sama dengan landasan teori, Metode penelitian juga dapat disusun di bab satu, dapat juga disusun di bab III. Hal ini akan sangat tergantung dari kebijakan masing- masing Perguruan Tinggi.

Metodologi penelitian adalah pengetahuan tentang metode- metode yang dipergunakan dalam penelitian. Suatu penelitian dapat disebut sebagai penelitian ilmiah, jika penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah yang benar adalah:

  1. Berdasarkan Fakta;
  2. Bebas dari prasangka;
  3. Menggunakan prinsip analisis;
  4. Menggunakan hipotesis;
  5. Menggunakan ukuran objek; dan
  6. Menentukan teknik kuantifikasi.

Dalam prakteknya, penelitian dikelompokkan ke dalam beberapa metode sesuai dengan disiplin ilmu pelaku penelitian. Di antara metode-metode itu adalah:

  1. Metode Sejarah. Penelitian dapat dilihat dalam perspetif serta waktu terjadinya fenomena yang diselidiki dan mempunyai perspektif historis.
  2. Metode deskriptif. Suatu metode yang meliputi status kelompok manusia dalam suatu objek, kondisi dan sistern pemikiran ataupun suatu peristiwa pada masa sekarang.
  3. Metode eksperimen. Penelitian yang dilakukan dengan mengadakan uji coba terhadap objek penelitian serta adanya kontrol.
  4. Grounded research. Suatu metode yang mendasarkan diri kepada fakta dan menggunakan analisis perbandingan yang bertujuan untuk mengadakan generalisasi empiris, menetapkan konsep, membuktikan teori dan mengembangkan teori di mana pengumpulan dan analisa data berjalan pada waktu yang bersamaan.
  5. Metode penelitian tindakan (action research). Suatu metode yang dikembangkan peneliti (decision maker) tentang variabel yang dapat memanipulasikan dan dapat segera digunakan untuk menentukan kebijakan.

Teori tentang Metode Penelitian

Jadi, metodologi penelitian adalah pengetahuan tentang berbagai metode yang dipergunakan dalam penelitian. Setiap penelitian pada hakikatnya mempunyai metode penelitiannya masing-masing, dan metode-metode penelitian dimaksud diterapkan berdasarkan tujuan penelitian.

Kajian pertama dalam penyusunan metode penelitian adalah, menyatakan secara lengkap dan operasional terhadap tujuan penelitian yang mencakup, bukan saja variabel-variabel yang akan diteliti dan karakteristik hubungan yang akan diuji, melainkan sekaligus tingkat keumuman (level of generality) dari kesimpulan yang ada, seperti tempat, waktu kelembagaan dan sebagainya. Metode penelitian mencakup beberapa teknik seperti teknik pengambilan conloh, teknik pengukuran, teknik pengumpulan data dan analisis data.

Hasil pemifihan dan analisis masalah serta penentuan meto-de penelitian, lazimnya dituangkan dalam design atau rancangan penelitian “cetak biru” (blue print). Pengumpulan data adalah aktivitas pengumpulan informasi sesuai dengan sumber, metode dan instrumen penelitian untuk mengumpulkan data, peneliti sebelumnya telah mempersiapkan sesuai dengan kebutuhan dihekendaki dalam aktivitas penelitian.

Teknik pengumpulan data yaitu upaya menghimpun data sebanyak-banyaknya melalui beberapa cara, seperti: observasi, wawancara dan angket. Variabel yang dikumpulkan, sumber data yang berasal dari keterangan mengenai variabel tersebut akan didapat, terdapat dalam teknik pengumpulan data.

Dalam metodologi penelitian, juga hams dicantumkan teknik analisis data. Misalnya; penelitian kuantitatif yang bersifat pengaruh dari satu variabel ke variabel lain, misalnya: “Pengaruh metode interactive learning terhadap prestasi siswa”. Dari sisi judul, model penelitian ini, biasanya menggunakan teknik analisis data regresi.

Penelitian yang bersifat hubungan (kausalitas), seperti terlihat dalam judul: “Hubungan antara kondisi keluarga dengan Prestasi Siswa”, model penelitian ini biasanya menggunakan teknik analisis data rank spearment (kalau sampel penelitiannya kurang dari 30 orang) atau r product moment (kalau sampel penelitiannya lebih dari 30 orang).

Penelitian bersifat perbedaan seperti: “Perbedaan Prestasi Siswa yang tinggal di rumah dengan mereka yang tinggal kostan” biasanya menggunakan teknik analisis data t test. Tentu masih ada alat analisis lain yang lazim digunakan dalam melakukan penelitian.

Setiap bidang ilmu, memiliki metodologi tersendiri. Oleh karena itu, setiap bidang keilmuwan memiliki karakteristik dengan metode keilmuwan yang lain. Untuk itu, perlu juga dijelaskan tentang objek ilmu pengetahuan yang kemudian akan melahirkan implikasi berbeda terhadap metode yang tepat untuk bidang keilmuwan yang ada.

Dalam lapangan keilmuwan, dikenal dengan luas adanya dua cabang pengetahuan (objek ilmu). Kedua objek ilmu dimaksud adalah pertama, ilmu kealaman yang kedua, ilmu budaya sebagaihasil dari ekspresi ruh manusia. Objek ilmu yang berbeda secara signifikan ini, secara substansial juga secara otomatis akan melahirkan perbedaan dalam menggunakan metode yang digunakannya. Penjelasan dua objek ilmu itu dapat digambarkan dalam artikel berikut ini: Dua Cabang Objek Ilmu Dalam Penyusunan Proposal Penelitian

Menyusun Laporan Penelitian

Setelah perumusan masalah, penyusunan landasan teori, pengajuan hypotesis dan penetapan metode penelitian, — terlepas masing-masing dipisah berdasarkan bab yang berbeda— maka langkah berikutnya peneliti melakukan penelitian pada objek yang ditelitinya. Hasil penelitian seorang peneliti harus dilaporkan dalam apa yang disebut sebagai laporan hasil penelitian. Laporan hasil penelitian umumny berisi tentang:

  1. Menyatakan dan menjelaskan variabel-variabel yang diteliti (jika bersipat kuantifikasi);
  2. Mendeskripsikan hasil analisis data;
  3. Memberikan penafsiran terhadap analisis data, dan;
  4. Menyimpulkan hasil analisis terhadap hypotesis yang diajukan apakah ditolak atau diterima.

Secara simplistik, bagian ini umumnya diletakkan di bab IV yang berisi tentang penjelasan Hasil-hasil penelitian dan pembahasan Hasil Penelitian.

Menyusun Kesimpulan

Kesimpulan penelitian adalah jawaban dari masalah penelitian. Bukan rangkuman penelitian atau rangkuman penulisan. Jadi, kesimpulan dalam penelitian pasti satu, karena masalah dalam penelitian seperti saya sampaikan sebelumnya, hanya memuat satu masalah. Kesimpulan mesti difahami sebagai konklusi dari masalah yang dimunculkan. Baca lebih lengkap: Menyusun kesimpulan

Pelengkap Laporan Penelitian

Selain susunan di atas, dalam penelitian juga dilengkapi oleh abstrak, daftar pustaka dan riwayat hidup peneliti. Keterangan masing-masing tambahan itu adalah:

Abstrak

Seluruh laporan penelitian disarikan dalam sebuah ringkasan yang disebut abstrak. Abstrak adalah sebuah esai yang utuh dan tidak dibatasi oleh sub bab judul. Dalam abstrak hanya terdapat satu judul, yakni judul penelitian. Setiap bagian ditulis secara utuh namun ringkas, masing-masing dalam paragrap tersendiri.

Jumlah halaman yang tersedia untuk abstrak, pal-ing banyak tiga halaman. Abstrak serendahnya membicarakan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, dasar pemikiran dan hypotesis penelitian, metode penelitian dan hasil penelitian.

Daftar Pustaka

Sebuah laporan penelitian dilengkapi dengan daftar pustaka yang merupakan sumber referensi bagi seluruh kegiatan penelitian. Cara-cara menyusun daftar pustaka biasanya berdasarkan susunan Abjad. (contoh terlihat di bab berikutnya).

Riwayat Hidup

Sebuah tulisan ilmiah disertai riwayat hidup penulis. Riwayat hidup berguna untuk menggambarkan portopolio penulis yang berkaitan dengan status sebagai peneliti atau sebagai penulis. Riwayat hidup, hams menggambarkan deskripsi la tar belakang pendidikan, soal kemasyarakatan, dan pekerjaan yang mempunyai hubungan dengan penulisan ilmiah yang disampaikan. Riwayat hidup dicantumkan pada halaman terakhir dari sebuah laporan tan pa diberi nomor halaman.

Lain-lain sebagai Tambahan

Sebelum memasuki tubuh utarna laporan sebuah tulisan ilmiah, biasanya didahului beberapa informasi yang bersifat pengantar. Pertama-tama tentu saja adalah halaman judul dari laporan ilmiah. Judul tersebut harus singkat namun mampu mengkomunikasikan ten tang masalah yang diteliti. Setelah itu, kata pengantar, yakni lingkup laporan yang akan disampaikan beserta penghargaan terhadap berbagai pihak yang telah membantu penyelesaian karya ilmiah peneliti. Kemudian menyusul daftar isi, daftar singkatan, daftar tabel, daftar diagram dan daftar gambar yang disusun secara tersendiri dan diakhiri dengan daftar isi. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...