Cara Termudah Memasarkan Suatu Produk

0 9

Entrepreneur selalu menyalahkan diri sendiri, sebelum menyalahkan orang lain. Ia akan mencari nilai keseimbangan diri, bahwa pada akhirnya, hidup selalu mengandung nilai lemah. Ia sadar, tidak mungkin ada yang sempurna. Kesempurnaan adalah milik Tuhan. Karena manusia menjadi makhluk Tuhan dan bukan menjadi Tuhan, maka, ia pasti memiliki kelemahan.

Dalam konteks jual beli juga sama. Seorang entrepreneur tidak mungkin mampu memberi penilaian negatif terhadap produk yang dibuat orang lain, meski ia yakin bahwa produknya lebih unggul dibandingkan dengan produk yang dimiliki orang lain. Ia akan lebih fokus pada semangatnya untuk memasarkan produknya sendiri, ketimbang harus pusing memikirkan produk; positif-negatif dari yang dimiliki orang lain.

Semangat tinggi yang dimiliki seseorang untuk memasarkan produknya itu, akan membuat seorang entrepreneur, dalam banyak kasus, mengutif Bob Sadino (2012) terkesan seperti orang “gila”.  Ia tidak takut kehabisan konsumen, sama tidak takutnya, jika ternyata produknya tidak jauh lebih baik dibandingkan dengan produk orang lain. Ia yakin bahwa rizki ada di depan matanya. Ia menjadi positive thinking terhadap dirinya dan terhadap produknya.

Waktu Para Entrepreneur

Seorang entrepreneur akan menghabiskan waktu, pikiran dan perhatiannya kepada produk-produk yang dia buat. Ia akan terus menerus melakukan evaluasi dan meta evaluasi terhadap hasil produksinya itu. Gelar kegilaannya itu sendiri, baru terhapus saat orang lain mampu melihat kesuksesan karena hasil kerja kerasnya itu, yang hampir sulit ditandingi orang lain. Ia selalu memiliki satu ide nyata, yang mampu dikreasinya menjadi sebuah kenyataan. Ia akan mencari ide lain,  ketika ide awal sudah ia tunaikan. Hal ini berlaku dalam soal memasarkan suatu produk.

Inilah pesan yang saya sampaikan kepada suatu rombongan besar ketika mereka sengaja datang ke rumah kami. Ia menawarkan suatu produk tertentu, di mana dia, tampaknya menjadi salah satu agensi dari produk yang dibawanya. Ia memaparkan kelemahan-kelemahan produk yang dimiliki perusahaan lain, ketimbang secara santun menyampaikan kelebihan-kelebihan produk yang dimilikinya.  Kesannya menjadi bombastik dan tidak terarah. Akibatnya, saya dan keluarga yang tadinya berminat membeli-pun, malah menekan kemauan itu, dan menunda atau bahkan tidak jadi membeli.

Psikologi pembeli itu, sama seperti psikologi pemilih dalam kegiatan politik. Semakin tinggi seorang calon tertentu ditekan, dipojokkan dan dicari kelemahan-kelemahannya, malah ia akan dipilih banyak konstituen. Calon yang sedikit tingkat tekananannya, dalam kasus-kasus tertentu sering kali kalah dalam sebuah pertarungan

Dalam soal jual beli juga sama. Psikologi konsumen sebenarnya tidak ingin dipusingkan dengan cara menilai kelebihan dan kekurangan; baik terhadap produknya sendiri, maupun terhadap produk orang lain. Pembeli lebih ingin fokus memperhatikan produk yang akan dibelinya. Hal ini, terjadi karena pembeli menjadi nyaman dan tidak memiliki ruang negosiasi kebathinan yang mengganggu perasaannya.

Memasarkan suatu produk, karena itu, tentu harus datar dan natural. Tidak dipaksakan dan tidak menekan. Proses jual beli harus selalu mengandung semangat saling menguntungkan dan menjadi solusi atas masalah yang dihadapi pembeli dan penjual. Memasarkan suatu produk karena itu, berarti mendorong kesadaran pembeli akan nilai keuntungan yang mungkin dia dapatkan jika pembeli pada akhirnya harus memilih produk yang kita tawarkan. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.