Catatan Kritis untuk Kaum Positivistik| Menata Ulang Konsep Dzikir Part – 3

1 40

Catatan Kritis untuk Kaum Positivistik – Penulis sependapat [karena dihasilkan riset serius], teknologi telah mampu menunjukkan dimensi terkecil dari setiap pecahan benda. Suatu ukuran, termasuk ukuran pecahan tubuh manusia itu sendiri. Suatu ukuran yang tidak mampu dilihat secara kasat mata oleh mata manusia. Ukuran yang cara melihatnya, harus menggunakan alat tercanggih karena melintasi batas-batas toleransi manusia biasa.

Coba kita bayangkan bagaimana tubuh manusia dipecah dalam pecahan molekul, atom dan inti atom. Rumusan manusia yang demikian, dengan standar teknologi yang digunakan, telah membuat manusia persis ibarat atom yang di awal abad ke dua puluh dianggap partikel terkecil, saat ini terlihat seperti Planet kalau dibandingkan dengan apa yang disebut dengan inti atom. Mengapa? Karena ukuran inti atom adalah 1/10 000 dari besarnya atom.

Disayangkan bahwa basis pengetahuan positivistik tidak pernah mempertanyakan secara serius darimana sesungguhnya atom dan inti atom itu berada dan sekaligus berasal. Pertanyaan semacam ini, sejatinya tidak mampu dijawab saintis. Ini hanya mungkin mampu dijawab pendekatan spiritual yang sejak awal peradaban, selalu memberi respon kepastiannya.

Nalar inilah yang menunut ilmuan positivisme pada tuntutan penggunaan sumber, metode, sarana serta alat ilmu yang dimiliki basis pengetahuan metafisik. Suatu rumusan yang memasukan mistik, wahyu dan berbagai metode iluminatif sekaligus gnostik yang digunakan. Logika terakhir ini, berfungsi untuk mengisi celah-celah yang tidak mungkin dapat dijelaskan ilmu pengetahuan. Manusia seharusnya tidak merasa pongah untuk menikmati sifat ketuhanan yang terdapat dalam dirinya, yakni kesombongan yang seharusnya, hanya irtilik Tuhan.

Sumbangan dan Dampak Positivisme

Bagi penulis, sekali lagi bahwa perkembangan teknologi yang menguak seluruh dimensi alam terkecil sekalipun, seharusnya mampu menemukan Tuhan. Tuhan mestinya diletakkan di atas peta hukum alam yang digeluti setiap ilmuan. Alam dan berbagai dinamika yang terjadi padanya, bahkan dinamika yang terdapat dalam diri manusia itu sendiri, seharusnya mampu menemukan Tuhan.

Dalam fenomena ini, apa yang dialami Galileo-Galilei dapat menjadi salah satu contoh. Galileo Galilei diilustrasi sering mendengar suara Tuhan bukan dari dalam gereja. Ia mendengar syahdunya suara Tuhan dimaksud justru dalam bentuk musik alam semesta. Perasaan hadirnya suara Tuhan tadi, terjadi ketika teleskop yang digunakannya mampu memperlihatkan planet-planet berputar secara ritmik. Ritme yang dipertontonkan planet-planet dimaksud, dalam bahasa lain, akan menjadi tanda (ayat-szgn), keberadaan Tuhan. Ia menemukan Tuhan dalam sains yang dia ciptakan (Dan Brown, 2000:324).

Asumsi semacam ini, seharusnya mampu menolak atau paling tidak melakukan koreksi terhadap paradigma positivisme. Suatu model pendekatan sebagaimana diacu dari teori Auguste Comte (1974) yang positivistik. Teori yang dipraksiskan salah satunya oleh John Stuart Mill ini, sejatinya memang memerlukan koreksi ulang. Paham yang menganggap bahwa pengetahuan yang benar harus didasarkan atas fakta-fakta positif dan didukung kebenaran logik.

Fakta-fakta dimaksud, menurut anggapan positivisme dapat didekati dengan cara: eksperimen, observasi dan komparasi. Fakta itu harus benar-benar nyata dan pasti. Selain tentu, secara fungsional harus berguna, jelas dan langsung dapat diamati dan dibenarkan oleh setiap orang yang memiliki kesempatan yang sama untuk melihat dan menilainya.

Karakter pengetahuan yang demikian, seharusnya tidak dilawankan dengan sifat khayal, meragukan, ilusi dan kabur. Tetapi, justru dikompromikan. Konsekuensinya, fakta-fakta yang bukan fakta positif tidak selalu harus dianggap liar dan karenanya harus selalu ditolak. Sebab jika itu dilakukan, maka eksistensi Tuhan yang berada di luar ketegori historis manusia, otomatis juga akan ditolak.

Kesadaran Positivistik

Kita sadar bahwa positivisme telah memberi sumbangan yang sangat besar. Diketahui bahwa sumber pengetahuan positif, terbatas pada fakultas inderawi dan rasio manusia. Objek kajiannya sendiri terbatas pada dimensi alam dan manusia. Ukuran kebenaran terbatas sejauh rasional dan sejauh dapat diukur oleh fakultas inderawi manusia. Fungsinya bersifat deskriptif, prediktif dan eksplanatif. Metode yang digunakannya eksperimental, instrumentasi, observasi pada fakta dan data.

Manusia dan alam, dalam teori tadi, harus dianggap hanya sebagai benda fisik-material yang menjadi subjek segala kesemestaan. Akibat lebih jauhnya adalah berkembang suatu faham pragmatism-materialism yang secara otomatis menjarakkan manusia dengan Tuhan. Selain itu, dampak lain yang bakal muncuk adalah, hilangnya sikap tanggungjawab, berkembangnya sikap eksploitatif terhadap manusia dan alam itu sendiri, yang mengandaikan seolah dunia menjadi akhir dari sejarah dan perjalanan kehidupan manusia. Prof. Cecep Sumarna –bersambung–

 

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. Fariz Aldi Dwi Rahmawan berkata

    teknologi yang mampu menunjukkan dimensi terkecil dari setiap pecahan benda. termasuk ukuran pecahan tubuh manusia itu sendiri. Suatu ukuran yang tidak mampu dilihat secara kasat mata oleh mata manusia. Ukuran yang cara melihatnya, harus menggunakan alat tercanggih karena melintasi batas-batas toleransi manusia biasa.

    tubuh manusia dipecah dalam pecahan molekul, atom dan inti atom. Rumusan manusia yang demikian, dengan standar teknologi yang digunakan, telah membuat manusia persis ibarat atom yang di awal abad ke dua puluh dianggap partikel terkecil, saat ini terlihat seperti Planet kalau dibandingkan dengan apa yang disebut dengan inti atom. Ukuran inti atom adalah 1/10 000 dari besarnya atom.
    Basis pengetahuan positivistik tidak pernah mempertanyakan secara serius darimana sesungguhnya atom dan inti atom itu berada dan sekaligus berasal. Manusia dan alam, sejatinya tidak mampu dijawab saintis. Ini hanya mungkin mampu dijawab pendekatan spiritual yang sejak awal peradaban.

    menurut ilmuan positivisme pada tuntutan penggunaan sumber, metode, sarana serta alat ilmu yang dimiliki basis pengetahuan metafisik. Suatu rumusan yang memasukan mistik, wahyu dan berbagai metode iluminatif sekaligus gnostik yang digunakan. Logika terakhir ini, berfungsi untuk mengisi celah-celah yang tidak mungkin dapat dijelaskan ilmu pengetahuan. Manusia seharusnya tidak merasa pongah untuk menikmati sifat ketuhanan yang terdapat dalam dirinya, yakni kesombongan yang seharusnya, hanya irtilik Tuhan.

    Sumbangan dan Dampak Positivisme
    Bagi penulis, sekali lagi bahwa perkembangan teknologi yang menguak seluruh dimensi alam terkecil sekalipun, seharusnya mampu menemukan Tuhan. Tuhan mestinya diletakkan di atas peta hukum alam yang digeluti setiap ilmuan. Alam dan berbagai dinamika yang terjadi padanya, bahkan dinamika yang terdapat dalam diri manusia itu sendiri, seharusnya mampu menemukan Tuhan.

    Dalam fenomena ini, apa yang dialami Galileo-Galilei dapat menjadi salah satu contoh. Galileo Galilei diilustrasi sering mendengar suara Tuhan bukan dari dalam gereja. Ia mendengar syahdunya suara Tuhan dimaksud justru dalam bentuk musik alam semesta. Perasaan hadirnya suara Tuhan tadi, terjadi ketika teleskop yang digunakannya mampu memperlihatkan planet-planet berputar secara ritmik. Ritme yang dipertontonkan planet-planet dimaksud, dalam bahasa lain, akan menjadi tanda (ayat-szgn), keberadaan Tuhan. Ia menemukan Tuhan dalam sains yang dia ciptakan (Dan Brown, 2000:324)
    .Manusia dan alam, dalam teori tadi, harus dianggap hanya sebagai benda fisik-material yang menjadi subjek segala kesemestaan. Akibat lebih jauhnya adalah berkembang suatu faham pragmatism-materialism yang secara otomatis menjarakkan manusia dengan Tuhan.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.