Cemburu Itu Antara Curiga dan Khawatir

0 562

Membangun kepercayaan dalam berumah tangga tidaklah mudah. Kepercayaan itu dibangun tidak sekedar oleh suami atau istri semata, namun keduanya harus berperan dalam menciptakan nuansa saling percaya satu sama lain. Di sinilah bukti bahwa kepercayaan itu tidak mudah untuk dibangun. Cinta yang menjadi terminologi sakral dalam pola hubungan manusia merupakan pengikat dari segenap perbedaan antara karakter suami dan istri dalam bingkai penyatuan. Kasih sayang menjelma dalam bentuk sikap dan tindakan suami dan istri dalam rumah harmoni.

Begitu juga perasaan yang sarat dengan atmosfir fluktuatif sering hadir dalam rumah tangga sebagai bumbu kemesraan dalam balutan komunikasi dan gerak tubuh yang saling dimengerti. Aspek kepercayaan dalam mahligai rumah tangga menempati posisi utama. Suami dan Istri sebagai pemeran utama menjadi penentu dalam menciptakan kepercayaan. Dalam konteks lain, rendahnya kepercayaan sering mendegradasi harmonisasi hubungan suami istri jika menjelma sebagai ‘kecemburuan’.

Cemburu muncul biasanya diakibatkan oleh keterputusan komunikasi antara suami dan istri. Namun, seberapa besar maupun kecil kecemburuan itu muncul, mesti dihadapi dan dikomunikasikan dengan baik agar hubungan suami istri tetap terjaga dengan baik dan hangat selalu.

Cemburu dan Curiga

Cemburu adalah efek lanjutan dari rasa curiga yang mendera seorang istri. Dalam konteks ini, penulis mengisahkan tentang rasa cemburu yang muncul dari seorang istri kepada suaminya. Curiga yang muncul berasal dari satu sikap atau tindakan suami yang sedikit banyaknya berbeda dari biasanya. Kehangatan atau kerenggangan komunikasi, tindakan aneh dalam keseharian ; menelpon seseorang dengan menghindar dari istri, menyimpan ponsel bukan di tempat biasa, mengkroscek isi ponsel maupun medsos setiap saat, atau kekakuan yang sering muncul tiba-tiba ketika sedang ngobrol dengan istri. Tanda-tanda di atas adalah bagian kecil saja realitas seorang suami yang memunculkan kecurigaan sang istri.

Kecurigaan merupakan buah dari kekakuan dalam komunikasi. Kekakuan itu muncul karena ketidaknyamanan dalam kebersamaan. Akibatnya, salah satu darinya menginginkan untuk memisahkan diri. Sementara permasalahan yang muncul enggan untuk dikomunikasikan lebih jauh. Sehingga, pilihan untuk mencari kesibukan masing-masing adalah fakta. Padahal, tanpa mereka tahu bahwa kerikil-kerikil yang mencitrakan diri dengan kecurigaan dan kecemburuan justru akan merontokkan kokohnya bangunan rumah tangga. Digerogotinya kemesraan dengan kecurigaan, harmonisme oleh kecemburuan maka akan berakibat gagal dalam membangun kehangatan dalam rumah tangga.

Sebenarnya, curiga dan cemburu itu dapat dianggap hal yang wajar bila muncul sebagai rintik-rintik masalah dalam rumah tangga. Namun, jika rintik-rintik itu tidak segera kita atasi maka akan menjadi hujan badai yang sulit kita kendalikan. Api curiga dan panasnya cemburu di dalam rumah tangga harus segera diantisipasi dan diminimalisir dengan cara saling membaca diri masing-masing, memaknai tujuan berumah tangga, dan memahami arti sebuah kebahagiaan sesaat. Sebagian besar pasangan suami istri yang gagal berumah tangga dikarenakan rendahnya perhatian terhadap cemburu dan curiga.

Percikan api yang panas dari rasa cemburu dan curiga itu mestinya diimbangi dengan keinginan untuk saling memahami antara suami dan istri. Akibat terbesar dari curiga dan cemburu ini akan mengakibatkan satu perpecahan dalam rumah tangga. Keegoisan yang mendera di antara suami istri akan terus memupuk tumbuh kembah cemburu dan curiga. Akhir dari sebuah perjalanan ini adalah saling mempersalahkan diantara suami dan istri.

Cemburu Harus Dimana

Cemburu dan curiga dalam rumah tangga itu adalah hal biasa. Karena suami dan istri memiliki sejarah kehidupan masing-masing yang tidak bisa dengan mudah dihapus atau dilupakan. Bisa saja suami ataupun istri melupakan dan menghapusnya, namun orang lain sebagai seseorang yang pernah menjadi teman dekat atau partner kerja atau siapa saja yang pernah mengenal suami atau istri di masa lalu akan dengan tanpa sadar menceritakan apapun tentang masa lalu. Masa lalu tidak semuanya harus ditakuti, namun, dalam konteks tertentu dan momen tertentu, ada tema-tema tertentu juga yang akan mengundang sensitivitas perasaan sang istri untuk menghadirkan rasa cemburu dan curiga.

Namun, curiga yang muncul dari perasaan istri harus ditanggapi dengan respek oleh sang suami. Suami harus mampu menangkap sinyal-sinyal cinta dan kasih sayang istri yang dicitrakan dalam bentuk curiga dan cemburu. Kedua terma ini justru harus menjadi alat ukur kesetiaan sang istri kepada suami. Tanpa muncul curiga dan cemburu tidak mungkin cinta kasih itu dihadirkan. Tanpa cemburu dan curiga juga tidak mungkin kasih sayang itu dapat semakin menguat.

Jadilah suami yang siap memiliki istri yang pencemburu, namun setelah itu mampu menunjukkan kesetiaan dan tanggungjawabnya di depan istri. Kemesraan akan semakin kuat dengan memahami rasa itu. Harmonisme akan selalu ada ketiga cemburu dan curiga dapat dikenal dan dikelola dengan baik oleh sang suami. Sesungguhnya, pada rasa cemburu dan curiga itu ada rasa kekhawatiran sang istri untuk melepas sang suami dan ketakutan akan ditinggalkan. Hargailah cinta kasih yang selalu dijaga oleh sang istri dengan anugerah perasaannya itu. ** Nanan Abdul Manan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. Anonim berkata

    Visitor Rating: 5 Stars

  2. Admin berkata

    Visitor Rating: 5 Stars

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.