Take a fresh look at your lifestyle.

Cemerlangnya Masa Depan Guru di Indonesia

3 1.632

Nasib Umar Bakry, tampaknya sedang dan akan terus diperbaharui oleh pemerintah. Berbagai model, aturan dan perundang-undangan, terus menerus dilakukan perubahan dan pembenahan oleh pemerintah. Pemerintah tampaknya sangat serius mencari posisi strategis yang ajeg dalam rangka meningkatkan kemampuan (kompetensi) guru yang berkorelasi secara langsung dengan pendapatan mereka.

Kita tahu bahwa sejak tahun 2007, pemerintah telah memberlakukan sertifikasi guru. Pensertifikasian ini, terjadi karena banyak analis pendidikan yang berkayakinan bahwa, buruknya citra hasil pendidikan Indonesia dalam kurun waktu yang lalu. Terjadi lebih diakibatkan karena pendapatan guru dianggap terlalu rendah. Rendahnya gajih, dianggap mempengaruhi cukup signifikan atas kreativitas dan motivasi kerja mereka ketika berada dalam posisi sebagai guru.

Era Reformasi berhasil merubah guru. Berbagai UU dan PP yang ditetapkan pemerintah, telah berhasil mendorong peningkatan kesejahteraan mereka. Akibatnya, era ini telah berhasil membuat guru Indonesia mampu meninggalkan sepeda kumbangnya dan menggantinya dengan mobil pribadi atau motor pribadi, meski masih tetap nyicil. Tetapi, lumayan daripada zaman dulu yang selalu identik dengan sepeda kumbang, sepatu merah tanpa semir, atau pakaian tanpa strika. Bagi yang suka berpeci, ciri guru diperkuat dengan peci hitam kemerah-merahan.

Pemerintah reformasi, dengan demikian berhasil mengubah wajah guru dari murni sebagai pekerja pengabdi. Ke wilayah kerja baru dalam bentuk profesi kerja. Sebagai tenaga kerja profesi, konsekuensinya, ia dituntut menjadi professional dengan alat ukur empat kompetensi. Kompetensi Profesional, Pedagogik, Sosial dan kompetensi kepribadian. Tidak tanggung-tanggung, guru yang memenuhi empat kompetensi tadi, diberi penghargaan oleh pemerintah dalam apa yang disebut dengan sertifikasi guru yang besarannya sama dengan gajih pokok mereka.

Hasil Kerja Pendidikan tetap Rendah

Apa yang terjadi setelah kebijakan sertifikasi ini digulirkan. Kinerja guru tetap diragukan keberhasilannya. Hasil kerja pendidikan tetap rendah. Tetapi, keraguan yang diorotkan kepada pendidik dan tenaga kependidikan kali ini, bukan karena mereka kekurangan gajih atau pendapatan. Tetapi, karena guru kehabisan energi untuk mengurusi soal-soal yang sangat teknis administrative, dibandingkan dengan melaksanakan tugasnya sebagai tenaga pendidik.

Inilah problem baru yang mungkin baru teranalisa hari ini. Padahal secara teoretik, pemerintah memiliki kewajiban untuk mengembangkan iklim pendidik dan tenaga kependidikan yang benar-benar kondusif dan inspiratif sebagai tenaga pendidik. Bukan sebagai tenaga administratif. Guru, semestinya, tetap mesti didorong kreativitasnya agar berkembang ke arah yang lebih maju. Bukan malah memundurkan guru, menjadi terjebak dalam soal-soal yang sangat administrative tadi.

Dalam perpektif lain, guru yang tidak memiliki keahlian administratif, malah sering kena ancaman dalam bentuk ditakut-takuti pencabutan hak sertifikasinya atau penundaan kenaikan pangkatnya. Iklim kerja seperti ini, harus segera ditinggalkan. Karena hanya cocok untuk para pegawai kuli tanam atau pegawai harian di sebuah proyek bangunan.

Misalnya, banyak guru yang terpaksa mengajar di luar sekolah dirinya agar mampu memenuhi jam mengajar 24 jam per minggu. Kepala sekolah dan berbagai tenaga kependidikan, tidak memiliki daya dan upaya untuk mencerdasi kondisi ini selain menuntut guru-gurunya agar mau memenuhi 24 jam dimaksud. Jika perlu mengajar di luar sekolah mereka. Ini bukti bahwa guru malah terjebak oleh soal-soal administrative dan jauh dari budaya ilmiah yang seharusnya melekat ke dalam diri mereka.

Evaluasi Pemerintah Terhadap Guru

Menghadapi situasi seperti itu, baru-baru ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi, dalam sambutannya di pembukaan Porseni PGRI di Siak, Riau, Senin 22 Agustus 2016. Mengatakan bahwa, ia bersama seluruh jajaran di Kementerian Dikbud akan segera melakukan evaluasi terhadap fenomena dimaksud dalam bentuk membuat rumusan ekuivalensi –tentu bukan pengurangan jam mengajar—agar guru tidak terganggu konsentrasinya dalam mencerdaskan anak bangsa oleh sesuatu yang bersipat administratif.

Muhadjir yang memiliki latar belakang pendidik, tampaknya sadar bahwa memang menjadi guru itu, bukan hanya 24 jam per minggu. Faktanya, sangat mungkin kalau guru malah mengajar 24 jam dalam sehari. Tinggal bagaimana situasi begini dapat diformulasi ke dalam bentuk kerja yang diakui. Jika hal ini, benar-benar akan diwujudkan pemerintah, maka, pemerintahan ini telah menunjukkan jati diri dan eksistensinya sebagai sebuah birokrasi pendidikan yang bercita-cita ingin memuliakan guru, tampaknya sudah mulai akan kelihatan. Semoga saja demikian …. Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

  1. Mohamad ayip anwar berkata

    Guru di indonesia memang pada umumnya mengajar dalam sehari 24 jam . Dan itu perlu di perhatikan oleh pemerintah .

  2. hubeb isaf berkata

    menurut saya bahwa guru di indonesia ini sangatlah cemerlang guru harus melakukan adminstratif dan mengajar dengan jam yang sangat banyak, tetapi semua itu guru di lakukanya demi mendapatkan penghasilan atau gaji setiap bulannya dan apa yang di lakukan oleh guru itu tidak sebanding dengan apa yang di kerjakannya menjadi tenaga pendidik yang masih honorer, di indonesia itu guru itu sangatlah cemerlang, tetapi ketika di beri tugas mengurus administratif guru biasanya akan males untuk mengurusnya…

  3. Khavid Khalwani/1415104050/T.IPSB/3 berkata

    Masalah guru ini memang sampai sekarang sangat miris jika di bandingkan dengan profesi lainnya mengenai gaji yang tidak sebanding serta tida ada pemerataan yang jelas dari pemerintah. Dari daerah pedalaman ada banyak guru yang kurang apresiasi dari pemerintah itu menjadi kisah pilu dari segelintir permasalahan guru yang ada. Namun, semakin kesini kefokusan guru dalam mendidik terasa terbagi menjadi dua disisi lain harus merencanakan proses belajar yang baik dan disisi lai harus melakukan kewajiban lain mengerjakan keadministartivan untuk pembuktian pengajaran guru di dalam KBM yang begitu banyak. Makannya disini cenderung guru kurang optimal dalam mengajar. Dan semoga pemerintah lebih bijak menangani hal demikian, bukan hanya wacana semata melainkan adanya bukti konkret di lapangan.