Inspirasi Tanpa Batas

Sang Pejuang : Cerita Fiksi Sepak Terjang Seorang Mahasiswa

0 23

Konten Sponsor

Sang Pejuang : Cerita Fiksi Sepak Terjang Seorang Mahasiswa – Pagi ini, langit tarasa berat membukakan celahnya untuk cahaya dari sang mentari. Dengan penuh kegelisahan angin-anginpun menyelinap pengap ke seluruh sudut jalan yang ku telusuri. Di jalan yang hanya menuangkan dua pilihan, bungkam atau terancam. Tiada pernah sedikitpun senyuman ini disambut baik ketulusan hati mereka. Kebahagian masih terkungkung dikampus yang semu kejujuran sejati.

Aku dan Kuliahku

Setiap hari kupenuhi ruangku di tempat kuliah dan tiada hal lain yang menarik selain kembali ke tempat tinggal sementaraku di kota asing ini. Dalam jangka waktu sebulanpun, warna kehidupanku tiada bertambah, tetap seperti itu.

Sedangkan tempat kuliahku hanya dipenuhi para mahasiswa yang hanya bersikap kritis ketika mata kuliah berlangsung, tanpa mengeluarkan kekritisan mereka untuk menyikapi kampus yang semakin lama semakin rapuh oleh kesewenang-wenangan orang-orang yang tak pernah berhenti memainkan kesempatannya.

Uang, jabatan, kekuasaan, kesewenang-wenangan memenuhi ketidakpuasan sebagian para mahasiswa yang tak pernah jua berhenti dicekal mereka. Siapa lagi kalau bukan mereka yang tengah memainkan kesempatannya atas kesewenang-wenangan. Hanya karena para mahasiswa tersebut melakukan sikap kekritisan mereka melalui aksi demontsrasi.

Sungguh lucu, ketika beasiswa pun dijadikan mainan utama yang bisa setiap saat dihentikan mereka bagi para sang demonstran. Kadangkala demonstrasi tersebut juga dijadikan sebagai alasan mereka menghendaki nilai akademisi yang paling terendah bagi para mahasiswa. Mungkin itulah sebabnya para mahasiswa memilih mengukung sikap kekritisan mereka terhadap kampus tercinta.

Ketika ku gambarkan mereka para mahasiswa di tempat kuliahku, lalu bagaimana aku menyikapinya?. Jawabannya adalah pengecut, ya benar aku masih menjadi seorang mahasiswa pengecut yang tidak mempunyai nyali sebesar apapun itu untuk melawan kesewenang-wenangan mereka dalam membatasi kritikan-kritikan yang mengancam kedudukan mereka. Masih banyak ketakutan yang selalu mengungkung diriku jua, diantaranya perkataan kakak ibuku yang selalu terngiang ditelingaku, “Andini, kamu jangan pernah bersikap yang aneh-aneh dikampus ini, ingat bagaimana nasib keluargamu yang sangat bergantung kepada beasiswamu.”

Benar, keluargaku sangat bergantung kepada beasiswaku. Ibuku tidak bekerja, ayahku sakit dan mustahil untuk bekerja lagi, adik pertamaku masih sekolah 3 SMP dan adik terakhirku masih Tk. Semua biaya hidup mereka harus aku tanggung. Sedangkan aku, masih belum berhasil juga mencari pekerjaan yang cocok di kota ini. Oleh karena itu, tiada pilihan selain aku turuti kampus agar aku bisa memberikan uang yang setiap bulan aku terima dari beasiswaku kepada mereka.

Setelah kuliah, Waktu-waktuku di kota ini hanya aku penuhi dengan belajar dan belajar untuk akademis kuliahku yang baik, agar nilaiku tetap stabil mempertahankan beasiswaku.

Pertemuanku dengan Deni di warung Nasi

Suatu hari, deni menghampiriku ketika aku makan di warung depan kampus, “Din aku punya teman yang mungkin solusi bagi kami, agar kami bisa merdeka di kampus kami,” ujarnya.

“Ish kamu, sudah aku katakan, lupakan apa yang telah aku ucapkan tentang kejanggalan-kejanggalan kampus kami kemarin di taman fakultas. Aku tidak mau beasiswaku dicabut hanya karena aku menyikapi lebih jauh kejanggalan tersebut. Kamu mau menanggung semua beban keluargaku?,” jawabku.

“Pengecut kamu din, kamu sudah mengetahui dan menceritakan sendiri tentang kejanggalan-kejanggalan kampus kepadaku, tapi kamu malah bersikap egois dan seolah-olah tidak mau tahu. Kamu tidak kasihan sama orang tua mahasiswa lain yang rela kepanasan, kehujanan untuk membiayai kuliahan mereka dikampus kami?. Ingat din, hanya sebagian kecil orangtua dari mereka itu berprofesi sebagai pejabat yang hidupnya mewah din, 95 % orangtua mereka itu buruh lepas, petani, pedagang, nelayan, tukang bangunan, tukang beca dan lain sebagainya. Sangat disayangkan sekali, kamu pintar, IPK kamu selalu sempurna, tapi ternyata kamu tidak mempunyai hati,” ujar dia dengan membisikannya ketelingaku yang tak lama meninggalkanku.

Perkataan dia telah menamparku sekaligus membuatku enggan menghabiskan nasi yang tengah aku makan tersebut. Dia benar, aku egois.

Keputusanku yang baru

Sepanjang jalan menuju tempat kosan, perkataan Deni tak henti terngiang ditelingaku. Sumpah aku merasa sangat bersalah dengan sikapku yang egois. Aku harus memutuskan sesuatu yang membuat beasiswaku tetap aman.

Tiba-tiba buku “Tan Malaka” jatuh dari meja belajar. Ketika aku ambil buku tersebut, seolah-olah cerita-cerita yang ada di buku itu kembali terlukiskan, cerita tentang kemerdekaan Tan Malaka yang dikorbankan untuk Kemerdekaan banyak orang sampai akhir hayatnya.

Tanpa berfikir panjang, aku langsung menelpon Deni berniat untuk meminta maaf dan menerima ajakan dia. “Hallo Den, untuk hal tadi, aku minta maaf. Jangan tanya kenapa yang jelas sekarang kamu harus bawa aku ketempat yang kamu maksud tadi siang.”

“Baiklah,” jawab deni dengan singkat.

Tak lama Deni datang menjemputku dengan motor maticnya. Setelah sampai ditempat yang Deni maksudkan. Aku diperkenalkan Deni kepada teman-temannya yang tengah serius berdiskusi.

“Oh jadi ini Andini yang telah diceritakan si Deni tadi. Perkenalkan nama saya Alif, saya merupakan korban dari pencabutan beasiswa. Kamu tahu kenapa? hanya karena saya meminta penjelasan atas uang kegiatan beasiswa tahun sekarang kepada dekan tercinta. Namun sial dengan alih-alih semuanya itu bukan hak mahasiswa, melainkan hak mereka yang punya kuasa akhirnya dengan lancang saya meminta perincian tertulis tentang dana Beasiswa tersebut. Eh malah saya diusir, dan besoknya tanpa pemberitahuan kepada saya, nama saya di daftar beasiswa sudah digantikan dengan mahasiswa lain.”

lanjutnya: “Dan kamu tahu kejanggalan terbaru sekarang apa ?. Tentang dana pembangunan gedung baru yang mereka tuntut kepada mahasiwa dua tahun kebelakang yang jumlahnya sangat besar. Nyatanya sampai sekarang gedung yang katanya akan dibangun itu nihil. Jangankan itu, bangunan-bangunan lama yang sudah roboh atapnya pun masih belum diperbaiki. Oleh karena itulah saya mengajak itu juga jika kamu mau bergabung, untuk menyelidiki kasus ini. Dengar andini, keadilan dan kebenaran harus kami tegakkan, jangan khawatir kami akan melakukannya dengan keadilan dan juga kebenaran. Jikapun ada kesalahan dalam kasus ini. Kami akan menuntut mereka secara baik-baik, tapi jika dengan baik mereka masih tidak ada perubahan, kami akan menggunakan demonstrasi besar-besaran agar orang-orang tahu apa yang telah terjadi dikampus kami,” perkenalan yang Alif sambut langsung dengan titik permasalahan yang Deni maksudkan.

Dimalam itu, kami sibuk berdiskusi dan mencari jalan keluar untuk solusi ini. Sampai akhirnya strategi rencana di esok hari, teman Alif yang merupakan asisten dari salah satu dosen penanggung jawab beasiswa berpihak kepada kami. Dengan sangat hati-hati dia mencari kebenaran yang membuahkan hasil melalui sebuah data perincian beasiswa dari tahun kemarin sampai sekarang dan benar, memang ada beberapa kejanggalan yang sangat nampak. Terlihat ketika uang beasiswa untuk kegiatan yang diberikan anggaran oleh pemerintah sebanyak satu juta setengah rupiah tersebut hanya digunakan kegiatan sebesar lima ratus ribu rupiah saja, sebagian entah kemana.

Keesokan Harinya

Dikesokan harinya, kami yang berdiskusi malam hari itu menemui dekan dan jajarannya menuntut keadilan. Tapi mereka tetap mengelak, mungkin mereka fikir kami tidak mempunyai barang bukti. Setelah itu kami pulang.

Demonstrasi di kemudian haripun kami lakukan. Tapi tetap tidak membuat mereka malu, mereka masih saja mengelak. Walaupun banyak wartawan yang mewawancarai mereka.

Demonstrasi kami memang membuat orang tau ada kejanggalan yang terjadi dikampus kami. Tapi sayang tidak membuat mereka jera dan membuat pengakuan jujur dari mereka. Sehingga akupun memberikan solusi kepada rekan-rekan terutama Alif untuk memberikan data tersebut kepada polisi dan menyerahkan semua penyelidikan kepada polisi. Dengan penuh semangat mereka menerima. Akhirnya kebenaran terungkap, bahwa memang dekan dan jajaran kampus lainnya sudah melakukan praktek korupsi. Merekapun dikeluarkan dari kampus dan ditahan oleh polisi.

Keadilan yang kami tuntut bagiku yang membuahkan hasil ini merupakan satu kebahagiaan bagi kami, kami yang dibohongi yang didungui mereka. Kami yang diancam bungkam atas apapun yang terjadi didalam kampus kami. Kami yang dilarang untuk memberikan kritikan-kritikan mereka.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar