Inspirasi Tanpa Batas

HEBOH Cerita WNI, “Bedanya INDOCHINA dan INDONESIA”

0 4

Konten Sponsor

Berawal dari seorang WNI yang berada di Kualalumpur Malaysia ia hendak pulang ke Indonesia dengan menggunakan pesawat  terbang melalui bandara Kualalumpur Malaysia (KLIA2), pas mau Check in ia dikejutkan dengan sebuah tulisan yang tertera di papan antrean, ia melihat ada tulisan “INDOCHINA”, sebagai warga asli Indonesia tentu dia tidak menerima terhadap kalimat tersebut, dia marasa nama Indonesia sudah diplesetkan menjadi INDOCHINA.

Orang yang tidak disebutkan namanya tersebut marah-marah. Dia menyangka jika INDOCHINA yang dimaksud dalam layar di hadapannya adalah INDONESIA.  Dia langsung membagikan photo tulisan ‘Indochina’ di jejaring sosial, Facebook, miliknya. Sontak hal itu direspon oleh para netizen lainnya dan dibagikan kembali di jejaring sosial yang lain sampai akhirnya viral di beberapa hari yang lalu.

Capture Facebook Netizen soal Indochina (Foto: Facebook.com)

Sontak kehebohan itu mendapat respon dari pihak penerbangan. AirAsia selaku salah satu perusahaan penerbangan yang melayani penerbangan Indonesia – Kualalumpur Malayasia (KLIA2) melalui akun Twitternya (@AirAsiaId) menjelaskan, bahwa orang tersebut salah masuk tempat antrean, seharusnya ia masuk ke antrean di konter U bukan di konter V.

Ternyata ada kesalah pahaman antara penumpang WNI tersebut, padahal antara INDOCHINA yang tertera di papan antrean tersebut dengan INDONESIA itu jelas berbeda.

Lalu apa bedanya INDONESIA dengan INDOCHINA.?

Dikutip dari kumparan.com yang ditulis oleh Rina Nurjanah (24/02), Indochina merupakan istilah orang Eropa pada abad ke-19 yang merujuk pada lokasi geografis di wilayah Asia Tenggara. Lokasi geografi tersebut merujuk pada wilayah yang dipengaruhi oleh kebudayaan India dan China, termasuk secara fisik diapit oleh kedua negara tersebut.

Lokasi yang dimaksud yaitu Vietnam, Laos, Myanmar, Thailand, dan Kamboja. Bukan Indonesia.

Indonesia kala itu masih lebih dikenal sebagai Nusantara, Hindia Belanda, atau indian archipelago. Nama ‘Indonesia’ pertama kali diperkenalkan pada 1850 dalam  Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia.

Kala itu, James Richardson Logan merasa harus ada nama yang berbeda untuk wilayah kepulauan nusantara. Nama indian archipelago dianggap terlalu panjang dan meluas. Akhirnya dia memilih nama Indonesia, berasal dari bahasa Yunani yaitu indos dan nesos, yang berarti Kepulauan India.

Nama Indonesia kemudian mulai digunakan setelah itu oleh beberapa ilmuwan.

Pribumi pertama yang menggunakan nama Indonesia, adalah Suwardi Suryaningrat atau yang kita kenal sebagai Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara menggunakan nama Indonesia pada 1913, ketika dia dibuang ke Belanda. Di Belanda, Ki Hajar Dewantara mendirikan sebuah biro pers bernama Indonesische Persbureau, menggantikan pelafalan indisch (Hindia).

Nama Indonesia menemukan identitas nasionalnya secara politik, bukan hanya geografis, diawali oleh tulisan Mohammad Hatta. Pada 1922, ketika Hatta bersekolah di Rotterdam, dia mengganti nama Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging, Perhimpunan Indonesia.

Perhimpunan Indonesia adalah organisasi pelajar Hindia di negeri Belanda kala itu.

Majalah yang mereka keluarkan, semula bernama Hindia Poetra berganti menjadi Indonesia Merdeka.

Negara Indonesia Merdeka yang akan datang mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik, karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air pada masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.

– Mohammad Hatta, 1922 –

Sejarah nama Indonesia

Dalam Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. Nama Indonesia berasal dari berbagai rangkaian sejarah yang puncaknya terjadi di pertengahan abad ke-19. Catatan masa lalu menyebut kepulauan di antara Indocina dan Australia dengan aneka nama, sementara kronik-kronik bangsa Tionghoa menyebut kawasan ini sebagai Nan-hai (“Kepulauan Laut Selatan”).

Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (“Kepulauan Tanah Seberang”), nama yang diturunkan dari kata dalam bahasa Sanskerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa (“Pulau Emas”, diperkirakan Pulau Sumatera sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut wilayah kepulauan itu sebagai Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan, benzoe, berasal dari nama bahasa Arab, luban jawi (“kemenyan Jawa”), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatera.

Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “orang Jawa” oleh orang Arab, termasuk untuk orang Indonesia dari luar Jawa sekali pun. Dalam bahasa Arab juga dikenal nama-nama Samathrah (Sumatera), Sholibis (Pulau Sulawesi), dan Sundah (Sunda) yang disebut kulluh Jawi (“semuanya Jawa”).

Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari orang Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah Hindia.

Jazirah Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”, sementara kepulauan ini memperoleh nama Kepulauan Hindia (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau Hindia Timur (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang kelak juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais).

Unit politik yang berada di bawah jajahan Belanda memiliki nama resmi Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda). Pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur) untuk menyebut wilayah taklukannya di kepulauan ini.

Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah memakai nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan Indonesia, yaitu “Insulinde”, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (dalam bahasa Latin “insula” berarti pulau). Nama “Insulinde” ini selanjutnya kurang populer, walau pernah menjadi nama surat kabar dan organisasi pergerakan di awal abad ke-20.

Jadi guys Indonesia dengan Indochina itu jelas sangat berbeda, jangan sampai salah paham lagi ya..!!

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar