Inspirasi Tanpa Batas

Cerita Pendek: Kisah Seorang Pemuda Pencari Kayu Bakar

Hidup memang suatu pilihan. Apa yang kita pilih pasti memiliki resiko. Namun yang pasti bahwa kebahagiaan tidak identik dengan uang kekayaan. Kebahagiaan sejati, sesungguhnya terletak saat kita mampu memberi sesuatu kepada yang lain. Ini kisah anak ingusan yang saya kira sangat menarik untuk dibaca.

0 72

Konten Sponsor

Di sebuah kampung bernama Mekar Harapan, salah satu kampung di desa Sindangasih, Kecamatan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya. terdapat seorang pemuda misterius. Pemuda itu bernama Bahrul. Dia cukup lama tidak dapat bicara. Kalau bicara pun sepatah dua patah kata. Sulit dia mengucapkan kata-kata.

Pekerjaan dia sehari-hari, hanya mencari kayu bakar untuk menafkahi ibunya yang sudah lanjut usia (tua). Setiap hari kayu bakar itu selalu dia kirim pada rumah-rumah. Tidak lebih dari lima ikat kayu dia dapatkan setiap harinya. Tanpa bosan dia mengirimkan kayu dimaksud, kepada rumah-rumah orang. Anehnya dia tidak meminta upah atas apa yang dilakukannya itu.

Namun, banyak di antara para ibu rumah tangga, membalas kebaikan Bahrul dengan memberinya satu liter beras. Tidak sedikit di antara mereka yang memberinya uang dengan harga 10 ribu rupiah per ikat. Tidak sedikit juga di antara ibu-ibu dimaksud, yang tidak memberinya uang sekalipun hanya sedikit.

Tetapi itulah Arul, panggilan akrabnya. Ia selalu tabah, dan tidak sedikitpun menurunkan semangatnya untuk mencari kayu dan memberinya kepada keluarga-keluarga, meski kepada mereka yang tidak memberinya upah.

Arul Menjadi Tukang Pikul

Sampai suatu hari, ketika ia sedang berjalan dia diajak oleh seseorang untuk bekerja pada profesi yang lain. Harapan temannya itu Arul tidak mencari kayu bakar lagi, karena menurut dia mencari kayu bakar hal yang sangat kecil. Arul akhirnya diajak bekerja menjadi tukang pikul kayu, penghasilannya pun cukup lumayan daripada hanya mencari kayu bakar dan diberikannya pada tetangga-tetangganya.

Lama kelamaan Arul ditanya oleh ibu-ibu yang biasa dikirimi kayu bakar “….kenapa kamu tidak mencari kayu bakar lagi Rul? Ibu susah kalo tidak ada kamu. Hanya kamu yang bisa mengirim kayu bakar ke rumah ibu”. Jawab bahrul “saya udah kerja jadi seorang pikul kayu bu”. Ooh….. Sayang padahal kamu lah yang selalu menolong orang-orang yang sudah renta untuk mencari kayu bakar. Ya sudah kalau begitu. Ibu mau ke warung dulu ujar si ibu “ Iya bu…. jawab Aruk pelan.

Ketika malam datang, Arul duduk sambil minum secangkir kopi hitam hangat. Tiba-tiba Arul terfikir omongan ibu tadi. Arul berkata dalam bathinnya sambil bergumam….”Kasian ibu-ibu tidak ada yang bantu nyariin kayu bakar”

Akhirnya malampun berganti menjadi siang. Dia berkata pada temannya itu untuk tidak menjadi tukang pikul kayu lagi. “… Tentu saja kawannya heran. Lantas dia berkata, mengapa Rul… ???

Arul menjawab dengan enteng “…. Kasian dengan ibu-ibu yang sudah renta. Mereka sudah tidak mampu mencari kayu bakar lagi di hutan…” Akhirnya banyak di antara mereka yang bahkan tak mampu menanak nasi. Ya udah terserah kamu Rul” Jawab kawannya itu. Arul pun kembali menjadi tukang pencari kayu bakar.

Dia terus setiap hari mencari kayu untuk keperluan ibu-ibu renta di kampung halamannya. Sampai kemudia, dia bersama ibunya yang juga renta, mampu hidup wajar. Mereka bisa makan setiap hari tiga kali. Arul-pun merasa sangat senang bisa membantu ibu-ibu, meski pendapatannya sama sekali tidak menentu. Beda dengan ketika dia menjadi tukang pikul kayu di perusahaan orang lain. Ia merasa lebih bahagia secara bathiniyah dibandingkan dengan mendapatkan uang.

Hikmah Hidup

Hikmah yang dapat dipetik dari cerita Arul, saya sebagai anak remaja yang masih duduk dibangku sekolah, yakin bahwa pekerjaan yang di anggap kecil oleh kita, belum tentu nampak kecil di mata dan hati orang lain. Dan begitu juga sebaliknya. Yang kedua, tidak setipa kebahagiaan itu dapat dibeli dengan uang. Kebahagiaan akan selalu mengasumsikan bahwa sesungguhnya ia berada di luar aspek-aspek yang fisik.

Karena itu, selama niat kita masih ikhlas, hal sekecil apa pun akan nampak sangat berharga bagi orang lain. Kerjakan lah apa yang menurut kita itu berharga bagi banyak orang. Meski mungkin hal itu sering dianggap kecil oleh sebagian orang. By. Aep Saepul Milah–Siswa kelas XI MTs Cikuya, Ds. Sindangasih, Kec. Cikatomas, Kab. Tasikmalaya. Jawa Barat.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar