Cermin Tidak Lagi Jujur

0 138

Pernahkah anda kaget melihat wajah ketika tentu saja bercermin? Kaget karena ternyata wajah anda tidak semenarik seperti yang ada dalam pikiran kita. Atau misalnya, pernahkan anda merasa sangat luar biasa, ganteng atau cantiknya, dalam waktu yang hampir bersamaan ketika bercermin ke cermin lain? Jika anda merasa pernah berada dalam dua wajah berbeda dengan cermin yang juga berbeda, maka, pantulan cermin itu ternyata tidak lagi sama. Mereka tidak lagi mampu menampilkan wajah kejujuran kita yang sesungguhnya

Beberapa orang membantah atas apa yang disampaikan. Di antaranya ada yang menganggap bahwa perbedaan itu terjadi karena cermin yang digunakan berbeda. Situasi yang dihadapi juga berbeda. Dalam konteks tertentu dimensi kejiwaan orang yang datang kepada cermin juga berbeda. Pastilah tidak sama. Mana mungkin menghasilkan tampilan wajah yang sama.

Lalu saya meminta teman-teman yang menolak hipotesa itu, untuk bercermin ke dua cermin yang berbeda. Tetapi saya pastikan psikologi orang yang datang ke cermin itu sama. Cerminnya juga diupayakan semaksimal mungkin sama-sama bening. Saya pel dulu sampai bersih sebersih-bersihnya pada kedua cermin itu. Lalu saya katakan, di cermin mana anda merasa hebat dan pada cermin yang mana, anda merasa tidak hebat.

Cekung atau Lengkung Itulah Pokok Soalnya

Yang membuat wajah kita tampak berbeda dari dua cermin itu, ternyata adalah bentuk kaca. Apakah kaca itu cekung atau lengkung, meski dalam cekungan atau lengkungan yang sangat tipis yang hampir sulit dilihat kasat mata manusia biasa. Para produsen kaca membuat sedemikian rupa bentuk-bentuk kaca dimaksud sampai dalam ukuran yang sangat kecil sekalipun.

Problemnya itulah yang menyebabkan mengapa photo orang dalam berbagai bentuknya, selalu menghasilkan pantulan dan produk photo yang berbeda satu sama lain. Kita akan mudah terlupakan oleh bentuk-bentuk wajah kita yang sesungguhnya ketika kaca yang kita cerminkan mendorong kita menjadi lebih hebat. Tetapi, dengan cara itupun, kita menjadi lupa bahwa sesungguhnya secara nyata ada sesuatu yang berubah dan berbeda. Perbedaan yang revolutif di sekitar kita sendiri.

Apa yang hendak disampaikan dari persoalan cermin ini. Saya melihat bahwa, betapa sesungguhnya kita saat ini berada dalam kubangan kehidupan yang penuh dengan kepalsuan. Problemnya, kita sendiri ternyata cukup asyik menikmati kebohongan itu. Karena itu, dapat disebut bahwa mungkin saat ini, kita sudah memasuki fase baru dalam apa yang disebut dengan fase kebohongan. Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.