Cerpen: Biar Menjadi Kenangan

4 109

Biar menjadi kenangan, kisah yang dulu dirasa hebat. Kisah yang dulu manis yang tak ada jeda untuk menangis. Biarkan semua berlalu dan menjadi masa lalu. Kini,  biarkan aku sendiri.  Menata diri,  memperbaiki keadaan yang semula tak baik.  Aku memang pernah terluka,  tapi biarkan lukaku kusembuhkan sendiri.  Meski hari ini kau datang kembali,  yang katanya inginkan aku di sisimu lagi.

Maaf,  aku jemu dengan semua katamu.  Bujuk rayumu tak mental lagi di hatiku.  Aku sedang ingin sendiri.  Agar hatiku tak tersakiti lagi. Pun jika suatu saat nanti aku ingin berdua. Aku tak berharap kamu yang mengisi hatiku lagi. Sebab kau terlalu sering melukai, sebab kau terlalu sering membuat sesak dada ini. Hasratku tak ingin lagi bersamamu.

Dulu, aku selalu bermimpi bahwa segala hal ingin kulakukan bersamamu.  Dulu,  aku berfikir bahwa semua hal akan lebih Indah jika dilakukan bersama. Kaupun pernah berjanji, janji manis yang mengalahkan segala rasa manis di dunia. Kamu berjanji akan selalu menjaga hati kita. Menjaga perasaan hingga pernikahan tiba. Tapi beberapa kali kau membuat aku terluka. Beberapa kali kau menghianati. Hingga aku sudah diambang batas kesabaran dan menyerah.

Maaf,  aku tak bisa kembali menjalin kisah denganmu. Dan aku tak berdoa lagi untukmu.  Aku tak ingin lagi menyebut namamu dalam do’aku. Kau mungkin menganggapku sadis dan bengis. Tapi untuk apa kembali hanya untuk menyakiti.  Sekalipun kau berjanji dan memohon. Cukup sekali luka itu kau goreskan di hati ini. Menerima keputusan yang kau lontarkan tepat di telingaku. Itu sakitnya melebihi apapun yang pernah kurasakan seumur hidupku.

Biar menjadi pelajaran, saat kau satu-satunya menjadi orang yang bisa membuatku selalu tersenyum sekaligus menangis.  Biar menjadi kenangan segala kisah yg pernah kita kemas dengan bungkus yang Indah.  Aku tak bisa memungkiri bahwa jatuh Cinta padamu itu hal paling menyenangkan bagiku.  Tapi disakiti olehmu juga adalah hal paling menyakitkan.  Maka biarkan semua menjadi kenangan dan pelajaran.  Agar kita bisa lebih pintar memilih pasangan. By: Dea Fuadhy

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. Ade Puadah berkata

    Cerpen ini, dikira gak diterbitin. Kok aku baru tahu. Hoho

    1. Eltendi Dhirgan berkata

      wuah jarang buka lyceum ya

  2. Rini Fitriani berkata

    Haduh Gagal Move on, Edisi Galau lagi baca ini 🙁

  3. Nurazizah Fajrin berkata

    Mungkin efek terlalu sayang

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.