Inspirasi Tanpa Batas

Cerpen Lucu – Si King Banana dalam Puisi Ikun

Teman-teman kelihatan penasaran menyaksikan penampilan Ikun. Dalam setiap penampilannya Ikun memang selalu membuat dosen dan kami tertawa lucu, karena karakternya yang begitu polos serta memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh orang lain.

0 35

“Oke class, for next meeting, please you make a poem. Its theme is about fruits. Write on a piece of paper and you have to read it in front of class. Ok? Thank you very much and see you next time”  Kata Ibu dosen mengakhiri kuliahnya.

Setelah dosen mata kuliah writing memberi tugas untuk minggu depan membuat puisi tentang buah-buahan dan meninggalkan kelas, suasana kelas mendadak jadi ramai.

“Yach, .… tugas lagi tugas lagi” Kata Ikun yang merasa selalu dibebani tugas oleh dosen mata kuliah writing di kampus
“Jangan ngeluh gitu, friend!” Kata aku
“Saya kesel, tugas malulu euy! bu Dewi tuh ngasih tugas terus setiap minggu” Kata teman sekelasku Ikun, yang asli orang Tasikmalaya.
“Kun, tugas itu melatih kita supaya rajin en tambah pinter” Kata ku.
“Ya udah teh bikinin saya, ya? Seperti biasa … !” Pinta Ikun
“Kaga’ bisa! Buat sendiri. Teteh sibuk, lagian kalau setiap tugas dikerjakan sama orang lain, kamu ngga bisa-bisa, dong!”
“Emang, tadi bu Dewi ngasih tugas apa sich, Teh?”
“Kun….Kun! Brother!… tugas sekarang gampang. Bikin puisi tentang buah-buahan. Kamu pasti bisa”. Jelasku pada Ikun yang usianya terpaut sembilan tahun denganku.
“Oke …. Oke …, teh. Bisa!” Sanggup Ikun

1 Gagal Pulang

Jam menunjukkan pukul 2.10 siang. Namun dosen mata kuliah terakhir belum datang juga. Aku dan teman-teman kesal menunggunya. Akhirnya sebagian dari kami yang tidak sabaran memutuskan untuk pulang. Ketika kami sedang berajalan manuju jalan raya, pak Nurzaman yang sejak tadi kami tunggu, terlihat berjalan berlawanan arah menuju kami. Dia menghampiri dan menyapa kami.

“Anak-anak, mau pada kemana?” Tanya pak Nur
“Mau pu lang, Pak….! Bapaknya lama, sich” Jawab kami kompak sambil melihat wajah pak Nur yang lebam dengan beberapa luka lecet di tangannya. Hari itu pak Nur terlihat aneh. Namun tak seorangpun dari kami berani mempertanyakan hal itu.
“Bapak mau masuk?” Tanyaku dengan sedikit rasa bersalah
“Pulang aja ya, Pak?” Tanya temanku yang lain
“Ayo … ! Bapak mau masuk!” Pinta pak Nur

Kami segera berbalik arah menuju kampus , menyusul pak Nur yang sudah duluan kesana.

“Ayo friends cepetan! Kasihan pak Nur. Udah datang-datang masa kita pulang. Ngga enak” Pintaku pada teman-teman yang hampir tidak menghiraukan permintaan pak Nur dan meneruskan rencana untuk pulang.
Sesampainya di kampus kami segera memasuki kelas. Di dalam kelas, terlihat pak Nur sudah sedang duduk menunggu kami yang tadi hendak minggat. Setelah kami semua juga duduk, pak Nur mulai berbicara.
“Assalamualaikum wr.wb”
“Waalaikum salam” Jawab kami kompak.
“Anak- anak maaf bapak menggagalkan rencana kalian untuk  pulang” Kata pak Nur

Kami tertawa serentak, mentertawakan sikap kami sendiri tadi.

“Anak-anak, bapak mohon maaf lagi! Bapak telat datang karena bapak terpaksa harus naik mobil umum. Motor bapak ada di bengkel. Dua hari yang lalu, bapak dapat musibah.  Motor bapak  disenggol sama motor lain dari belakang. Bapak hilang keseimbangan dan terjatuh. Jadinya keadaan bapak seperti yang kalian lihat saat ini.
“Kasihan banget sih, Pak!” Kata Tina temanku
“Ya, terimakasih”  Jawab pak Nur yang kelihatanya masih menahan sedikit rasa sakit.
“Untuk hari ini, karena waktunya sudah habis, bapak hanya akan menyampaikan tugas untuk minggu depan. Tolong poto kopi teks reading ini, kemudian kalian artikan dan cari kalimat yang termasuk passive voice. Terimakasih dan silahkan kalian teruskan rencana kalian untuk pulang”
“He .… he …. He …” Kami tertawa dengan ucapan terakhir pak Nur.

Kami yang tak sabar dari tadi ingin pulang, segera keluar dan meninggalkan kampus yang setiap tiga hari seminggu kami datangi.

Seminggu kemudian. Perkuliahan hari itu sudah dimulai sejak lima belas menit yang lalu. Aku datang telat.

“Sorry, mom!  I come late” Maaf bu, saya telat. Kataku Pada bu Dewi yang mengharuskan kami bicara bahasa Inggris setiap pelajarannya.
“Yes … Please, sit down!”
“Thank you, Mom”

Aku duduk dan langsung memperhatikan temanku Robiya yang sedang membacakan puisinya di depan kelas.

Setelah selesai tampil di depan, teman-teman memberi tepuk tangan meriah untuk Robiya. Dia membuat puisi tentang Durian.

“Okay, next. Please you, Ikun!” Pinta bu Dewi
“Ok, Mom. Saya siap” Jawab Ikun

2 Ikun Membaca Puisi

Teman-teman kelihatan penasaran menyaksikan penampilan Ikun. Dalam setiap penampilannya dia memang selalu membuat dosen dan kami tertawa lucu, karena karakternya yang begitu polos serta memiliki ciri khas. Meskipun kemampuannya yang kurang pintar selama ini. Namun dia anak yang begitu baik dan rajin. Kami merasa begitu kehilangan jika dia tidak hadir. Seperti ada sesuatu yang kurang tanpa Ikun di kelas kami, terutama  aku yang menganggap dia adik.

Ikunpun mulai membaca puisi hasil karyanya sendiri, karena aku menolak membuatkanya. Teman-teman terlihat  tersenyum-senyum, namun serius dengan mata sepenuhnya tertuju pada Ikun yang siap membaca puisi dengan selembar kertas di tangannya.

“Assalamualaikum wr.wb.
“Waalaikum sala….m” Jawab aku dan teman-teman sambil tak kuat menahan tawa. Bagaimana tidak, sikap Ikun seperti mau pidato saja. Dia memang selalu lain dari yang lain.
“Its okay, Kun. Come on read!” Kata bu Dewi yang juga ikut tersenyum dan menyuruh Ikun untuk segera membacakan puisinya
“Lanjut, Mam?” tanya Ikun yang tidak yakin kami mau mendengar puisinya.
Aku, bu Dewi dan teman-teman tertawa lagi.
“Yes, ofcourse! Baru juga salam, masa udahan, Kun?”
“Okey …. okey,… Mom” Ikunpun mulai membaca puisinya.
“KING BANA… NA”
“Its shape long and big” Aku dan teman-teman tertawa geli, begitu juga bu Dewi yang tertawa tak tahan.
“Its taste is sweet and delisiou…s”,
“I eat it everyday”,
“I like it very mu…..ch”. Selesai, mom” Kata Ikun yang pede dengan puisinya.

Sementara, aku, bu Dewi dan teman-teman masih tertawa dengan kata-kata yang keluar dari mulut Ikun yang polos itu.

“why, Mom? Ko pada ketawa, sih? Mom, bagus ngga puisi saya?” Tanya Ikun
“Kun……Kun… !  What is the tittle of your poem, Ikun?”
“Apa, Bu?”Tanya Ikun yang tidak ngerti apa yang ditanyakan bu Dewi
“Tadi, puisi kamu judulnya apa ….?” Tanya bu Dewi yang tidak mungkin lagi ngomong menggunakan bahasa Inggris dengan Ikun.
“Oooh .…KING BANANA, Pisang Raja, Bu” Jawab temanku yang polos itu

Sementara aku dan teman-teman masih tak kuat menahan tawa mendegar puisi Ikun tadi.

“O…. I see ….!  Ikun, kalau pisang  raja, Bahasa Inggrisnya Banana Raja saja atau Banana King. Kalau King Banana,… artinya Raja Pisang ” Jelas bu Dewi yang sejak tadi sudah paham maksud dan isi puisi temanku itu.
“Ooo .… gitu ya, Bu!” Kata Ikun sambil tertawa malu menyadari puisinya yang salah judul.
“Okey… give applose for Ikun!” Pinta bu Dewi kepada kami. Kamipun memberikan tepuk tangan menghargai usaha Ikun yang ingin tampil seperti yang lain. Ikun duduk ke tempat semula, persis di samping tempat aku duduk.
“Bagus, Kun!” Kataku berbisik, supaya dia senang
“Bagus apaan, Teh? Teteh sich, pake telat segala. Saya ga bisa konfirmasi dulu. Jadinya salah”
“Ngga, Kun. Puisi kamu betul, ko. Lagian, kamu kan bisa tanya sama Robiya, Mas Ari ato yang lain. Ngga musti sama teteh aja!”
“Ngga mau, ach. Malu. Tapi bener ya Teh, puisi saya?”
“Iya, cuman, .… kurang banyak and judulnya  salah paham” Jelas aku lagi, mengevaluasi puisi Ikun. Mana Kun, teteh lihat puisi kamu!” Pintaku

3 Ikun Tertawa Keras

Ikunpun segera memberikan kertas yang tadi dibacanya di depan kelas. Dan aku membacanya sambil tak kuat tertawa lagi memahami judul dan isi puisi dia yang sama sekali tidak nyambung dan sedikit porno bagi orang yang mudah piktor, alias pikiran kotor.

“Teh,  bacain artinya coba!” Pinta Ikun padaku. Dan aku tidak mungkin menolak permintaan teman yang sudah ku anggap adikku sendiri itu. Dengan suara pelan karena takut mengganggu teman lain yang sedang mendengarkan penampilan berikutnya, akupun mulai mengartikan puisinya.
“Nich, denger!” Pintaku
“RAJA PISANG….
“Ha…ha….ha…” Ikun tertawa pelan
“Bentuknya besar dan panjang,
“Rasanya manis dan lezat,
“Aku memakannya setiap hari,
“Karena Aku sangat menyukainya …

Setelah aku selesai membaca arti puisinya, Ikun tertawa keras.

Semua yang ada di kelas terdiam sejenak. Tak sadar, tawa Ikun mengagetkan mereka. Kemudian mereka ikut tertawa lagi mentertawakan tawanya. Suasana kelas menjadi sangat ramai.

“What’s wrong? Ada apa?” Tanya bu Dewi
“Ini bu, Raja Pisang tertawa” Jawab Robiya singkat
“Ha ….ha …ha .…” Aku, bu Dewi dan teman-temanku semua tertawa lagi. Lagi-lagi, gara-gara ulah Ikun, Si King Banana.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar