Cerpen – Terimakasih Masa Lalu

0 973

Cerpen – Terimakasih Masa Lalu – Empat tahun sudah kita tak saling bertemu, kita tak saling berhubungan. Kau dengan kehidupanmu dan aku dengan kehidupanku. Hidup terkadang selucu ini, enam tahun lalu aku merasa tak bisa hidup tanpamu, kau adalah hidupku, kau adalah nafasku. Aku sangat bergantung sekali denganmu, aku sangat mencintaimu. Cinta yang menurutku itu adalah cinta sebenarnya. Tak ada cinta yang lain di dunia ini selain cintamu. Aku begitu tergila-gila padamu, aku selalu membanggakanmu di depan teman-temanku, di depan kerabatku. Mereka semua tahu tentang cerita cinta kita, mereka tahu bahwa kita selalu bersama. Disana ada kamu pasti ada aku, begitupun sebaliknya.

Kau sedekat nadi, kau sedekat hatiku. Kau adalah anugerah terindah bagi hidupku.

Tak terasa 2 tahun kita menjalani hubungan ini. Aku merasa hubungan kita baik-baik sajah, sampai pada hari itu saat aku baru pulang dari KKN (kuliah kerja nyata). Kita bertemu setelah hampir sebulan kita hanya berkomunikasi lewat social media. Kita masih baik-baik sajah , bercanda dan berbincang-bincang. Lalu tiba-tiba kamu berkata:

“Kita putus sajah ya”

Bagai tersambar petir disiang bolong, kata-kata itu membuat aku bingung. Ada apa ini?. Aku bertanya kenapa, ada apa? Apa aku ada salah? Kenapa kenapa kenapa??  Namun dia hanya menjawab “tidak ada apa-apa, kita sudah tidak cocok saja, sudah tidak satu visi. Lagian kalaupun jodoh ga akan kemana ko” Deg. Aku ga tau mesti bicara apa lagi, aku hanya diam menahan tangis, bagiku nangis di depan laki-laki itu menjatuhkan egoku. Aku berusaha tegar, aku hanya bisa berpikir bagaimana aku tanpanya? Bagaimana aku hidup? Bagaimana, bagaimana, bagaimana???

Duniaku ini sedikit hancur, cintaku pergi. Cinta yang kuanggap cinta sebenarnya pergi meninggalkan aku sendirian. Mungkin selama ini aku hanya mencintai seorang diri, selama 2 tahun ini cintaku bertepuk sebelah tangan? Tapi aku tak begitu saja menyerah, aku masih merasa cintaku ini benar cinta sebenarnya, cintaku ini tulus. Aku yakin dia kembali bersamaku. Aku masih terus memberi dia perhatian , meng sms dia walau kadang di cuekin.

Aku selalu berpikir “sekeras-kerasnya batu bakal berlubang juga jika di tetesi air terus menerus

Sebulan dua bulan sampe 6 bulan, ga ada perubahan. Dia tetap mau putus denganku. Sabaar.. aku sabar menantinya. Ini baru 6 bulan, ga boleh menyerah. Bukan ga boleh tapi aku yang masih belum mau menyerah. Cintaku ini masih ada untuknya dan masih sama.

Aku selalu berdoa “jika memang dia jodohku dekatkanlah”

8 bulan berlalu begitu sajah, dia semakin menjauh. Aku semakin tidak mengenalnya. Aku kehilangan sosoknya, aku kehilangan dirinya. Dan aku masih belum menyerah.

Teman-teman mulai menanyai hubungan aku dengannya bagaimana, aku tidak menceritakan ini kepada siapapun. Tidak ada yg tahu selain diriku dan Tuhan. Bagaimana sakitnya kan menahan ini sendirian, menahan patah hati ini seorang diri. Nangis sendirian, merenung sendirian, menghibur diri sendirian.

Aku hanya tersenyum dan berkata aku baik-baik sajah

Seminggu lagi satu tahun aku dan dirinya berpisah, satu tahun. Selama satu tahun ini aku berjuang sendirian untuk mendapatkannya kembali. Kesabaranku mulai hilang, aku mulai cape dengannya. Lelah dan sakit mencintai dirinya. Satu tahun setelah kita putus, akhirnya aku meng sms dirinya

“kayaknya perjuanganku selama ini tidak ada artinya di matamu, tidak sedikitpun kau berniat kembali padaku. Aku ga tau salahku apa, tapi ini sudah berakhir. Aku akan berhenti mengganggumu, semoga kamu baik-baik sajah. Dan memang jodoh ga akan kemana, tapi aku berharap tidak berjodoh dengan kamu, dengan orang yang sangat menyakitiku, terima kasih. Darimu aku belajar kesabaran dan menjadi wanita yang lebih tegar”

Yaa aku menyerah,, bukan menyerah untuk mendapatkannya tapi menyerah untuk tidak terus menyakiti hatiku sendiri. Darinya aku belajar untuk tidak terlalu mencintai seseorang melebihi cinta pada diri sendiri. Hatimu berhak untuk merasakan kebahagiaan. Merasakan kebebasan.

Empat tahun sudah, bagaimana kabarmu hey masalalu?? Terima kasih sudah mengajariku kesabaran dan menjadikan aku wanita yang tegar.

Aku kini tanpamu baik-baik sajah.

Aku kini tanpamu lebih bahagia.

Dan kini mendengar namamu sajah hatiku sudah tidak berdegup

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.