Inspirasi Tanpa Batas

Character Assassination itu Dosa Besar

Character Assasination
0 31

Character Assassination itu dosa besar. Kalimat dimaksud, dalam bahasa Indonesia, sering diterjemahkan dengan pembunuhan karakter. Tema dimaksud, belakangan kembali muncul sebagai trend baru yang menarik karena unik. Inilah bentuk perang baru (New War) yang umum digunakan para pegulat politik dan pegulat ideologi.

Dalam ruang lingkup ilmiah, Character Assassination sering dimasukkan dalam kajian psikologi. Mengapa? Karena yang dihantam dalam kegiatan dimaksud, umumnya mengancam kejiwaan hidup seseorang. Aspek-aspek Tidak heran jika para psikolog, sangat konsen mengkaji soal ini. Dimensi-dimensi kejiwaan selalu menjadi lokus penting kajian.

Menurut para psikolog,  kegiatan ini sering juga disebut dengan psychological war. Perang sejenis ini, akan membuat musuh menjadi skak mati. Mengapa? Karena  objek dari perang ini ternyata membuat orang lain, tidak memiliki daya untuk bergerak. Dibikin mati sebelum yang bersangkutan benar-benar mati, atau justru mati karena ketakutan termasuk terhadap kematian itu sendiri.

Di tengah segenap kepenatan beraktivitas, saya mencoba mencari relevansi makna Character Assassination dalam literatur agama (Islam). Secara spesifik, Islam melalui kitab sucinya yakni al Qur’an, memang tidak membicarakan langsung perang psikologi dalam bentuk nash yang kongkret. Tetapi, ada suatu istilah yang menurut saya, patut dianggap berdekatan maknanya dengan kata dimaksud. Kata yang dekat dengan character assasination itu, adalah fitnah.

Jika character assasination disetarakan dengan makna fitnah, maka, hal ini banyak difirman Allah. Ayat al Qur’an yang menerangkan fitnah dimaksud adalah sebagai berikut:

Teks Nash tentang Fitnah

Al-Baqarah [2]: 191, 193 dan 217

“….  dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.

” …  Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Al-‘Imran [3]: 7.  ” … maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

Al-An’am [6]: 23. 6.23. Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan: “Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah”.

Al-Anfal [8]: 39. Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

At-Taubah [9]: 49. Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.” Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah …”

Yunus [10]: 85. Lalu mereka berkata: “Kepada Allahlah kami bertawakkal! Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang’zalim

Al-Mumtahana [60]: 5.  “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Al-Qalam [68]: 11. Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah

Substansi Nash tentang Fitnah

Saya menyimpulkan atas nash di atas, bahwa sesungguhnya fitnah itu lebih keji daripada pembunuhan. Ketika umat Islam melaksanakan shalat, salah satu do’a yang dilantunkan kepada Allah adalah, meminta-Nya agar kita terbebas dari fitnah hidup dan fitnah masyih ad Djazzal.

Dalam berbagai hadits –meski perlu kajian takhrij atas keshahihannya– disebutkan bahwa salah satu ciri masyih ad Dzajjal adalah memiliki mata satu. Mata yang demikian, dapat juga disebut sebagai bentuk ketidakadilan. Jadi, pekerjaan Dzajjal adalah menyebarkan kedlaiman dan tidak menyukai keadilan. Karena itu, dalam bentuk yang agak hakikiyat, bentuk lain dari perbuatan Dzajjal adalah membuat fitnah. Mengapa? Karena sikap dan perilakunya yang dhalim

Menarik membaca ayat  al Qur’an berkaitan dengan soal fitnah ini. Sebab kata membunuh, dalam literatur semua agama yang berasal dari Tuhan yang benar, akan memasukkan kegiatan pembunuhan sebagai dosa besar. Tetapi, ada satu tindakan yang dosanya jauh lebih besar dibandingkan dengan dosa besar itu sendiri, yakni fitnah. Dalam tradisi masyarakat biasa, yang disebut dengan fitnah itu adalah menuduh orang lain berbuat sesuatu yang buruk, meski, tidak berbukti

Persoalannya, mengapa perbuatan penuduhan yang tidak berbukti itu disebut dosa lebih besar dibandingkan dengan dosa besar itu sendiri? Setelah saya hayati, ternyata memfitnah itu, memang kegiatan membunuh juga. Hanya saja, proses pembunuhan yang dilakukan melalui fitnah itu, dilakukan dengan cara yang pelan, lebih santai, namun menggerogoti jiwa manusia yang dituduh.

Manusia yang terkena fitnah, akan mati sebelum nafasnya meninggalkan tubuhnya. Mati dalam kehidupan jauh lebih menyiksa daripada kematian itu sendiri. Karena itu, jauhilah fitnah dan berburuk sangka kepada orang lain, agar kita terhindar dari penyebutan diri sebagai pelaku dosa besar. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...