China dari Ekonomi Menuju Kekuasaan

0 7

EKONOMI Menuju Kekuasaan. Dalam setahun terakhir, pemerintahan Joko Widodo, terus menerus mendapatkan tekanan. Tekanan yang sangat luar biasa hebatnya. Tekanan itu datang mereka yang patut dianggap atau dituduh sebagai rival politik maupun dari sebagian masyarakat yang patut diduga bukan hanya sekedar tidak terlibat dalam pertikaian politik, tetapi, juga tidak mau peduli dengan soal politik kebangsaan. Tekanan itu, dilakukan melalui media-media nasional baik cetak maupun elektronik yang dari hari ke hari berganti judul dan tema, tidak ada hentinya. Muaranya sama, yakni Presiden Jokowi.

Pemerintahan Joko Widodo ini, dalam beberapa terakhir, mulai terkesan lebih banyak menghabiskan waktunya dalam negosiasi politik dan komunikasi public politik, dibandingkan dengan menata kebutuhan ekonomi Indonesia baik dalam kepentingan jangka pendek maupun kepentingan jangka panjang. Padahal suasana ekonomi Indonesia selama masa pemerintahannya, belum menunjukkan hasil yang optimal. Bahkan dari hari ke hari, beban ekonomi dimaksud, terasa semakin berat, khususnya atas apa yang dirasa para pengusaha.

Isu Imigran China ke Indonesia

Tekanan yang dialamatkan kepada pemerintahan Joko Widodo dimaksud, jika kita mengingat dalam 12 bulan terakhir, terasa mulai dari isu melemahnya ekonomi Indonesia sejak dia memimpin negara, fenomena Ahok dalam posisinya sebagai tersangka kasus penistaan agama yang dituduh dibela Jokowi, isu rush money, bangkitnya komunisme dan isu miring keterlibatan keluarganya dalam organisasi terlarang ini, munculnya Rectoverso yang dianggap menyimbolkan gambar palu arit dalam uang pecahan kertas, dan yang paling hangat adalah soal menguatnya imigran asal China ke Indonesia dalam jumlah yang cukup pantastik.

Terhadap isu terakhir ini, Kompas.com edisi 27 Desember 2016, menurunkan sebuah tulisan tentang pernyataan Direktur Jenderal (Dirjend) Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Ronny F. Sompie, yang menyatakan bahwa tidak semua Warga Negara Asing (WNA) dapat masuk ke Indonesia. Pemerintah memiliki konsep yang jelas tentang bagaimana caranya memberi akses masuk bagi WNA.

“Salah satunya, dalam pernyataan Dirjend dimaksud adalah: Orang asing yang bermanfaat dan tidak membahayakan keamanan dan kedaulatanlah yang boleh masuk ke Indonesia. Hal itu, sebagaimana dinyatakan Ronny dalam diskusi Polemik di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu (24/12/2016). Dalam penjelesannya, ia menyampaikan bahwa berdasarkan perlintasan yang tersebar dari 125 kantor imigrasi dan 131 tempat pemeriksaan imigrasi di Indonesia, sejak Januari hingga 18 Desember 2016, WNA yang datang ke Indonesia telah mencapai 8.974.141 orang. Sedangkan WNA yang keluar dari Indonesia sebanyak 9.370.098 orang. Sedangkan Warga Negara China yang datang ke Indonesia, dari jumlah sebanyak itu adalah 1.401.443, dan yang ke luar dari Indonesia sebanyak 1.452.249 orang. Melalui data ini dapat disimpulkan bahwa jumlah WN China yang masuk jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang dating”.

Mencermati fakta-fakta tadi, menjadi dapat dimengerti mengapa misalnya Jokowi langsung memerintahkan aparat penegak hukum, tentu didalamnya kepolisian republik Indonesia, agar segera mencari sumber-sumber terpercaya, mengapa isu tentang kedatangan imigran China ini, demikian kencang berkembang. Jokowi bahkan segera menindak pelaku yang dianggap dapat meresahkan masyarakat.

Mengapa Takut dengan China

Pertanyaan dan masalah utamanya adalah, sesungguhnya ada apa dengan China? Mengapa sebagian masyarakat Indonesia demikian takut terhadap peran-peran kaum China di Indonesia? Bukankah sebenarnya kaum China ini telah lama tinggal di Indonesia. Mereka bahkan banyak yang sudah beranak pinak di Indonesia, karena sejak abad 13, masyarakat ini sudah banyak melakukan mograsi besar-besaran ke Nusantara.

Terhadap berbagai pertanyaan tadi, jawabannya sebenarnya sederhana. Bangsa ini mulai sadar dan melek bahwa peran-peran ekonomi Indonesia sebagian besarnya telah dikuasi China. Menurut beberapa informasi bahkan disebutkan jika kue ekonomi Indonesia, 80 persennya hanya dikuasai oleh 8 persen penduduk dan mayoritas dari 8 persen dimaksud adalah dikuasai kaum China.

Berbagai suara miring terhadap kaum China tersebut dengan demikian, sebenarnya adalah soal ekonomi dan bagaimana pemerintah disadarkan atas fenomena dimaksud, supaya berpihak kepada rakyat. Ada kesan setelah China menguasai sektor-sektor ekonomi Indonesia, ia segera beralih menuju pada penguasaan sektor-sektor kekuasaan politik. Inilah yang dianggap menakutkan. Jika persoalan ini dientaskan, maka, kami percaya situasi ini akan segera berakhir. Kaum atau bangsa China kami yakin tidak akan menjadi hantu yang menakutkan bagi bangsa ini. ** (Prof. Cecep Sumarna)

Komentar
Memuat...