Cina Versus Arab | Di Mana Kaum Pribumi Berpijak Part – 1

Cina Versus Arab Di Mana Kaum Pribumi Berpijak Part - 1
0 151

Cina Versus Arab. Di suatu pagi, sambil minum kopi pahit, perbincangan kebangsaan di suatu jendela kampus, terjadilah diskusi antik tentang Indonesia. Di tengah perbincangan itu, muncullah sebuah lelucon menarik yang menyebut bahwa Indonesia adalah sansak atau ring pertunjukkan “tinju” antara bangsa Arab dan bangsa Cina.

Penduduk pribumi Indonesia selalu hanya dianggap sebagai penonton paling setia dan dalam kasus tertentu, hanya kebagian getah atas konflik ke dua kutub ini. Kedua kutub yang terus bertikai tadi, memiliki penggemar setia dan martir bagi kedua kekuatan ini. Martir yang siap mati jika diperlukan itu bernama kaum pribumi. Suatu kaum yang nenek moyangnya dulu, bukan hanya memanggul senjata hasil rampasan perang terhadap Belanda, tetapi, juga membawa sabit, linggis atau perkakas perkebunan guna mengusir penjajah. Tidak sedikit di antara moyang mereka kaum mistikus yang mengalahkan penjajah dengan jampi-jampi.

Penduduk pribumi hari ini, sekali-kali memang memiliki kesempatan untuk bertepuk tangan, lalu tersenyum dan tertawa. Setelah itu, kembali sedih, kadang menangis. Saat satu pribumi itu menangis, pribumi lain tertawa terbahak-bahak. Yang untung tetaplah mereka yang bertarung. Orang pribumi, tidak pernah secara sesungguhnya melakukan pertarungan, sehingga mereka tidak pernah disebut kalah, apalagi jika harus disebut menang.

Mereka yang memperebutkan sesuatu itulah, tentu saja, akhirnya yang berkonsekwensi pada menang atau kalah dalam sebuah even pertarungan. Yang memiliki ruang untuk menang, tetap kembali hanya di antara keduanya [Arab dan China]. Yang pribumi tetap marginal, rural dan atau proletar. Sulit sekali menggeser posisi kaum pinggiran kaum pribumi, karena mereka terbatasi dengan sendirinya oleh dinding-dinding tebal atas cengkraman ekonomi gaya kolonialis yang tidak pernah dimainkan kaum pribumi.

Tipikal Arab dan Cina

Kedua masyarakat [Arab dan Cina], dipandang memiliki tipikal yang sama, yakni bermain dalam dunia usaha. Belakangan mereka mulai bergerak dalam dunia kekuasaan. Meski puluhan tahun sebelumnya, keduanya dianggap memainkan kekuasaan melalui kekayaan mereka dalam mempengaruhi kebijakan publik.

Karena itu, sudah sejak lama sesungguhnya, mereka dianggap menjadi cukong dan ijon pertanian, perkebunan, perikanan, perdagangan umum, tetapi, juga sama-sama ingin menguasai transaksional politik. Akibatnya, sipapun yang terpilih menjadi pemimpin di republik ini, mulai dari tingkat Presiden sampai tingkat RT, selalu dianggap dipengaruhi dua kekuatan ini. Karena itu, yang menikmati kekuasaan adalah mereka. Orang pribumi tetap menjadi pemikul barang-barang yang dibawa oleh kedua tamu terhormat ini.

Dalam analisa sarapan kopi pagi hari itu adalah, yang membedakan di antara keduanya, Arab dipandang lebih dekat dengan masyarakat karena Indonesia mayoritas Muslim, dan Arab memiliki pemahaman keagamaan yang relatif sama, yakni Muslim. Tingkat adaftasi dan asimilisai masyarakat Arab terhadap kaum pribumi jauh lebih cepat dibandingkan dengan bangsa Cina. Karena itu, ada semacam bunner yang membuat bangsa Arab tetap harus dilindungi oleh kekuatan pribumi.

Sedangkan Cina, dianggap lamban melakukan asimilasi dan adaftsi dengan pribumi, karena secara ekstrem, mereka dianggap mayoritas ateis atau dianggap non Muslim. Karena itu, “penyulutan” Ras untuk dan atas nama China jauh lebih gampang, dibandingkan dengan penyulutan konflik terhadap bangsa Arab. Tetapi keduanya, dalam narasi ini, sering disebut sebagai penikmat “kemakmuran” Indonesia.

Benarkah narasi yang dihasilkan dari diskusi ini? Saya sendiri tidak tahu! Tetapi jika benar, betapa mengerikannya. Namun demikian, tulisan ini akhirnya akan menjadi pembuka atas wacana diskusi yang uraiannya secara perlahan akan dituangkan dalam web ini. Selamat menikmati. Prof. Cecep Sumarna Bersambung

Komentar
Memuat...