Cincin Linda dan Perkawinan Yanti | Nokhtah Kerinduan Tuhan Part – 2

Cincin Linda dan Perkawinan Yanti | Nokhtah Kerinduan Tuhan Part-2
0 177

Nokhtah Kerinduan Tuhan. Selepas kegagalannya masuk ke STAN karena dijodohkan, Linda selalu mengurung diri di kamar. Ia tidak lagi peduli pada apapun yang dikatakan dan diminta orang tuanya yang dikenal sangat kharismatik di kampung halamannya itu. Ia berontak dan tidak mau menerima pinangan dari seorang santri yang orang tuanya se group dengan bapaknya ketika mereka mengikuti pendidikan di Madura.

Ia ingin mendapati calon suami dari pilihannya sendiri dengan nalarnya sendiri juga. Sosok laki-laki yang bukan hanya shaleh, tetapi, mencintainya dengan tulus dengan wajah yang juga gagah. Ia ingin memiliki laki-laki yang pandai dan memiliki semangat keilmuan. Ketidak inginan Linda atas permohonan bapaknya itu, terlebih ia sadar bahwa ada beberapa tokoh agama di kampungnya itu, sering membuat para istrinya terkesan lemah di mata suaminya. Ia tak berdaya menghadapi situasi yang dialami, jika kelak suaminya memiliki tipikal yang sama dengan kyai-kyai yang dia lihat sendiri.

Cincin Tunangan Linda Dikembalikan

Sudah dua kali kawan bapaknya itu, datang melamar Linda. Tetapi, mereka gagal menyatukan kedua anaknya ke dalam mahligai rumah tangga. Akhirnya, meski dengan sangat berat dan menyesakkan dada, bapaknya Linda mengembalikan cincin tunangan yang pernah diberikan kepadanya untuk diberikan kepada Linda. Linda tetap menolak untuk dipinang oleh anak temannya itu.

Suasana tampak sangat heroik, ketika detik-detik menjelang pengembalian cincin tunangan Linda yang gagal. Bapak Linda dengan sedu sedan dan sedikit meneteskan air mata berkata dengan pelan kepada teman setianya itu:

” … Sobat … aku tak kuasa. Kitab-kitab yang kita baca bahkan dihafal secara persis, yang menjelaskan salah satunya, bahwa penentuan untuk diterima atau ditolaknya suatu pinangan dari keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan, ternyata tak mampu aku tunaikan. Mungkin aku telah menjadi orang tua yang tidak baik. Gadisku, selalu menolaknya dengan alasan dia ingin tetap meneruskan studynya. Aku mohon maaf … cincin ini, terpaksa dikembalikan. Itupun jika anda berkenan! Jika tidak, beri aku kesempatan untuk satu atau dua tahun, barangkali dia akhirnya mau menerima pinangan anakmu.” Lalu dengan sangat tenang, orang tua anak laki-laki itu berkata: Sobat, tak mengapa! Justru mungkin kita yang salah, sebab sekarang dunia sudah berubah. Kau harus yakin sobat, kau tetap menjadi ayah yang baik. Biarlah anak kita menentukan nasibnya sendiri….. “

Betapa Linda sangat bahagia begitu mendengar tunangannya dibatalkan, meski, peluang untuk meneruskan studi ke STAN, sudah tidak mungkin dia ikuti. Teman-temannya yang meneruskan study, kini sudah mengikuti perkuliahan dan sudah lama berlalu dari Ospek. Tetapi, dengan tidak jadinya aku menikah, maka, aku, bathin Linda berkata, memiliki kesempatan untuk meneruskan study lagi, meski entah di mana. Ia mengetahui, karena beberapa hari sebelum kejadian itu, Ghina kembali mengirimkan surat kepada Linda dan Yanti yang isinya:

“Hai sobat … aku sudah Ospek. Kini aku sudah mengikuti kuliah. Aku tak membayangkan duduk di kampus bergengsi ini, jika kalian tidak pernah memberi spirit kepadaku. Terima kasih ya … aku tak mungkin melupakan kalian. Untuk membunuh waktu, kalian harus juga tahu bahwa  … kini aku mengikuti organisasi Intra Kampus dalam satu kegiatan, yang sewaktu kita di SMA dinamakan dengan ROHIS. Kini aku menjadi aktivis di Masjid Salman ITB. Kalian jangan ngetawain aku ya … jika nanti kerudungku berubah, jadi tambah besar, jangan kaget. Salam hangat dari sahabatmu. Ghina”

Linda dan Yanti sama-sama bangga masih diaku sama Ghina sebagai sobat sejatinya. Mereka hanya berucap selamat menempuh karier baru. Aku bangga padamu Ghina. Kalimat itu selalu meluncur dari mulut mereka, meski tidak mereka tumpahkan ke dalam bentuk tulisan sebagai jawaban atas surat yang dikirim Ghina.

Yanti tetap Menikah

Lain Ghina beda dengan Linda. Yanti tetap dinikahkan orang tuanya dalam suatu prosesi pernikahan yang luar biasa ramai, di sebuah Hotel berbintang 4 di Kota Bandung. Berbagai tamu terhormat diundang hadir dalam prosesi pernikahan itu. Tak terkecuali Linda dan Ghina. Keduanya sudah hadir sehari sebelum pernikahan berlangsung.

Linda dan Ghina sengaja datang lebih dulu, agar mereka memiliki kesempatan berbicara secara bebas dengan Yanti. Mereka justru akan absen saat prosesi pernikahan itu berlangsung. Mereka sadar bahwa besok tamu yang hadir sangat luar biasa banyak dengan tipologi tamu birokrat dan aristokrat negara. Menurut berita, Gubernur Jawa Barat juga akan hadir, Maklum calon mertua Yanti adalah purnawirawan Perwira Tinggi di Jawa Barat.

Ghina dan Linda kaget. Sebab saat mereka bertemu, Yanti malah menampakkan diri dengan wujud yang lemah dengan mata yang sembab. Ghinalah yang ekspresif bertanya kepada Yanti, mengapa ia seperti tidak bahagia. Sementara itu, Linda banyak diam dan termangu. Sebab dia merasakan hal yang sama. Menyesali definisi takdir yang sesungguhnya mungkin patut dianggap salah. Linda hanya berkata: “Yanti, kita tidak tahu, Tuhan sedang mengajak kita ke mana. Mungkin Dia memberi sesuatu yang terbaik, meski kita menganggap hal ini, terasa buruk dan menyiksa.

Setelah mereka puas berbagi cerita, akhirnya Linda dan Ghina pulang ke kampung halamannya masing-masing. Ghina yang dulu begitu singset, kini telah berubah dengan cepat. Ia bukan saja tampak Islami, tetapi, mampu menampilkan sosok perempuan muda yang terdidik. Linda makin bingung dan akhirnya mereka kembali berpisah. Linda naik Mobil Patas AC menuju kampung halamannya. Dalam hatinya Linda berdoa, Tuhan berilah aku kekuatan dan berilah aku jalan hidup yang terbaik. Tak terasa air mata Linda mengalir dengan deras. By. Charly Siera –Bersambung

Komentar
Memuat...