Cinta Bersemi dalam Nikah Poligami | Nokhtah Kerinduan Tuhan Part – 4

Cinta Bersemi dalam Nikah Poligami | Nokhtah Kerinduan Tuhan Part-4
0 145

Jika Linda dan Yanti masing-masing menikah dalam usia yang relatif muda, Ghina, menikah justru dalam usia yang relatif tua. tentu jika dibandingkan dengan kedua Yanti dan Linda. Ghina menikah diusianya yang melewati umur ke 30. Pernikahan baru dihelat Ghina setelah ia berkarier di kantor perusahaan itu sekitar 7 tahun. Ghina sangat fokus mengurusi perusahaan yang dimliki bossnya.

Setelah menyelesaikan gelar sarjana S1 dalam bidang teknik sipil, Ghina menjadi perempuan karier di sebuah perusahaan multi nasional. Ia begitu gajih dengan model cukup pantastik.Ia bukan hanya mandiri, tetapi, menjadi wanita mapan yang tidak memiliki ketergantungan secara ekonomi dengan siapapun, termasuk dengan kaum laki-laki. Karena itu, menjadi wajar jika dia terlambat menikah. Ia tumbuh menjadi sosok percaya diri atas dirinya sendiri.

Setahun setelah dia menikah, di usianya yang genap 31 tahun, Ghina memperoleh kesempatan untuk mengikuti Post Graduate Program di Salah satu Universitas ternama di Jerman. Ia memperoleh beasiswa dari perusahan di mana dia bekerja karena dianggap memiliki loyalitas, dedikasi dan kemampuan inovasi tinggi.

Ghina dikenal cukup imaginer dalam mengembangkan desain-desain kantor yang cukup menjulang. Tangan dingin dialah yang menyebabkan salah satu faktornya, perusahaan dimaksud, tidak pernah sepi kehabisan order. Perusahaan desainer konstruksi ini, bahkan diperkirakan mampu bertahan hingga 20 tahun ke depan. Ia diangkat menjadi direktur konstruksi bangunan kawasan pegunungan yang rawan longsor.

Ia beberapa kali diundang menjadi pemateri dalam seminar pengembangan pembangunan nasional yang ramah lingkungan. Dialah sosok yang mampu memberi penjelasan rinci bukan hanya dalam konteks perusahaan, tetapi, juga mewakili bangsa Indonesia jika event itu bersipat internasional. Itulah mengapa nama Ghina tumbuh menjadi sosok populer di tanah air dalam beberapa tahun waktu itu.

Ghina Menjadi Motivator Agama

Lain di kantor lain di masyarakat. Ghina yang pernah menjadi aktivis Masjid saat mengikuti kuliah S1 itu, selain tumbuh menjadi desainer konstruksi bangunan yang tangguh, juga memiliki talenta motivasi keagamaan yang baik. Waktu sore hari sehabis melaksanakan tugasnya di perusahaan, Ghina seringkali keliling dari satu Majelis Taklim ke Masjid Taklim lain.

Itulah Ghina. Dengan segenap keunikan dan kesahajaannya, ia tumbuh menjadi panutan umat yang banyak dan kompleks. Kalimatnya datar namun penuh makna. Banyak ibu-ibu mengidolakan sosok ini, sebagai perempuan ideal dalam konteks keagamaan.

Saat Ghina sering melakukan motivasi keagamaan itulah, ia dipertemukan Tuhan dengan seorang laki-laki yang sempat menjadi mentornya sewaktu kuliah S1 di Bandung. Ia dengan laki-laki itu, memiliki selisih usia sekitar 6 tahun. Laki-laki itu, sehabis mengikuti pendidikan di Kampus yang sama dengan Ghina, ia meneruskan perusahaan Travel Haji dan Umrah milik ayahnya.

Terhadap laki-laki itu, Ghina bukan hanya sekedar jatuh hati, tetapi rela menjadikan dirinya sebagai istri kedua. Ghina sadar bahwa menjadi kedua atau ketiga, tidak terlalu penting, yang penting baginya laki-laki itu adalah shalih. Inilah pendidikan keagamaan yang diterapkan selama dia mengikuti kajian sewaktu kuliah tak mampu dia rubah, pun ketika dia sudah menjadi seorang direktur.

Laki-laki itu bernama Muhammad Luthvi. Dia sama dengan Ghina memiliki profesi sebagai arsitek. Hanya saja, Lutvi lebih konsen pada Teknik Mesin. Kedunya adalah jembolan dari kampus yang sama dengan Ghina. Luthvi tampaknya lebih senang memilih posisinya sebagai Direktur Travel, dibandingkan dengan mengembangkan diri dalam dunia keteknikan-nya sebagai ahli mesin.

Ta’aruf Ghina dengan Istri Luthvi

Beberapa kali Ghina dengan Luthvi bertaaruf (berkenalan). Sampai kemudian Ghina benar-benar siap dan sanggup menjadi istri keduanya. Setelah itu,  Luthvi melakukan ta’aruf di sebuah Masjid yang disetujui mereka bersama dengan istri pertama Luthvi. Istri pertama Luthvi itu bernama Ani, kebetulan juga sama mentor Ghina di Salman ITB Bandung. Keduanya sudah lama kenal. Ghina juga tahu tentang Ani. Ia dianggap sebagai senior sekaligus guru bagi Ghina.

“Dalam sebuah ta’aruf itu, Ani berkata kepada Ghina: “Ghina adindaku, kita mencintai laki-laki yang sama, itupun jika benar suamiku mengatakan bahwa kamu mencintainya. Tetapi aku percaya, bahwa suamiku selama ini tidak pernah berdusta kepadaku. Aku sadar tuntutan keagamaan seharusnya aku mampu memberi pelayanan yang baik kepada suamiku. Tetapi, berhubung tugas-tugas kami masing-masing sangat banyak dan padat, dan karenanya tidak mungkin aku untuh melayaninya, maka, aku takut Tuhan melaknatku dan tidak merindukanku, karena secara tidak langsung, aku telah berbuat nusuz atas ketidakmampuanku melayaninya.

Karena itu pula, aku meminta bantuan kepadamu, bantulah aku menjaga suamiku. Insyaallah dia baik dan menjaganya adalah pahala juga. Sekuat mungkin aku tak kan pernah cemburu secara membuta kepadamu, karena sejak awal aku tahu betapa kamu tumbuh sebagai sosok perempuan Muslim yang taat. Saat itu, Ghina hanya menganggukan kepala dan pasrah atas situasi apapun yang bakal dihadapinya. Ia seperti berada dalam mimpi, karena dilamar oleh istri pertama dari seorang laki-laki yang bakal menjadi suaminya juga”

Sehabis taaruf itu, Ghina datang kepada kedua orangtuanya bersama Luthvi dan Ani. Keluarga Ghina yang Muslim dan taat serta kaya raya ini, mengidzinkan anaknya untuk dinikahi Luthvi sebagai istri keduanya. Perkawinanpun berlangsung secara sederhana di rumah Ghina saat itu juga. Ia tidak mengundang siapapun, termasuk tidak mengundang Yanti dan Linda teman sejatinya. By. Charly Siera –Bersambung–

Komentar
Memuat...