Cinta dalam Dua Keluarga | Misteri Sang Ksatria Cinta Part – 8

Cinta dalam Dua Keluarga | Misteri Sang Ksatria Cinta-Part 8
0 147

Cinta dalam Dua Keluarga: Setelah sekian lama Alberta hidup dalam kesendirian, dan tak lagi cocok untuk disebut sebagai remaja, akhirnya, ia menikah. Pernikahan yang dilangsungkan secara meriah di sebuah Kota yang sangat dingin di Jawa Barat. Ia menikahi seorang gadis yang dijodohkan keluarganya. Semula Alberta berontak, terlebih moment pernikahan itu, akan dilangsungkan dalam suasana ekonomi keluarga mereka sedang kacau. Tetapi, bujuk rayu orang tua yang sudah mulai pada tua dan memintanya untuk memiliki cucu, Alberta akhirnya menikah juga. Ia menikahi seorang keluarga eksportir untuk kawasan Asia Tenggara.

Perjalanan panjang dalam biduk keluarga yang cenderung dipaksakan itu, tidak membuat Alberta bergeming untuk bahagia. Hatinya tetap membeku dan tidak memiliki kepedulian berarti akan berbagai fenomena kehidupan yang dia jalani. Perjalanan waktu yang demikian panjang itu, hanya mampu mendorong Alberta untuk rela menikahi seorang gadis yang dengan tulus mencintainya, sebagaimana tulusnya cinta Santi kepada dirinya.

Istri Alberta bernama Hyapatia, terus melayaninya dalam suka dan duka. Istrinya sangat pendiam, meski, tampak rasa cemburu yang kadang mendalam. Ciri nyata kalau Hypatia cemburu itu terlihat ketika Alberta misalnya membaca ragam surel dalam berbagai akun yang dijumpainya. Rasa cemburu itu semakin berkecamuk terlebih ketika Alberta terlalu lama membuka satu akun yang diberi nama Mihrab Cinta. Inilah akun yang kadang membuat Hypatia jengkel ketika diketahui bahwa Alberta membacanya dengan seksama.Tetapi Alberta dengan enteng dan tanpa memberi alasan, membiarkan semuanya berjalan apa adanya. Ia kadang hanya berkata: Jika kau mencintai aku, terimalah aku apa adanya, termasuk pada apa yang aku sukai.

Lahirnya Keturunan Aristokrat Cinta dalam Dua Keluarga

Jika pernikahan Santi melahirkan seorang anak perempuan yang sangat cantik, Alberta memiliki seorang anak laki-laki yang sangat ganteng. Dua keluarga ini sama-sama mendidik anak-anaknya di tempat yang sangat baik mnurut ukuran waktu dan tempat di mana mereka berkeluarga. Yang membedakan hanya satu. Keluarga Santi tetap menitipkan anak-anaknya di sekolah agama pavorite, sedangkan Alberta mendidik anaknya di lingkungan pendidikan yang kadang jauh dari nilai keIslaman. Alberta menginginkan anaknya yang diprediksi dapat menjadi salah satu pewaris takhta kerjaan bisnisnya itu, mengerti dengan seksama akan berbagai fenomena kemanusiaan dan ekonomi yang melingkupi umatnya. Ia hanya memberi pendidikan agama kepada anaknya itu dengan cara disuruh untuk menghafal seluruh surat dan ayat al Qur’an beserta dengan terjemahan yang dikandung dilamnya.

Perjalanan waktu yang demikian panjang yang mengitari kehidupan keluarganya, telah membuat posisi Alberta terus beranjak naik dan bertengger untuk menjadi seorang eksekutif yang tidak lagi muda. Ia menjadi “Jenderal Besar” dalam perusahaan-perusahaan multynasional yang diwariskan kedua orang tua kepada dirinya.Ia mengurusi seluruh perusahaan yang sempat akan bangkrut akibat diterpa badai krisis 1998 itu, menjadi sebuah perusahaan raksasa yang mengakar dengan tingkat liquiditas yang sangat tinggi. Perusahaan itu, kini telah masuk dalam nominasi sebagai perusahaan sehat dengan total asset yang cukup lumayan pantastis.

Ratusan milyar asset perusahaan itu tersimpan dalam ragam surat berharga. Iapun selalu menitipkan satu property dalam setiap kawasan perumahan mewah baik di Jakarta maupun di Bandung, untuk kelak di kemudian hari, dapat dinikmatinya dengan Santi. Ia tetap mengimaginasi Santi, kelak di kemudian hari, mereka akan menikah dan hidup bersama dalam suatu biduk kehidupan yang berharga. Mereka akan mengambil posisi penting dan menjalani kehidupan bersama di muka bumi. Berbagai rumah yang diperuntukkan untuk Santi itu, dititipkan kepada salah seorang anak buah kepercayaannya bernama Diane

Bukti paling kokoh yang mengharuskan untuk menyebut betapa Alberta mencintai Santi, akan terlihat dari kumpulan photo milik Santi yang dicintainya dengan sepenuh hati yang suka di upload-nya di surel-surel maya, diprint lalu disimpan dalam laci meja bundar yang sangat besar, yang kuncinya hanya dimilikinya sendiri. Inilah kunci rahasia yang menyimpan segala bentuk dinamika cinta Alberta dan Santi. Photo, catatan kecil, tulisan tangan dan berbagai puisi yang pernah dikirimkan Alberta kepada Santi, atau berbagai peristiwa yang kecil sekalipun, yang menimpa Santi dan dia mengetahuinya, disimpan cukup rapat dalam lacinya itu. Photo-photo Santi kadang dipadukan, diramu dan disusun dalam sketsa khusus yang mengimaginasi bahwa mereka telah hidup bersama dan kelak akan menyatu untuk segalanya.

Namun demikian, di tengah segenap rasa cintanya kepada Santi, dalam beberapa hal, rasa sayang dan kasiannya kepada Hypatia juga tumbuh. Mungkin hal sama terjadi juga pada Santi. Berbagai pengabdian tulus yang dipresentasikan Hypatia kepada Alberta, telah menyebabkan ia kadang sadar bahwa hidup tak selamanya hanya dapat mengikuti nalar cinta. Ia kadang berontak kepada Tuhannya mengapa ia mengirimkan sosok cantik dan jelita tetapi sulit dimilikinya.

Tipikal Keluarga Baru Modern

Inilah tipikal baru keluarga modern. Bagaimana tidak, Santi dan Alberta tetap bersatu dan menyatukan diri dalam berbagai kepentingan sekalipun masing-masing memiliki pasangan yang berbeda. Mihrab Cinta mereka tetap menjadi saksi bisu yang hanya dan ingin hanya diketahui oleh mereka berdua, tentu selain Tuhan dan malaikat pencatat segala dinamika manusia.

Alberta sesungguhnya tidak ingin ada surel-surel lain yang masuk ke Mihrab Cinta mereka. Alberta suka sedikit terganggu. Tetapi, sejujurnya Santi seperti tak peduli dan itulah yang kadang membuat Alberta, ragu. Alberta ingin Santi tegas karena jika tidak, maka, dampaknya buruk bagi dirinya. Ia ingin Santi tidak dianggap remeh. Ia ingin Santi berada dalam puncak kesadaran betapa pentingnya hidup berhati-hati dalam mengirim atau menerima pesan apapun, terlebih dalam mihrab mereka. Alberta terganggu ketika ada potongan photo atau potongan lain yang dalam ukurannya  jorok. Menurutnya, itu pelecehan dan Alberta yang marah meski hanya ada dalam bathinnya.

Tetapi, akhirnya kadang Alberta sadar dan membiarkan semuanya berjalan apa adanya. Alberta kemudian tumbuh menjadi sosok yang mampu dengan tangkas memancing harimau turun dari gunung. Begitupun sebaliknya, Santi kepada Alberta. Keduanya, tetap saling memadu kasih meski dilakukan dengan cara yang sangat tersembunyi dan penuh misteri.

Di banyak waktu, Alberta sering menuliskan sebuah kalimat unik yang mentamsilkan dirinya sedang sedih. Air matanya tak mampu ia tahan. Menetes dan meleleh saat kerinduannya bercampur aduk dalam skema bathin yang sulit memperoleh tepian berarti. Ia kesulitan untuk mencurhati perasaannya, karena hanya Santi yang tahu, apa sesungguhnya yang diinginkan Alberta. Ia ingin Santi hanya menjadi miliknya dan tak ada yang lain yang memilikinya. Malam Sabtu dan malam minggu adalah malam yang menyiksa hati dan pikiran Alberta. Ia selalu galau dan gelisah merenungkan apa yang sedang dialami Santi. Setelah itu, ia beristighfar. Inilah moment tangisan Alberta yang sering terulang dan terjadi.

Di dua malam itulah, hampir dalam setiap pekan, telah membuat Alberta sering hanya menghabiskan waktunya dalam segenap hayalan akan masa-masa indah yang dialami mereka berdua. Ia mengingat dengan baik bagaimana ia memeluk, mencium dan menggoda Santi. Bagaimana Santi membalas ciuman yang penuh kehangatan dan kedamaian. Lalu saat seperti itu terjadi, Alberta selalu bilang: “Ini bukan asmara. Ia bukan apa-apa. Tetapi, inilah bagian tertentu dari apa yang dinamakan ekspresi cinta”. Saat kalimat itu meluncur, Santi mengatakan: “Apapun itu bentuknya, aku, bangga dan bahagia. — By. Charly Siera –bersambung

Komentar
Memuat...