Cinta dalam Perspektif Prof. Cecep Sumarna

0 31

Datang dan pergilah karena cinta. Kalimat ini, memiliki relevansi makna dengan mengangkat dan memberi atas nama cinta. Menjadi lucu jika pengangkatan atau pemberhentian dilakukan atas rumus kebencian apalagi atas dasar kekhawatiran yang tidak mendasar. Kecintaan pada apapun yang menjadi daya tarik kita, harus menjadi dasar untuk menjadi magma dalam menjalani kehidupan. Jika semua hal dapat dilakukan atas dasar cinta, maka, semua pasti happy ending.

Aku sering duduk termanggu, menyaksikan bagaimana sikap dan pandangan diriku sendiri terhadap segala dinamika yang pernah atau sedang kami jalani. Segala putaran tetap berada dalam Segala Pusaran, ternyata selalu berada dalam setiap pinggiran. Fakta selalu menunjukkan makna-makna terbalik. Persis ibarat lakon sejarah kemanusiaan selalu disusun oleh mereka yang menjadi pemangku kekuasaan. Sialnya, semua hal tidak pernah disusun atas dasar atau atas rasa cinta. Cinta yang sesungguhnya, sering diletakkan di balik makna-makna fisik yang sensual.

Yang sensual dan fisik pasti menunjukkan makna dangkal yang tidak memiliki relevansi cinta. Cinta diibaratkan seperti bunga Ros yang menjadi lambang kelahiran Magdalena atau seperti kelahiran Hawa yang dicitrakan buruk. Padahal dua manusia misterius ini, memiliki peran besar dalam membangun peradaban. Ia adalah penerus warisan para shopos, para Nabi dan Rasul itu, hanya ditampilkan secara substantif oleh Leonardo Davinsi dalam lukisan Monalisa.

Agamawan sebagai “calon penghuni Syurga” sekalipun, tidak pernah menampilkan wajah secantik mereka berdua dalam keanggunan yang luar biasa. Semua itu terjadi karena kebencian yang dasarnya adalah murni subjektivisme. Itulah mengapa aku selalu ragu terhadap obrolan siapapun yang datang kepadaku, ketika informasi itu berkisar soal kebaikan atau keburukan. Termasuk jika informasi itu dibawa oleh mereka yang terbiasa memakai jubah putih atau serban hijau. Aku pasti memeriksanya. Kenapa, aku tidak ingin terjebak menilai sesuatu yang ternyata jauh dari panggang api.

Cinta adalah Puncak Pengalaman Hidup

Karena itu, cinta adalah peaks eksperience (puncak pengalaman) kemanusiaan menuju Tuhan yang sesungguhnya. Saya merasa yakin bahwa dalam kasus-kasus tertentu, kedudukan cinta jauh lebih tinggi bahkan dibandingkan dengan pengalaman keberagamaan. Kenapa demikian …. ? sebab substansi agama adalah cinta itu sendiri. Keunggulan kemanusiaan juga terletak dalam rumus dan rumpun cinta.

Problem yang segera tampak di permukaan kita adalah, bagaimana kita memiliki kemampuan untuk mengekspresikan apa yang dinamakan cinta. Mampukah kita memendam sesuatu yang di mana kita sering berlindung di balik dan atas nama cinta untuk berbuat sesuatu yang tampak sangat fisis dan biologis. Yang fisis dan biologis, sepanjang terjadi karena ekspresi yang holygius pasti akan abadi. Kita akan mampu menyimpan, memendam, mengenang dan bahkan menuliskannya untuk orang lain, dan semua itu akan bertahan dalam waktu yang cukup panjang. Itulah mungkin kenapa Rasul Muhamad menyatakan bahwa datang dan pergilan kamu semua karena dan atas nama cinta.

Cinta adalah Puncak Pengalaman Hidup

Dalam perspektif cinta, harus diakui tidak ada yang buruk. Semua akan tampak baik dan memberi manfaat kepada dirinya dan kepada orang lain. Semua ciptaan Tuhan dikreasi dalam cinta-Nya, termasuk yang tampak sangat buruk di mata manusia kebanyakan. Neraka sama baiknya seperti Syurga. Iblis sama baiknya seperti Malaikat. Tuhan tidak pernah mengosongkan sedikitpun ruangan yang Ia ciptakan tanpa diri-Nya. Di ruang dan di tempat Iblis, tidak pernah sepi asma Tuhan, karena Iblispun sadar bahwa ia diciptakan Tuhan karena rasa cinta-Nya kepadanya. Di neraka juga sama. Tuhan tidak pernah mengosongkan diri-Nya. Agak keliru kalau Neraka, Syeitan, Iblis atau Iprit seolah-olah berada dalam ruang kosong tanpa Tuhan. Semua ruang pasti ada Tuhan. Karena semua diciptakan Tuhan dan semuanya milik Tuhan. Tuhan sendiri yakin bahwa seluruh ciptaannya memiliki nilai manfaat bagi seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Kitab Suci adalah Bentuk Kecintaan Tuhan

Tuhan telah menyuguhkan kitab suci, termasuk al Qur’an, yang mengawalinya dengan karakter rahman dan rahiem, yang kemudian tersusun dalam juntaian kalimat bismillahirrahmanirrahiim…. Semua ahli tafsir sepakat bahwa, substansi al Qur’an terdapat dalam ayat dimaksud. Kalau substansi al Qur’an terdapat dalam sebuah kalimat yang sangat sederhana itu, maka, itu berarti kita diperintahkan untuk memiliki kasih sayang kepada siapapun, kepada seluruh kreasi Tuhan, baik terhadap yang baik, maupun terhadap yang buruk. Alangkah malang nasib kita, jika ternyata kita merasa bahwa kita hidup dalam cerminan wahyu, sementara hidup jauh dari apa yang kita sebut dengan cinta.

Jika nalar dan akal pikiran manusia mampu menganalisis segenap perbedaan, maka, cinta yang tumbuh dari jiwa manusia, selalu berusaha untuk terus menerus mencari sisi persamaan dari segenap perbedaan yang tersedia. Karena itu, jika nalar dan akal pikiran manusia dapat membedakan dan memisahkan sesuatu, maka, cinta hanya dapat mendorong manusia untuk bersatu, berjalan bersama dalam segala iringan, termasuk jika iringan dimaksud tampak satu sama lain seperti saling berbeda dan bahkan terkesan bertentangan. Cinta menyatukan seluruh unsur yang berbeda. Karena itu, cinta mendorong harmonisme dengan posisi dan fungsi yang satu sama lain saling berbeda.

Cinta akan mendorong manusia untuk memiliki jiwa patriotisme dengan karakter toleransi. Cinta mendorong dirinya untuk belajar apapun pada sesuatu yang tidak dia kuasai. Cinta akan mendorong manusia untuk mencari nilai lebih dari apapun yang dia lihat, di kecap, dia dengar, dia rasakan dan dia pikirkan. Cinta akan mendorong diri seseorang untuk mendekati orang lain, bukan bagaimana orang lain dapat mendekati dan memahami dirinya. Cinta karena itu, akan mendorong ketercapaian manusia, pada puncak tertinggi kemanusiaan. Bercinta karena itu, bukan ekspresi biologis, tetapi ekspresi hati. Ekspresi yang mendorong manusia untuk menyatakan bahwa dunia dengan segenap dinamikanya, baik atau buruk, diciptakan Tuhan dengan sipatnya yang rahman. Karena itu, dalam perspektif cinta, semua hal tidak ada yang layak dipandang buruk.

manusia-terlahir-karena-cinta

Manusia Terlahir Karena Cinta

Jika kita sadar bahwa manusia tercipta dan lahir karena kasih sayang dan cinta Tuhan, maka, bumi ini tidak akan pernah ditaburi apapun kecuali rasa cinta itu sendiri. Kecintaan kita pada apapun yang menjadi kesenangan kita, pahalanya tidak akan lebih baik jika dibandingkan dengan rasa cinta kita, pada sesuatu yang paling tidak kita sukai. Artinya, mencintai sesuatu yang paling kita benci, yang paling kita murkai, yang paling menyakiti dan paling melukai hati kita yang paling dalam, adalah barang paling berharga yang dimiliki manusia.

Mencintai sesama manusia yang dicintai, adalah hal lumrah dan itu biasa. Tetapi mencintai mereka yang membenci kita dan membuat angkara murka terhadap diri kita, adalah jalan dan pintu menuju syurga kita baik di dunia maupun di akhirat. Semakin lama perjalanan hidup kita di dunia, kita akan kembali disadarkan bahwa ternyata rahman Tuhan lebih luas dibandingkan dengan rahim Tuhan. Tugas kemanusiaan kita di muka bumi adalah menyebarkan karakter rahman Tuhan, karena sampai detik ini kita masih menginjakkan kaki di atas bumi.

Cinta Adalah Anugerah Terbesar Tuhan

Bagi saya, cinta adalah anugerah terbesar Tuhan selain akal pikiran yang dalam beberapa tulisan sebelumnya telah diurai cukup panjang. Karena cinta itu anugerah, maka, cinta itu suci, penuh ketulusan, tanpa pamrih dan tanpa maksud apapun. Ia lahir seperti aliran sungai Tinggris yang berjalan tanpa sedikitpun mengalami kekeringan. Cinta terbenam dalam sanubari kita yang paling dalam, yang karena ke dalamannya sering kali, rasa itu tidak mampu dirasakan oleh mereka yang mungkin sangat dekat dengan diri kita sekalipun. Bahkan rasa itu, mungkin juga tidak mampu dideskripsi oleh sesuatu atau seseorang yang secara biologis sangat dekat diri kita. Cinta tidak mampu ditangkap hanya berdasarkan gejala fisik, karena ia hanya mampu dipantulkan dalam gejala-gejala piskis.

Karena cinta itu anugerah Tuhan, maka, ia holigius sama holigiusnya seperti Tuhan. Ia misteri yang justru kehilangan misterinya ketika satu dengan yang lainnya menyatu dalam rumpun apapun di kehidupan manusia di muka bumi. Siapapun yang diberi rasa cinta, ia telah diberi sepercik cahaya Tuhan dalam sanubarinya. Percikan-percikan cahaya Tuhan akan tampak utuh, ketika satu sama lain tetap menjaga jarak apapun kecuali pertalian bathin. Bathin yang mampu mengungkapkan rasa dan perasaan kebathinan itu sendiri. Cinta adalah ungkapan bathin yang tidak mungkin dirangkai kata, dirangkai bahasa dan dirangkai catatan-catatan dalam jutaan kata dan kalimat. Cinta akan selalu terpendam sangat luas dan dalam, persis seperti luas dan dalamnya samudera yang telah menenggelamkan kapal Titanic yang menyembunyikan rasa rindu seorang nenek tua akan kekasihnya yang mati di Samudra Atlantik. Menjaga cinta, karena itu, sama dengan menjaga rahasia ketuhanan kita. Tulisan diambil dan diadaftasi dari Percikan Pemikiran Prof. Cecep Sumarna —Team Lyceum Indonesia

Komentar
Memuat...