Cinta dalam Samudera Fantasi | Nokhtah Kerinduan Tuhan Part – 15

Cinta dalam Samudera Fantasi| Noktah Kerinduan Tuhan Part-15
0 116

Noktah Kerinduan Tuhan. Cinta dalam Samudera Fantasi – Yanti, tetap istirahat. Terlebih rasa mualnya yang sulit berhenti, cukup mengganggu. Ia selonjoran mengambil udara segar di sofa sambil memakan beberapa buah-buahan yang tersaji. Tidak banyak kata yang diungkapkan Yanti kepada Linda dan Ghina. Saat Yanti selonjoran, ia malah mengimaginasi satu rasa cinta, yang justru semakin hari semakin terasa membara.

Yanti kadang mempertanyakan sikap dirinya yang menolak ajakan Alamsyah. Laki-laki plamboyan dan cukup berwibawa itu, pernah mengajaknya untuk menikahi dirinya. Sejujurnya aku pingin menjadi suaminya. Tetapi kenapa aku menolak. Bahkan dilakukan penolakan dengan keras. Aku merasa kasian sama istri Alamsyah dan betapa sakitnya, jika dia tahu kalau Alamsyah menikahi dirinya.

Linda dan Ghina, kamu tidak tahu. Janin ini bukan berasal dari spermatozoa laki-laki yang menikahiku. Laki-laki itu adalah suami kontrakku. Dia sangat lemah untuk bapak dari anak dalam janin ini. Tujuannya satu, yakni menjaga marwahku, marwah istri Alamsyah dan tentu marwah Alamsyah sendiri. Dalam bathin, Yanti berkata: “Hai Ghina apa jadinya, jika kamu tahu, kalau janin disumbang dari bosku dan bosmu.

Yanti juga bersyukur kepada Tuhan, karena Dia telah menganugerahi semua kebaikan ini. Yanti merasa betapa perhatiannya Alamsyah kepada dirinya. Ia menyaksikan bagaimana Alamsyah kalau melihat dirinya, yang sering tak kuasa untuk meneteskan air mata. Suatu waktu, Alamsyah berkata: “Tetesan air mataku di sini, tak sebanding dengan tetesan air mataku yang kutumpahkan di kantor dan di rumahku. Aku sering menghabiskan malam, hanya karena mengingatmu.

Bahagia sekali Yanti, saat mendengar dan mengingat kalimat-kaliat yang disampaikan Alamsyah. Meski ia satu kantor dengannya, bahkan menjadi atasan sekaligus bossnya, Yanti tetap menjaga jarak. Ia menghormatinya dengan tulus dan tak ada niat sedikitpun untuk menambah beban bagi Alamsyah.

“Alamsyah aku sangat sayang sama kamu. Kamu tidak tahu betapa aku menyayangimu lebih dari segenap rasa sayang yang kumiliki pada apapun sebelumnya. Kamu tentu sulit mengerti rasaku. Aku puas dan aku bangga pada sikapmu yang demikian baik kepadaku. Biarlah hanya aku dan Tuhanku yang tahu. Siapapun, termasuk tentu dirimu, rasanya akan sangat sulit mempercayai, rasa cinta yang kumiliki ini. “

Cinta Ghina dan Linda dalam Samudera Misteri

Di sisi lain, Ghina dan Linda, mereka berdua asyik membicarakan pola hidup dan relasi-relasi baru mereka. Dalam pembicaraan di antara keduanya, kadang suka menumpahkan segala asa yang menghinggapinya cukup lama. Ghina mencoba mendiskusikan suatu rasa bathin, yang sejujurnya sangat menyiksa. Linda yang menjadi dosen Aritmatika, kadang sering menggunakan logika statistika. Ia menganalogikan sesuatu yang rumusannya menghasilkan suatu teori peluang. Cinta yang dimiliki Lindapun, akhirnya sulit menepisnya untuk tidak menggunakan teori peluang.

Di tempat yang sama, Ghina yang menjadi ahli dalam bidang teknik sipil, kadang imaginasi cintanya dirumuskan ke dalam skema yang fisik. Ia yang bangga sama Lutvy, merasa yakin kalau merawat cintanya, setara dengan merawat bangunan yang indah. Ghina mengatakan kepada Linda, bahwa dia hanya memiliki satu asa. Asa itu adalah rasa cinta untuk Lutvy, sedang rasa kasian untuk suaminya. Ghina berkata kepada Linda:

“Linda kamu tahu nggak. Sudah hampir dua tahun lho aku tidak menikmati indahnya hubungan suami istri. Bukan berarti aku tidak melakukan hubungan sebadan dengan suamiku. Tetapi, rasanya aku sulit memperoleh suatu rasa, di mana rasa itu dapat mendorong aku dan jiwaku pada alam yang penuh asmara. Aku melayaninya, lebih karena ajaran agama yang aku anut, menuntutku untuk tetap melayaninya, meski, sejujurnya rasa itu sudah tidak ada.”

Linda menjawabnya dengan senyum. Ghina lalu berkata: “Kamu jangan mengolok-olok aku Linda. Kalau kamu merasakan apa yang aku rasa, saya kira akan sangat sulit untuk membantah apa yang aku sampaikan”. Tetapi, Linda terus tersenyum. Lalu Linda mengatakan: “Aku malah lebih lama dibandingkan waktu yang kau lalui. Dalam kasus tertentu, apa yang aku rasakan, bahkan melampui apa yang kamu lakukan.

Setiap hari, bahkan setiap menit dan detik, nafasku hanya mengingatkan akan ketulusan dan rasa cinta yang dimiliki, seorang laki-laki, yang menurutku luar biasa. Ia bukan hanya ganteng, tetapi, juga pengertian sama aku. Aku bangga padanya. Aku berharap kapan-pun, atau bahkan sampai aku mati, aku akan merawat cinta ini.

Ghina lalu, menggelengkan kepala. Jadi …. Linda langsung menimpali. Ya aku memiliki rasa yang sama. Rasa yang mengesensikan suatu ungkapan bathin akan kedalaman makna cinta itu sendiri. Suatu rasa yang jujur harus saya katakan, baru pertama kali ini aku rasakan.

Mereka Menyatu dalam Samudera Cinta

Saat kalimat-kalimat yang disampaikan Ghina dan Linda cukup keras, kondisi Yanti sudah mulai membaik. Ia ikut nimbrung duduk di kursi di mana Linda dan Ghina bercengkrama. Ketiganya akhirnya, menyampaikan suatu rasa cinta misteri yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Cinta mengagungkan yang hadir di saat keagungan itu tak lagi menjadi kuasa mereka. Waktu yang juga tidak berpihak kepada mereka yang mencintainya. By. Charly Siera –bersambung.

Komentar
Memuat...