Inspirasi Tanpa Batas

“Cinta” Solusi Atas Keterasingan Manusia

0 49

Menebas terali terkurung api
Terlahir telanjang tanpa senjata
Meradang meluka dirantai dogma
Memanggil badai runtuhkan kekang
(Belati Tuhan – Superman Is Dead)

Hakikatnya manusia terlahir sebagi individu dan kembali sebagai individu dengan segala batasannya. Ketika terlahir ke dunia, manusia keluar dari batasan dan mulai memasuki situasi yang tidak pasti, bebas dan tanpa batas yaitu kehidupan, alam raya dengan segala dialektikanya. Tetapi dalam memasuki situasi yang bebas ini manusia dianugrahi rasio yang membedakannya dengan makhluk lain, dari rasio itu manusia mampu berfikir tentang dirinya dan tentang segala hal diluar dirinya. Buah fikiran itu yang membuat manusia sadar akan diri sendiri sebagai entitas yang terpisah, sadar akan kebutuhan hidupnya; (material dan imaterial) dan sadar bahwa ia terlahir dan akan menemui kematian. Kesadaran akan diri sebagai entitas yang terpisah (kesendirian) dan keterpisahan ini yang akan menjadi penjara bagi manusia dan ia akan merasakan ketidakberdayaannya dalam berdialektika dengan alam, masyarakat dan hal diluar dirinya.

Menurut Erich Fromm seorang psikoanalisis dari madzhab Frankfurt mengatakan bahwa manusia itu teralienasi atau terasing. Karena itu, manusia merasakan kesepian dan terasingkan dan itulah sumber dari segala kegelisahan. Terasing berarti terpisah, karena terpisah ia tidak ada kemampuan untuk menggunakan potensi manusia. Dengan demikian, terpisah berarti tidak berdaya dalam memahami dunia, benda dan sesamanya secara aktif; itu berarti bahwa dunia dan seisinya telah menyergap manusia tanpa kemampuan untuk memberi reaksi (Erich From, 2005: 11).

Dengan keadaan seperti inilah kita (manusia) tengah terjerat dalam pasungan zaman. Sebagian dari manusia bahkan mungkin kita tidak mampu mengatasi keterasingan. Kegagalan mengatasi keterasingan ini yang pada akhirnya menarik kita lari dari dari kebebasan yang ditawarkan alam raya atau menjalani kehidupan di dunia dengan penuh kebohongan, kedurjanaan, saling menikam dan menhabisi satu sama lain. Erich Fromm menawarkan solusi untuk kita dalam mengatasi ketrasingan ini yaitu dengan “cinta” tetapi cinta yang ditawarkan Fromm bukan cinta dengan pemahaman naif yang haya berorientasi pada kepuasan hubungan laki-laki dan perempuan dengan pembawaan yang melangkolis. Menurut Fromm kita harus menyadari bahwa cinta tidak senaif itu tetapi cinta adalah seni, sama halnya hidup juga merupakan seni.

Jika kita ingin belajar bagaimana mencintai. Maka, kita harus melakukan cara yang sama dengann cara yang harus dilakukan dalam mempelajari seni. Seperti seni musik, seni lukis atau seni rekayasa. Karena cinta adalah seni maka cintapun harus diperjuangkan dan dirawat, sama halnya sepeti kita mencintai seni musik kita akan terus memeprjuangaknnya dengan cara belajar memahami segala sesuatu yang berkaitan dengan musik dan akan terus merawatnya dengan cara menjaga dan melatih titi nada dan kemampuan dalam memainkannya. Semakin musik diperjuangkan dan dirawat maka ia akan semakin menamakan keindahannya dan si pemain akan menyatu dengan alunannya begitupun dengan cinta semakin kita rawat dan perjuangkan semakin nampak keselarasa, keharmonisan dan penyatuan individu manusia dengan manusia lainnya.

Cinta adalah dua di dalam satu dan pada pengalamannya cinta mengajak manusia untuk berkata dan menyakini bahwa kita semua adalah satu, kita berbeda ras tapi kita satu,kita berbeda suku tetapi kita satu,kita berbeda budaya tetapi kita satu,dan perbedaan perbaedaan yang lain tetapi kita satu, keyakinan seperti inilah yang akan mengeluarkan kita dari penjara keterasingan dan akan merobohkan tembok yang bernama keterpisahan semua perbedaan dan pemisahan tidaklah penting dibandingkan dengan identitas inti bahwa kita adalah manusia. Cinta inilah yang dimaksud Erich From dengan istilah cinta sesama yang didasari dengan rasa tanggung jawab, kepedulian, respek dan pemahaman terhadap manusia lain, sesuai dengan ajaran agama: cintailah sesamamu seperti kamu mencintai dirimu sendiri.

Ayo bangun dunia di dalam perbedaan

Jika satu tetap kuat kita bersinar

Harus percaya tak ada yang sempurna

Dan dunia kembali tertawa

Jabat erat tanganku kawan

Kau tak akan pernah sendiri

Hancurkan dendam dengan cinta di dada

Untuk semua manusia

(Kuat Kita Bersinar – Superman Is Dead)


fajar-rahmawan-2Tentang Penulis

Fajar Rahmawan, lahir pada tanggal 22 Februari 1995. Mahasiswa Fakultas ADADIN IAIN Syeh Nurjati Cirebon ini lebih dikenal sebagai seorang pendiam dan dingin, namun dibalik semua itu ia sosok petualang hebat, baik di akademik maupun di non akademik. Tercatat banyak sekali organisasi yang ia ikuti saat ini. Dari hoby membacanya membawa ia pada hoby baru yaitu menulis, Lyceum Indonesia sendiri telah menerbitkan beberapa artikel karyanya.

Komentar
Memuat...