Cirebon Daerah Wulan tan Ana Mega yang Dinamis

0 23

CIREBON rupanya telah digariskan sebagai daerah yang dinamis. Selera seni masyarakatnya yang selalu berubah, sehingga melahirkan pula berbagai bentuk kesenian yang berubah-ubah dari masa ke masa. Hampir semua bentuk kesenian yang ada di daerah itu merupakan hasil serapan dari daerah lain.

Wayang kulit, misalnya berasal dari Jawa, tari topeng Panji telah ada sejak masa Kerajaan Kediri di Jawa Timur. Karena itu hamparan wilayah ini disebut sebagai “Bulan tanpa awan”. Atau dalam bahasa Cirebon disebut sebagai “wulan tan ana mega”. Pernyataan ini dimaknai sebagai “bulan” yang hanya memiliki sumber cahaya dari pantulan matahari.

Namun dalam pandangan Mattew Isaac Cohen, Lektor Seni Pertunjukan pada Universitas Glasgow Inggris (2000). Cirebon didefinisikan sebagai wilayah budaya yang terdiri dari hamparan daerah Pantai Utara Jawa dari Cilamaya di barat dan ke Brebes di timur.

Ditandai dengan dialek tertentu dari Jawa (Jawa Cirebon), sebuah tradisi sejarah bersama berputar di sekitar sebuah kesultanan Islam yang didirikan pada abad ke-15 dan ada sampai saat ini, dengan adat istiadat yang khas. Termasuk populasi besar di Kabupaten Karawang, Subang, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Cirebon, dan Brebes, dan Kota Cirebon.

Wilayah kultural berbatasan dengan dataran tinggi Sunda di sebelah selatan. Daerah Betawi di sebelah barat, dan orang Cirebon menyebut ‘Jawa Tengah’ ke timur sebagai “wong wetan” (masyarakat budaya berorientasi pada istana Yogyakarta dan Surakarta sebagai standar -penjaga untuk segala sesuatu yang berbau Jawa).

Perbedaan Cirebon Dengan Jawa

Di sini Cirebon menunjukkan perbedaannya dengan Jawa. Jika punakawan wayang Jawa hanya memiliki empat tokoh, seperti Semar, Bagong, Petruk dan Gareng. “Cirebon memiliki sembilan badut,” kata Cohen ketika mendalang di Keraton Kacirebonan beberapawaktu lalu..

“Ada sembilan badut utama pada wayang kulit Cirebon. Di samping Semar, tujuh anak dan cucu, seperti Bagal Buntung, Bagong, Bitarota, Ceblok, Cungkring, Duwala, Gareng dan Curis yang lazim dikenal sebagai Sekar Pandan. Ditambah isteri Semar, Nyai Sutiragen.”

Jumlah Sembilan ini, kata budayawan Made Casta, merujuk pada jumlah penyebar agama Islam di Jawa, walisanga. Suatu penegasan, bahwa Cirebon berbeda dengan Jawa dan memiliki kekhasan tersendiri. Perubahan selera dalam pertunjukan wayang kulit, menurut penelitian Cohen, sudah mulai terasa sejak abad ke-19.

Minat Pertunjukan Wayang Kulit Berkurang

Minat dalam pertunjukan wayang kulit di kalangan kerajaan Cirebon berkurang. Karena keterbatasan keuangan, penurunan tradisi Jawa dan kebangkitan pendidikan Barat modern, dan daya tarik modern Eropa dalam seni. Seperti keterkaitan, antara elit Cirebon, yang sebagian besar tinggal di daerah itu.

Sebaliknya, wayang kulit di daerah-daerah pedalaman agraris yang padat penduduk. Seperti desa nelayan, dan kota-kota kecil dari dataran pantai tetap sangat penting. Pertunjukan terjadi bersamaan dengan perayaan ritus “perubahan status”, seperti khitanan dan pernikahan serta acara umum seperti festival panen (mapag sri), upacara bersih desa, peringatan leluhur di kuburan (khaul), dan syukuran kalangan nelayan (nadran).

Ada desa-desa, bahkan dengan persaingan media modern saat ini (televisi, radio, video dan CD), 20 atau 30 pertunjukan wayang kulit yang dipentaskan setiap tahun. Rakyat yang lebih tua mengatakan, bahwa di musim pertunjukan (Maret-November) pada masa lalu, suara wayang kulit dalam kinerja terdengar setiap malam di beberapa tempat.

Pertunjukan Wayang Kulit dalam Perubahan Status (Ritus)

Sebaliknya, wayang kulit di daerah-daerah pedalaman agraris yang padat penduduk, seperti desa nelayan, dan kota-kota kecil dari dataran pantai tetap sangat penting. Pertunjukan terjadi bersamaan dengan perayaan ritus “perubahan status”, seperti khitanan dan pernikahan serta acara umum seperti festival panen (mapag sri), upacara bersih desa, peringatan leluhur di kuburan (khaul), dan syukuran kalangan nelayan (nadran).

Ada desa-desa, bahkan dengan persaingan media modern saat ini (televisi, radio, video dan CD), 20 atau 30 pertunjukan wayang kulit yang dipentaskan setiap tahun. Rakyat yang lebih tua mengatakan, bahwa di musim pertunjukan (Maret-November) pada masa lalu, suara wayang kulit dalam kinerja terdengar setiap malam di beberapa tempat.** (Nurdi M Noer)

Komentar
Memuat...