Take a fresh look at your lifestyle.

Simbol dan Karakter Masyarakat Cirebon Yang Terbuka

1 578

Konten Sponsor

BISA jadi kegemaran terhadap masalah mistik bagi wong Cerbon telah menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari. Malah kegemaran yang satu ini seringkali jadi mainan saat iseng pada acara santai di malam bulan purnama. Menggelar acara sintrenan yang biasa dilakukan anak-anak remaja di perdesaan, sudah jadi kebiasaan keseharian yang tak bisa dilepaskan begitu saja.

Meski demikian, pandangan mistis ini tidak terjadi pada masyarakat Cirebon secara keseluruhan pada masa kini. Kegiatan mistis hanya bertahan pada pusat-pusat kebudayaan masa lalu yang kini masih hidup. Di lingkungan makam keramat, pesantren, keraton, perguruan-perguruan silat tradisional  dan tempat-tempat lain yang “eksklusif” sifatnya.

Karakter manusia Cirebon yang digambarkan Abdurachman (1999) sebagai orang yang bersifat pendiam dan ngambek, tampaknya lebih diarahkan pada sikap pribadi masing-masing wong Cerbon. Artinya, bukan merupakan karakter bagi masyarakat Cirebon secara umum. Atau mungkin yang digambarkan tadi merupakan hasil bentukan dari sikap masyarakat lain di luar Cirebon.

Mereka hanya memandang Cirebon dari permukaannya saja tanpa harus mendalami karakteristik yang sesungguhnya ada. Anggapan mereka yang menyatakan bahwa wong Cerbon berperangai ”kasar” ketimbang wong Jawa atau urang Sunda, tidak menjadi jaminan mereka terbilang masyarakat yang mudah ngambek. Malah, mereka lebih bersikap santai dan terbuka terhadap siapapun.

Dialek bahasa Cirebon yang terdengar kasar agaknya tak bisa diidentikkan dengan nurani mereka yang kasar dan mudah tersinggung. Pada penerapan kata “kirik” misalnya, yang berarti anjing berarti denotatif (berkaitan dengan notasi, pen), seringkali menjadi dialektika keakraban antar-kawan. Bisa dibayangkan, betapa tersinggung dan ngambeknya orang Jawa maupun Sunda. Tentu, terutama pada mereka tak sederajat status sosial maupun umurnya –  jika kata itu dilontarkan kepada mereka.

Masyarakat yang Terbuka

Pada seni tarling, dialektika keterbukaan lebih banyak digambarkan, baik ditinjau dari runtut latarbelakang sejarahnya. Kesenian ini dianggap sebagai bentuk seni yang tak patuh pada tradisinya. Ia selalu berubah dari masa ke masa sejak kelahirannya sekitar tahun 1950-an.

Kesenian yang semula patuh pada dua alat musik, gitar dan suling tersebut berubah menjadi tontonan panggung yang bergairah sejak tahun 1967-an. Namanya pun berganti dengan “Melodi Kota Udang”. Nama itu secara pelahan menghapus kesan, bahwa tarling tidak hanya melantunkan lagu-lagu kiseran melankolis yang dipelopori Jayana (almarhum).

Namun, ketika musik dangdut mengintervensi tarling, ia secara pelahan dan mungkin dilakukan tanpa sadar berubah gelar menjadi “tarling dangdut”. Bahkan, ketika  tari jaipongan dari tatar Sunda melakukan intervensi secara besar-besaran, tak sedikit grup tarling yang menyuguhkan jaipongan pada setiap pergelarannya.

Kesenian lain yang memberi warna keterbukaan adalah tonil. Ketika teater modern semacam Dardanela mulai dikenalkan masyarakat Indonesia pada awal 1900an, Cirebon pun kemasukan roh dari teater tersebut. Lahirnya teater rakyat Cirebonan yang dikenal dengan nama “sandiwara” yang kemudian beralih sebutan menjadi “masres” itu kini telah diklaim sebagai kesenian khas Cirebon.

Simbol-simbol

Simbol dan Karakter Masyarakat Cirebon Yang Terbuka
Keraton Kasepuhan Cirebon

Menyingkap latar belakang Cirebon memang tak bisa lepas begitu saja dengan kebudayaan Sunda. Dalam Cerbon (SH – 1982) dinyatakan, ada kemungkinan, bahwa Sunda adalah nama untuk Jawa Barat, yang mungkin terdiri dari beberapa kerajaan. Baik di pantai utara maupun daerah pegunungan yang dinamakan Parahyangan (tempat tinggal para dewa). Catatan-catatan Cina juga menyebut Sin-to (Sunda) sebagai satu negara yang ada di bawah kekuasaan Sriwijaya (Sumatera) yang terkenal akan ladanya.

Pada bagian lain dalam buku itu dinyatakan, ibukota Sunda telah ada di dekat Bogor (kini), diketahui dengan ditemukannya sebuah prasasti batu yang bertanggal 1333 Masehi menyatakan, didirikannya Pakuan Pajajaran oleh Sri Baduga Maharaja. Raja ini agaknya keturunan dari raja-raja Galuh, satu daerah di sebelah selatan Cirebon dan bagian dari Parahiyangan. Menurut anggapan masyarakat setempat, Cirebon bagian dari Galuh. Daerah lain yang masuk kawasan Sunda adalah Cimanuk. Daerah sungai Cimanuk yang mengalir dari selatan ke arah Laut Jawa.

Dalam legenda masyarakat Cirebon yang populer, pelarian dua orang anak Raja Pajajaran, Pangeran Walangsungsang dan Nyai Mas Rarasantang turut andil dalam membentuk kelahiran kebudayaan Cirebon pada masa lalu. Ada anggapan, kedua putera raja itu tak sempat mengembangkan bahasa bawaannya lantaran mereka lama berguru pada Syekh Datil Kahfi di Amparanjati, sehingga melupakan bahasa daerahnya.

Malah dalam berbagai kitab kuno yang ditulis kalangan sastrawan keraton Cirebon sekira abad ke-16, hampir tidak terdapat kosakata Sunda. Ini bisa dilihat pada kitab-kitab Carita Purwaka Caruban Nagari (Pangeran Arya Carbon, 1720 M), Pustaka Nagara Kretabhumi (1669 M), Leageasta, dan catatan-catatan buku peteng  yang terdapat di berbagai Keraton Cirebon, seperti Sajarah Carub Kanda Carang Satus,  Carang Sewu, Carang Seket dan carang-carang lainnya.

Arsitektur Gua Sunyaragi dan Keraton; Simbol Lain Karakter Masyarakat Cirebon

Gua Sunyaragi
Litografi oleh F. C. Wilsen yang menggambarkan gua Sunyaragi (tahun 1865-1876)

Simbol lain yang lebih menyatakan karakter masyarakat Cirebon bisa dilihat dari bentuk arsitektur Gua Sunyaragi dan keraton-keraton yang ada di Cirebon. Wadasan yang telah jadi ciri bangunan Gua Sunyaragi merupakan bentukan seni arsitektur yang terdiri dari susunan batu- batu cadas yang keras. Bentuk wadasan tersebut kini telah jadi motif khas batik Cirebon.

Secara geografis, sangat memungkinkan daerah Cirebon pada masa lalu merupakan gudang batu cadas. Di samping Sunyaragi, bisa juga dilihat pada puing-puing reruntuhan Keraton Pakungwati di sebelah timur dalem agung Keraton Kasepuhan. Masyarakat setempat menyatakannya sebagai simbol kekuasaan batin yang tak tergoyahkan.

Atos kaya watu cadas. Perwatakan ini bisa dilihat dari percaturan hidup masyarakat sehari-hari. Mereka lebih lugas ketimbang tetangganya orang Jawa maupun Sunda. Namun perlu diingat, di samping wadasan masih ada simbol lain yang bermakna kelembutan dan keluwesan.

Simbol dimaksud adalah kembang terate. Simbol ini banyak tertuang pada bentuk lukisan maupun patung-patung yang terdapat pada dinding keraton maupun Gua Sunyaragi. Bunga teratai yang lebih bermakna  falsafi diartikan sebagai manusia Cerbon yang bisa hidup dan berkembang. Meski, dengan topangan sumberdaya alam berupa air yang sangat sedikit.

Dari kebanggaan- kebanggan itulah jagat mereka dinyatakan sebagai pusering bhumi. Negara yang berada di tengah dunia. Atau sebagai lambang peradaban di Tatar Sunda. Kebanggan diri yang cenderung berlebihan inilah barangkali dikonotasikan sementara pengamatan kecerbonan sebagai introvert.

Namun perlu pula diingat, kebanggaan- kebanggan diri itu pun tidak hanya terjadi di Cirebon, tetapi juga pada bangsa-bangsa lainnya. Cina misalnya yang menyebut dirinya sebagai Tiongkok juga berarti pusering bhumi. Suatu bangsa yang berdiri megah di tengah- tengah dunia dan menganggap dirinya sebagai pusat peradaban.

Demikian pula Jerman, yang melambangkan manusianya sebagai bangsa Aria yang lebih unggul ketimbang bangsa-bangsa lainnya. Atau, bangsa India yang dalam Ramayana merupakan superpower dan “polisi dunia”, sehingga mereka harus mengenyahkan Rahwana dari Alengkadirja yang dianggap sebagai bangsa yang masih biadab. ***

Oleh NURDIN M. NOER

Wartawan senior, pemerhati kebudayaan lokal

Rujukan :

  • Abdurachman, Paramita R , Cerbon, Sinar Harapan 1982.
  • Arya, Carbon PangeranPurwaka Caruban Nagari (1720),  terjemahan TD Sudjana (tanpa tahun).
  • Noer, Nurdin M, Menusa Cerbon, Disbudpar Kota Cirebon, 2012.