Ciri Berpikir Filsafat | Filsafat Ilmu Part – 2

Ciri Berpikir Filsafat | Filsafat Ilmu Part - 2
0 17.686

Berfilsafat berarti berpikir. Meski tidak sernua aktivitas berpikir dapat disebut berfilsafat. Oleh karena itu, butuh ciri dan butuh karakter tertentu dalam berpikir filsafat. Dengan demikian, suatu kerangka berpikir tertentu, baru disebut berfilsafat apabila memenuhi tiga ciri ini. Ketiga ciri dimaksud adalah:

Radikal

Radik (radix/Yunani) yang berarti akar/Indonesia. Berpikir radikal artinya berpikir sampai ke akar-akar persoalan. Berpikir terhadap sesuatu dalam bingkai yang tidak tanggung-tanggung, tidak ada sesuatu yang terlarang untuk dipikirkan. Asumsi yang menyebut bahwa, “Pikirkanlah ciptaan Tuhan dan jangan memikirkan Dzat Tuhan”, yang mengandung pembatasan dalam melakukan kerja berpikir, termasuk tidak dalam posisi cara berpikir kefilsafatan.

Ciri berpikir kefilsafatan, segala sesuatu boleh dipikirkan, tentu sepanjang pemikiran itu, masih memungkinkan untuk dipikirkan. Contoh, seorang filosof selalu meragukan dan selalu memberikan pertanyaan terhadap kebenaran atau pengetahuan yang diperolehnya. Misalnya, ia mempertanyakan mengapa ilmu dapat disebut benar? Bagaimana proses penilaian yang menghasilkan simpulan benar-salah itu dilakukan berdasarkan kriteria tersebut? Apakah sesuatu yang dianggap benar menurut kriteria sendiri atau ada orang lain yang memiliki kriteria yang sama? Lalu benar sendiri itu apa? Pertanyaan selalu muncul seperti sebuah lingkaran. Artinya pertanyaan-pertanyaan akan selalu muncul secara berkelindan.

Sistemik

Sistemik adalah berpikir logis, yang bergerak selangkah demi selangkah (step by step), penuh kesadaran, berurutan dan penuh rasa tanggungjawab. Ciri ini penting dilakukan untuk menghindari terjadinya jumping conclusion dalam membuat rumusan suatu kesimpulan. Seorang filosof slalu berpikir setahap demiki setahap. setelah satu tahapan diselesaikan, ia akan menuju ke tahap berikutnya.

Universal

Universal artinya berpikir menyeluruh, tidak terbatas pada bagian-bagian ter ten tip tetapi mencakup keseluruhan aspek, yang konkret dan abstrak atau yang fisik dan metafisik. Misalnya, seorang filosof tidak akan pernah puas mengenal ilmu hanya dari perspektif ilmu itu sendiri. la ingin melihat ilmu dalam perspektif yang lain, la ingin menghubungkan ilmu dengan aspek-aspek lain. Contohnya ia ingin melihat kaitan ilmu dengan moral atau kaitan ilmu dengan agama. la ingin mengetahui apakah ilmu yang diketahuinya itu membawa manfaat atau tidak bagi pemenuhan hajat umat manusia.

Spekulatif

Sifat berpikir spekulatif atau mengandung unsur dugaan atas fakta atau realitas yang dihadapi. Seorang filosof termasuk selalu berspekulasi terhadap kebenaran. Karena filosof memiliki cara berpikir yang spekulatif, maka seorang filosof terus melakukan uji coba dan memberikan pertanyaan terhadap kebenaran yang dianutnya. Dari proses inilah nanti akan lahir berbagai ilmu pengetahuan. ** Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...