Ciri dan Karakteristik Nalar | Epistemology Part – 10

0 110

Karakteristik Nalar. Apa ciri penting, sehingga seseorang layak disebut telah melakukan penalaran? Ternyata, ciri penalaran ada dua, yakni:Ai?? Logik dan Analitik. Pertanyaannya, apa itu logik dan apa makna analitik. Logik sering disebut dengan konsistensi berpikir. Ukuran konsistensi dilakukan dengan menggunakan pola tertentu. Ketidakkonsistenan dalam penggunaan alur berpikir, dapat menyebabkan kegiatan dimaksud untuk disebut tidak logik.

DalamAi??English Dictionary, logik diterjemahkan denganAi??cara berpikir tertentu, terutama yang masuk akal dan sebelumnya dilakukan pengujian yang baik. Penilaian baik di sini, menyimpulkan bahwa dia telah bertindak benar berdasarkan kata atau konsep yang digunakan untuk mengekspresikan sesuatu yang dianggapnya benar. Akibatnya, penyangkalan atas argumen yang disampaikan siapapun kepadanya akan menjadi kehilangan makna.

Sedangkan analitik adalah kegiatan berpikir yang menyandarkan diri kepada logika ilmiah dengan menggunakan langkah-langkah tertentu dalam bingkai ilmu. Kegiatan analitik umumnya dilakukan melalui cara pemeriksaan ata berbagai hal yang dia temuka dengan cara yang sangat hati-hati.

Mengapa Penting

Kenapa pesoalan logik dan analitik ini menjadi penting dalam konteks penalaran? Sebab banyak kegiatan berpikir yang tidak menggunakan alur logika dan kerangka analitis. Kegiatan berpikir yang menggunakan intuisi, misalnya, meskipun sangat mungkin memperoleh kebenaran, lazirn dalam dunia mistik, harus disebut sebagai kegiatan penalaran yang non analitik.

Mengapa? Sebab ia dihasilkan oleh rasa dan karsa. Intuisi dalam konteks ini, sama sekali tidak menggunakan alur analitik. Oleh karena itu, hasil yang disimpulkannya tidak dapat disebut sebagai hasil penalaran.

Hasbullah M. Bakry (1981) menyebut bahwa secara praksis, penalaran dibentuk oleh tiga tahap, yaitu: pengertian (konsep), proposisi dan kenyataan. Tidak akan ada proposisi tanpa pengertian, dan tidak ada penalaran tanpa proposisi. Penalaran dalam analisa ini, selalu berlangsung dalam tiga tahap tadi. Penatahapan itu bersipat sistematis dan tidak jigjag.

Tiga bentuk tahap pemikiran sebagaimana telah dijelaskan di atas harus dilakukan siapapun yang hendak memahami dan melakukan penalaran. Tanpa melalui proses tiga tahap tadi, manusia tidak mungkin memperoleh dan menghasilkan penalaran, atau cara berpikirnya tidak layak disebut melakukan penalaran.

Penalaran di Antara Term dan Proposisi

Contoh sederhana adalah: Pada suatu ketika kami bertiga sedang diskusi. Misalnya yang sedang diskusi itu adalah saya, matanya bagus dan otaknya encer, tapi telinganya kurang bagus, Kasdar, matanya kurang bagus, telinganya bagus dan otaknya encer, dan Nanan Abdul Manan mata dan telinganya bagus, tapi otaknya kurang encer. Pada saat kami diskusi tiba ada kucing lewat. Mata melihat ada kucing, melihat warna putih atau hitam pada kucing dan sementara telinga mendengar suara kucing mengeong.

Dalam posisi indra (mata dan telinga) yang sedang menyaksikan dan mendengarkan suara kucing itu, di dalamnya pasti terjadi aktivitas berpikir. Aktivitas itu, membentuk pengertian. Sehingga dalam otak kami masing-masing akan tergambar terkait dengan kucing. Tetapi, gambaran kami tentang kucing tadi, pasti akan berbeda satu sarna lain. Saya yang matanya bagus akan lebih menekankan pada warna kucing, tidak pada mengeongnya kucing. Sementara Kasdar lebih menekankan pada suara kucing yang mengeong, dan Nanan Abdul Manan tidak pada apapun yang terjadi pada kucing.

Dalam konteks penalaran tadi, kami yang sedang melihat dan mendengar kucing itu akan tergambar kata: “kucing”, “putih” dan “mengeong”. Kata kucing, putih dan mengeong dalam istilah penalaran disebut dengan konsep yang sebelumnya berjalan dari rumus proposisi dan kenyataan. Setelah pengertian dan konsep tersusun dalam imajinasi berfikir, manusia kemudian menyerap dan mengucapkannya. Ucapan yang terlontar berdasarkan hasil berpikir tadi, disebut penalaran yang ujarannya menjadi “Kucing putih atau hitam mengeong saat kami bertiga berdikusi”.

Memaknai Penalaran

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pengertian adalah data empirik karena ia berasal dari pengalaman empirik yang bersipat faktual. Namun demikian, ada juga ilmuan dan ahli filsafat yang menyebutkan bahwa, pengertian, lahir sebagai data psikologi karena terbentuk melalui proses pengamatan indrawi. Lambang pengertian dalam bahasa adalah kata atau term.

Setelah terbentuk pengertian yang terlambangkan dengan kata (term) “kucing”, “putih” dan “mengeong”, otak manusia kemudian merangkaikan term-term itu ke dalam pengertian yang berdiri sendiri dalam pikiran. Rangkaian pengertian itu, dalam filsafat ilmu disebut sebagai proposisi. Jika pengertian dan lambang bahasa adalah term, maka dalam proposisi lambang bahasanya adalah kalimat berita.

Proses pembentukan proposisi itu sendiri berlangsung dalam dua cara. Pertama,Ai??proposisi terjadi begitu rupa. Ada pengertian yang menerangkan pengertian lain atau ada pengertian yang diingkari dengan pengertian lain. Misalnya, kucing putih itu mengeong. Kalau dalam proses perangkaian itu terjadi pengingkaran, maka proposisi yang terbentuk adalah menjadi: “kucing” “putih tidak mengeong”. Kedua, dalam proses pembentukan proposisi itu terjadi dua pengakuan yang satu sama lain saling bertentangan tergantung pada kekuatan potensi masing- masing. Misalnya, kucing putih itu mengeong atau kucing itu tidak mengeong (Lihat R.G. Soekadijo, 1994).

Contoh proposisi di atas akan sangat tergantung pada hasil observasi yang dapat diuji kecocokannya dengan indera. Benar atau tidaknya fakta akan sangat tergantung dari cara dan alat yang digunakan untuk mengadakan observasi. Misalnya, kucing dapat disebut mengeong apabila kucing itu benar-benar mengeong dan didengar oleh mereka yang telinganya dapat mendengar. Oleh karena itu, sekalipun kucing itu mengeong, tetapi indera telinga manusia tidak dapat mendengar, maka orang yang menyaksikan kucing itu tidak dapat memberi keterangan tentang mengeongnya kucing.

Narnun demikian, harus juga diakui bahwa ada proposisi yang benar atau salahnya dapat langsung tampak kepada pikiran dan harus pula diterimanya. Contohnya, Saudari Lesy adalah Janda. Kata janda tidak lagi hanya proposisi, tetapi ia telah menjadi konsep karena saudari Lesy memang pernah menikah dan sekarang ia tidak memiliki suami. Proposisi yang demikian disebut dengan proposisi mutlak.

Setelah pembentukan proposisi yang dihasilkan dari proses berpikir dengan titik tolak pengamatan indera/observasi empirik yang menghasilkan pengertian berlangsung, maka dalam proses selanjutnya, seseorang dapat menyusun proposisi-proposisi itu ke dalam bentuk penalaran.

Mengukur Kebenaran Penalaran

Tepat atau tidaknya penalaran seseorang terhadap hasil observasinya, akan sangat ditentukan oleh pengalaman inderawinya dan juga tergantung pada tepat atau tidaknya seseorang itu memanfaatkan pengalamannya. Benar atau salahnya pengertian seseorang tidak terletak pada persoalan mind (pildran), tetapi murni pada persoalan fisik/indera.

Dengan demikian, jika contoh tadi diteruskan, maka hasil penalaran yang menyebutkan bahwa kucing putih sedang mengeong, akan sangat tergantung pada ketajaman pendengaran dan ketajaman penglihatan seseorang. Orang yang matanya rabun tentu akan berbeda dalam memberikan sifat terhadap warna kucing, Begitupun pada mereka yang pendengarannya kurang baik. Ia pasti setidaknya ragu bahwa kucing tersebut pernah mengeong karena pendengarannya sangat samar. Minimal ia ragu bahwa kucing yang dilihatanya itu mengeong,

Contoh lain, dapat dibaca misalnya dalam tulisan Jujun S. Suria Sumantri. Ia merumuskan suatu penalaran sebagai berikut: logam satu dipanaskan kemudian ternyata logam itu memuai. Logam dua dan logam tiga juga sama dipanaskan, hasilnya memuai juga. Logam yang ke empat sampai dengan logam yang ke sepuluh dipanaskan, hasilnya memuai juga. Proposisi logam satu sampai dengan logam yang ke sepuluh, jika dipanaskan dapat menghasilkan penalaran yang tersusun dalam kalimat: Semua logam yang dipanasi akan memuai. Dalam logika penalaran, proposisi-proposisi yang menjadi dasar penyimpulan disebut premis, kesimpulannya sendiri disebut konklusi dan di antara premis dan konklusi ada hubungan tertentu, ada chanel tertentu yang disebut konsekwensi.

Masalah yang kemudian muncul, apa sumbangan kongkret konsep penalaran bagi mereka yang mengikuti studi di lingkungan Pergunian Tinggi Agama dan bidang kajian sosial lainnya. Menurut saya, persoalan penalaran penting untuk dikaji lebih lanjut, karena model ini menawarkan sebuah kebenaran relative dalam memahami berbagai hasil dan sisi kehidupan. Pun dalam soal yang diamalkan dalam syari’at agama. Berdasarkan teori ini, soal-soal yang dianggap tuntas dalam bidang agama juga sama. Kesamaannya terletak pada kemungkinan lahimya kebenaran relative.

Studi Kasus dalam Bidang Agama

Contoh Nabi Muhamamad menyatakan bahwa, “shalatlah knmu sebagaimana aku melaksarnikannya”.Ai?? Dalam term ini atau dalam proposisi ini, shalat yang benar adalah shalat yang sesuai dengan apa yang diajarkan dan dilakukan Nabi. Tetapi, apakah fakta empiris umat Islam menunjukkan demikian? Jawabannya ternyata tidak selalu! Dalam kehidupan sosial, masyarakat Muslim dalam menjalankan shalatnya, bukan saja bebeda dalam bacaan seperti pada do’a iftitah dan attahiyat, dalam soal yang sangat sederhana sekalipun, seperti cara mengangkat tangan waktu takbir dan beri- tasyahud, umat Islam teryata berbeda melaksanakannya.

Dalam bacaan iftitah setidaknya ditemukan tiga persfektif. Ada yang Allahu akbar kabira dan seterusnya …. Inni wajjahtu wajhiya dan seterusnya dan Allahuma ba’id baini dan seterusnya Mana yang benar di antara berbagai perbedaan tadi? Dapatkah seseorang atau sekelompok orang menyatakan pendapatnya atau perbuatannya paling benar.

Jawabannya tentu tidak! Sebab kebenaran yang dianut masing-masing pendapat tadi, dibatasi oleh sajauh mana dan alat apa yang dipakainya sehingga ia dapat melihat dan ia dapat mendengar. Jadi meskipun Nabi menyuruh umatnya untuk shalat sarna seperti Nabi, tetapi fakta menunjukkan bahwa setiap sahabat Nabi memiliki keterbatasan-kelerbatasan manusiawi, baik dalam pendengaran, penerlihatan, merasa dan memikirkan apa yang disampaikan dan dilihat dari Nabi.

Sehingga agak aneh kalau ada orang yang begitu yakin terhadap apa yang dilihatnya, dirasanya dan dipikirkannya sebagai sesuatu yang benar, meski sikap tadi harus ditempuh pada sesuatu yang dianggap pasti. Prof. Cecep Sumarna –bersambung

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.